Standard Ganda Facebook

Meskipun Facebook pusatnya berada di Amerika, dan kita tahu negara Amerika menjamin kebebasan berbicara dan berekspresi sepenuhnya, namun untuk posting tentang anti LGBT Facebook melakukan standard ganda. Pihak Facebook menghapus posting netizen yang berisi  penolakan terhadap LGBT. Penghapusan itu dilakukan berdasarkan laporan yang diberikan oleh pengguna Facebook lainnya yang tidak senang  dengan  posting yang anti-LGBT. Pihak Facebook menyebutnya sebagai posting yang menyebarkan kebencian (hate speech) sehingga melanggar standard komunitas mereka.

Beberapa fesbuker (sebutan buat pengguan Facebook) melaporkan posting-an mereka terkait LGBT  dihapus oleh admin Facebook, padahal isinya tidak seluruhnya berupa penolakan, tetapi banyak yang berupa argumentasi, pandangan, saran, dan lain-lain yang berkategori biasa saja. Tidak hanya menghapus posting-an, tetapi  Facebook juga menonaktifkan akun secara temporer hingga ancaman untuk menutup akun selamanya (Baca: Facebook Ancam Tutup Permanen Akun Tere Liye).

Setahu saya Facebook memang terang-terangan mendukung LGBT, bahkan salah seorang pendiri Facebook adalah seorang gay.  Jadi, pembungkaman terhadap suara yang menolak LGBT mungkin bisa dipahami sebagai sebuah bentuk keberpihakan.

Tetapi masalahnya bukan itu. Jika memang ada posting-an yang menyebarkan kebencian, maka seharusnya Facebook juga melakukan hal yang sama apabila ada posting lain yang menghina suatu agama. Terhadap posting-an yang menghina Nabi Muhamammad  misalnya, sudah banyak yang melaporkan posting-an seperti ini kepada admin Facebook, namun Facebook menolak menghapusnya, malah membiarkannya. Inilah standard ganda itu.

Tindakan Facebook yang membungkam suara penggunanya yang kontra LGBT sangat kontras dengan posting-an Mark Zuckenberg tanggal 9 Januari 2015. Di sana ia menulis bahwa ia berkomitmen menjadikan Facebook sebagai tempat orang-orang dapat  berbicara dengan bebas tanpa takut melanggar, sebagaimana dukungannya kepada kebebasan menyampaikan ide dan pandangan yang dilakukan Charlie Hebdo.

“I’m commited to building a service where you can speak freely without fear of violence.”

 

mark2

 

Nah, jika posting-an yang menghina Nabi dianggap sebagai bagian kebebasan berbicara sehingga Facebook menolak menghapusnya, kenapa posting-an yang kontra LGBT tidak dianggap sama sebagai kebebasan berbicara juga?

Facebook tidak perlu otoriter menghapus atau menutup akun seseorang hanya karena dia menulis sesuatu yang tidak sesuai dengan selera pendirinya. Lawanlah kata dengan kata, kalimat dengan kalimat, pemikiran dengan pemikiran, itu baru intelek namanya, bukan dengan cara represif yang membungkam kebebasan berbicara yang diagung-agungkan pendirinya, Mark Zuckenberg. Itu hipokrit namanya.

Pos ini dipublikasikan di Dunia oh Dunia. Tandai permalink.

8 Balasan ke Standard Ganda Facebook

  1. bukanbocahbiasa berkata:

    Aku tempo hari mau nulis soal ini, Pak. Tapi udah keduluan pak Rinaldi hihihi🙂 Setujuuuu sama semua poin yg Bapak sampaikan🙂

  2. Indomoto berkata:

    Parah nih Facebook

    Berarti masih mending wp.com Beberapa waktu lalu WP ngibarin bendera pelangi, secara tak langsung mereka menyatakan dukungannya terhadap LGBT. Tapi saya blm dengar ada blog yang disuspend gara2 anti-LGBT.

  3. halo berkata:

    Yang pro LGBT juga postingannya beberapa kena hapus kok. Ini sih emang pada perang lapor-laporan antar komunitas.🙂

    • halo berkata:

      lagipula khan postingan2 anti lgbt banyak menyulut sentimen kekerasan terhadap mereka.
      plus yg sering main fisik sampe bunuh orang gara2 penghinaan khan yg ngaku2 islam.
      di sini jg yg nindas lgbt, syiah, gafatar, ahmadiah jg yg ngaku2 islam.

      semoga post ini gk ikut2an dihapus juga.

      • halo berkata:

        dan kang rinaldi sering mengasosiasikan valentine dengan seks bebas tapi langsung defensif ketika islam dikaitkan dengan teroris.
        apa tidak merasa munafik kalau sendirinya sering standar ganda tapi senang menunjuk2 standar ganda juga.
        dosen itb pula.

      • hai berkata:

        hahaha. dosen itb ya.

  4. kuya hejo berkata:

    Mau bagaimana pun, kita hidup di zaman yg penuh dg kemunafikan. Mereka yg berkoar2 ttg kebebasan berbicara, sering kali membungkam kebebasan berbicara org2 yg berselisih paham dg mereka. Ini kenyataan yg ada saat ini. Miris…

  5. Fimi berkata:

    Yang hipokrit itu mengaku “rahmat bagi seluruh alam”, tapi hanya mengakui dan merestui hubungan antara orang heteroseksual.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s