Pedestrian yang Ramah

Jika kita berjalan kaki melalui trotoar kota Bandung saat ini, ada banyak perubahan yang terlihat. Di beberapa tempat jalur pedestriannya (jalur pejalan kaki) dibuat lebih lapang dan nyaman. Memang belum semua jalan ada jalur pedestrian -sebagian besar masih berupa trotoar sempit atau bahkan tanpa trotoar- tetapi memiliki jalur pejalan kaki yang ramah, nyaman, dan aman, mungkin Bandung sudah mempeloporinya.

Ramah artinya jalur pedestrian tersebut tidak hanya untuk orang yang normal saja, tetapi penyandang cacat dan pengguna kursi roda juga dapat menikmatinya tanpa takut jatuh atau tergelincir.

Coba lewati pedsterian di Jalan R.E Martadinata (meskipun berganti nama tetap dikenal dengan nama Jalan Riau). Jalurnya lebar-lebar dan nyaman. Setiap beberapa meter terdapat bangku antik  untuk duduk-duduk jika anda lelah berjalan kaki atau sekedar cuci mata. Bola-bola batu dari semen berukuran besar berjajar di depan untuk mempercantik pedestrian.

 

pedestrian

Pedesterian di Jalan Riau, Bandung

Jalur pedestrian ini ramah bagi penyandang tuna netra. Coba perhatikan jalur berwarna kuning di tengahnya, itu adalah jalur khusus bagi tuna netra untuk membantunya menentukan arah dan posisi. Dengan meraba jalur kuning menggunakan tongkatnya, penyandang tuna netra dapat berjalan sendiri tanpa perlu dipandu. Jalur kuning ini memanjang dari barat ke timur sepanjang pedestrian.

Jalur kuning  bagi tuna netra tidak hanya ada di pedestrian lebar seperti di atas, tetapi di berbagai sudut kota Bandung jalur kuning juga dipasang pada beberapa trotoar kecil hingga ke jalan-jalan di pemukiman. Di trotoar Jalan Ganesha di depan kampus ITB, anda akan menemukan jalur kuning tersebut. Di jalan-jalan di pemukiman Antapani saya juga menemukan jalur kuning itu pada beberapa trotoar (Jalan Cibatu Raya, Jalan di depan Lapangan Gasmin).

Saya belum menemukan jalur kuning itu di kota-kota lain, bahkan di Jakarta pun saya belum pernah melihatnya (CMIIW).

Selain ramah bagi tuna netra, jalur pedestrian pada gambar di atas juga aman dan ramah bagi pengguna kursi roda. Hal ini karena sepanjang jalur pedestrian itu relatif datar, tidak naik turun ketika bertemu dengan jalan menuju pintu masuk gedung atau rumah di sepanjang jalan itu. Bagian yang menghadap jalan menuju pintu rumah/gedung dibuat hampir sama tinggi dengan trotoar sehingga tidak menyulitkan pengguna kursi roda. Bagi anda yang membawa koper yang pakai roda juga tidak perlu naik turun. Saya ingat pengalaman menyeret koper sepanjang trotoar di kota Tokyo, sama sekali tidak perlu turun naik jika bertemu bagian jalan yang masuk gedung karena sama datarnya dengan trotoar.

Semoga jalur pedestrian yang ama, ramah, dan nyaman seperti gambar di atas dapat dibuat di seluruh jalan di kota Bandung.

Pos ini dipublikasikan di Seputar Bandung. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pedestrian yang Ramah

  1. praditalia berkata:

    Wah… loveable and liveable banget ya bandung… jadi pengen tinggal di sana barang satu atau dua tahun hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s