Bawa Kantong Plastikmu Sendiri!

Kemarin ketika berbelanja di minimarket Al*a Mart, saya ditanya oleh kasir: “Bawa kantung sendiri atau beli di sini? Kalau beli harganya Rp200”.

Oh, ternyata aturan penghematan penggunaan kantung plastik (Bahasa Sunda: keresek) di Bandung sudah berlaku sejak kemarin. Kantung plastik di pasar swalayan sudah tidak gratis lagi, jika mau harus tambah biaya Rp200, atau pakai kantung belanjaan sendiri yang dibawa dari rumah.

Saya setuju dan mendukung aturan ini. Sampah dari plastik sudah mencapai volume yang membahayakan. FYI, limbah plastik tidak akan hancur di tanah selama ratusan tahun. Plastik tidak bisa membusuk, tidak bisa diurai oleh bakteri. Semakin banyak sampah plastik, semakin tercemar lingkungan hidup di sekitar kita.

Orang Indonesia sangat royal dan terlalu ‘dimanjakan’ dengan kantung plastik, sedikit-sedikit pakai kantung plastik. Coba deh belanja apa saja, entah di pasar tradisionil, di pasar modern, di pedagang kaki lima, atau di warung-warung, pasti belanjaanmu dimasukkan ke dalam kantung plastik. Barang yang dibeli cuma satu, tetapi kasirnya tetap memasukkan barang belanjaan kita ke dalam keresek kecil. Saya cuma beli satu buah odol saja di minimarket, tetap dimasukkan ke dalam kantung plastik. Seakan-akan kalau tidak dimasukkan ke dalam kantung plastik maka dianggap tidak sopan. Mosok barang belajaan diserahkan begitu saja ke tangan pembeli tanpa kantung plastik? Tidak sopan! Mungkin begitu dalam pikiran kasir.

Okelah, masalah sopan atau pantas tidak pantas ditunda dulu perdebatannya. Ada masalah lain yang lebih krusial, yaitu peningkatan volume sampah plastik. Jika sampah plastik tidak direm, maka suatu saat kita menyaksikan limbah plastik di mana-mana.

Di dapur rumah saya, kantung-kantung plastik bekas belanja jumlahnya banyak sekali. Saya simpan dan tidak saya buang ke tempat sampah. Sedapat  mungkin saya menghindari membuang kantung keresek apapun ke dalam tong sampah.  Mencemari lingkungan saja.

Orang-orang di negara maju sudah lama menyadari bahaya sampah plastik. Toko-toko ritel di negara maju tidak memberikan kantung plastik. Konsumen harus membawa sendiri kantung belanja. Yang lebih ekstrim lagi, kasir tidak melayani pembungkusan atau memasukkan barang belanjaan ke dalam kantung, konsumen sendiri yang harus membereskannya. Pengalaman ini saya temui di sebuah toko peralatan rumah yang terkenal, IK*A, di Singapura. Selesai menghitung dan membayar barang belanjaan di kasir, maka barang belanjaan itu kita sendiri yang harus membungkusnya. Toko menyediakan banyak kertas koran bekas  dan kardus-kardus bekas di ujung meja kasir. Sama sekali tidak ada kantung plastik. Silakan anda bungkus sendiri barang belanjaan anda dengan koran bekas, atau masukkan ke dalam kardus-kardus yang tersedia, lalu bawa sendiri ke luar.

Budaya bangsa kita harus diubah. Jangan lagi beranggapan bahwa jika tidak diberi kantung plastik maka dianggap tidak sopan. Bawa sendiri kantung plastik dari rumah, bungkus sendiri. Jika terpaksa, barulah beli Rp200 dari toko tersebut. Bahkan menurut saya, harga Rp200 itu terlalu murah, sebaiknya Rp2000 saja supaya lebih efektif menekan sampah plastik.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

10 Balasan ke Bawa Kantong Plastikmu Sendiri!

  1. Siti Lutfiyah Azizah berkata:

    Saya berharapnya malah Rp 5000/kantong Ka. Biar makin kerasa sama yg masih belum aware, hehe

  2. Salam kenal, Pak. Saya blogger juga. Selama ini selalu mengikuti dan suka dengan tulisan-tulisan Pak Rinaldi. Kita kolega juga di ITB, tapi saya masih junior.

    Saya setuju dengan kebijakan ini. Dulu waktu masih ngekos, setiap tempo 1-2 bulan, kantong plastik sudah menumpuk. Bisa dibayangkan besarnya tumpukan untuk satu keluarga. Selama di Belanda, jangankan dikasih kantong plastik. Barang belanjaan pun adalah tanggung jawab konsumen untuk membereskannya sendiri. Saya pikir itu sopan-sopan saja. Efisien malah, hehe.

  3. Setapak Langkah berkata:

    Berkah untuk minimart dan berkah untuk pabrik plastik?

  4. Prita P berkata:

    Setujuuuu. Saya kadang nolak kantong plastik, terus tampang Mas/Mbanya ragu dan agak nggak enak gitu, sehingga kadang saya merasa perlu bilang ‘repot pake plastik, langsung masuk tas aja’.

    Setuju banget sama aturan ini, saya dukung penuh! *lagi merencanakan beli totebag dengan warna favorit buat dibawa kemana-mana

  5. adhyasahib berkata:

    bagus ya, sudah mulai di terapkan, kalo harganya lebih mahal malah lebih bagus nih biar orNg malah jadi mikir, mending bawa kantong sendiri

  6. Setuju dengan Harga 2000 atau bahkan 5000 lebih bakal buat orang berfikir keras untuk membelinya.

  7. Muhammad Rizky berkata:

    Hmm sepertinya gue harus sedia kantong plastik di jok motor terus nih~

  8. Ega berkata:

    Di Taiwan pun, kalau belanja suka ditanya mau pakai plastik atau gak. Kalau pakai, bayar 1-2NTD. 1NTD biasanya 400IDR.

  9. Gizikita berkata:

    Salam kenal Pak Rinaldi.🙂

    Artikel yang menarik, membahas kebijakan pemerintah yang satu ini ternyata banyak pro kontranya juga di kalangan masyarakat hehe.

    Kalau saya sepakat dengan Pak Rinaldi kalau harga Rp200 itu terlalu ‘murah’, tapi menurut saya lebih baik harga dinaikkan Rp5.000 atau Rp10.000 dengan syarat yang diberikan oleh kasir minimarket/supermarket bukanlah kantong plastik, melainkan tas kain (tote bag) atau semacamnya.

    Sehingga para konsumen bisa menggunakan tas tersebut ketika berbelanja lagi.😀

    Reduce & Reuse.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s