Suami-Istri tidak cocok? Ya dicocok-cocokin saja

Orang yang berumah tangga pasti tidak selalu adem-adem saja, sekali-sekali pasti ada masalah yang membuat hubungan menjadi tidak harmonis. Biasalah, orang yang selalu hidup bersama pasti ada gesekan-gesekan yang timbul dari interaksi keduanya. Jadi jika suami-istri sesekali cekcok, saling diam-diaman, dan lain sebagainya, itu biasa saja.

Namun tidak jarang masalah rumah tangga yang kecil berkembang berlarut-larut, dan jika sudah parah maka akhirnya mereka menempuh jalan keluar: cerai!   Lihatlah data di Pengadilan Agama, alasan paling banyak untuk bercerai adalah “sudah tidak ada kecocokan lagi”. Berita cerai yang paling sering diungkap di media adalah perceraian kaum pesohor (selebriti). Dan, lagi-lagi alasan perceraian yang kita dengar dari mereka adalah: sudah tidak ada kecocokan lagi. Menariknya lagi, gugatan cerai itu paling banyak dilakukan oleh pihak perempuan (istri), istri menggugat cerai suami.

Sudah tidak ada kecocokan lagi adalah alasan yang menurut saya terdengar klise. Kalau mengharapkan cocok 100%  jangan harap bakal ada. Suami dan istri itu adalah dua pribadi yang berbeda, punya karakter dan sifat yang berbeda pula, maka mustahil anda berdua akan selalu cocok.

Saya teringat ungkapan seorang pengusaha sukses, Dewi Motik Pramomo, ketika dia bercerita  tentang 57 tahun pernikahannya. Dia mengatakan, “Enggak ada manusia yang cocok. Jadi, selama ada laki yang enggak main perempuan, enggak mabok, enggak nabok, enggak judi, ya dicocok-cocokin aja. Perempuan zaman sekarang itu sombong. Kalau merasa dirinya sukses, ada masalah dikit langsung pisah dengan alasan ketidakcocokan. Heh, sampe lebaran monyet juga gak bakal cocok. Cocok-cocokin aja!“.

Apa yang dikatakan Dewi Motik di atas menurut saya ada benarnya. Sampai kapanpun suami-istri itu sulit cocok sepenuhnya. Solusinya adalah dicocok-cocokin aja! Butuh pengorbanan dan rasa saling memahami bagi salah satu pihak. Selama suami atau istri tidak melakukan perbuatan tercela (mabuk, berjudi, selingkuh, KDRT, dll), maka tidak perlu membuat masalah kecil menjadi besar. Jika ada sifat pasangan yang kurang berkenan, ya dimaklumi saja. Istilah Dewi Motik, ya dicocok-cocokin aja!

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

11 Balasan ke Suami-Istri tidak cocok? Ya dicocok-cocokin saja

  1. mardianis berkata:

    weh pak rinaldi munir catatan hari ini kok suami istri . ??? sebenarnya ia sih bu dewi motik . tapi kalo ada ketidak terbukaan antara suami dan istri. terhadap keluarga masalah keuangan juga sering jadi . perselisihan. apa pendapat pak Rinaldi , sudut pangdang orang minang terhadap keluarga nya, yg bertanggung jawab terhadap adek anak kemenakan, sebetulnya hal yg baik ya

    tapi ada masalah tatkala sangsuami memberi tampa sepengetahuan istri,
    dampaknya istri dianggap serakah, karna dia atau saudara suami menerima dari pihaknya suami tadi tampa sepengetahuan istrinya.
    terjadi kecongkakan pihak keluarga suami terhadap istri alias tidak menghargaai istri.
    Tanggapan positif dan negatif pak Rinaldi

    Trmks

    • rinaldimunir berkata:

      Masalah keuangan sebenarnya nggak masuk topik saya di atas Bu. Tapi baiklah saya jawab ya. Di dalam ajaran agama (Islam), suami memberi uang kepada keluarganya (kemenakan, orangtua) tidak perlu meminta izin kepada istrinya. Si istri harus paham bahwa kewajiban kepada orangtua itu masih melekat meskipun sudah berstatus ayah dan suami orang lain.

      Jika setiap kali mau memberi uang harus meminta izin malah bisa runyam menurut saya. Jadi sebaiknya jauh-jauh hari sebelumnya si suami mengatakan kepada istrinya bahwa dia masih punya kewajiban membantu keluarganya. Sebaliknya, jika istri memberi uang kepada keluarganya, dia harus meminta izin suaminya karena uang itu kan berasal dari suaminya.

      Oh iya, Jangan sampai hak anak dan istri malah menjadi korban karena suami membantu kepada keluarganya. Kuncinya harus adil. Adil itu bukan sama besar dan sama rata, tapi proporsional.

      Btw, saya sendiri masih membantu kakak saya yang hidupnya kekurangan.

  2. endaharum14 berkata:

    Ohh begitu ya, okelah. Ilmu baru. Nuwun pak (:

  3. santri bertasbih berkata:

    bagaimana tanggapan bapak sama tingkah laku artis saat ini. saya miris lihatnya, mereka sdh punya anak terus cerai. terus masuk berita lagi.. hadeeeh

    • rinaldimunir berkata:

      Contoh yang buruk, dan seharusnya berita cerai artis tsb bukan konsumsi media dan tidak perlu diberitakan karena menjadi contoh yang tidak baik bagi kita. Itu termasuk ranah privat.

      Artis 2 yang bercerai kebanyakan karena masalah ketidakcocokan. Ego pribadi yang diperturutkan, anak-anak menjadi korban.

  4. Jason berkata:

    Menurut saya ini adalah salah pola pengasuhan dan efek Disney dan Anime. Loh kok bisa ?
    Anak zaman dahulu dididik untuk bertanggungjawab dan dibilang salah salah, benar ya benar.

    Berbuat nakal dihukum, berbuat baik dipuji.

    Generasi sekarang ini, wanita menjadi terlalu di-elu-elukan dan disanjung terlalu tinggi, oleh Disney gadis kecil di-impi-impikan bahwa dia adalah seorang Princess, yang berhak mendapat segala yang dia inginkan, dan harus berpasangan dengan pangeran yang tampan dan kaya. Gadis kecil memiliki superpower untuk melakukan apa saja yang dianggapnya benar…

    Dilain pihak, anak-anak cowoknya juga dari kecil terbiasa menyendiri dengan Game dan komik-komik/anime khayalan Jepang yang tidak mendidik dan aneh….

    Hasilnya adalah generasi muda yang kekanak-kanakan, tidak bertanggungjawab, kurang sensitif dan sangat egois.

    Pertemukan keduanya dalam pernikahan, dan hasilnya adalah perceraian.

  5. Dhana berkata:

    Saya setuju sama pak rinaldi munir. Istri sering kali ngambegan, protes terus, tinggal suaminya aja, bs ga dy bertahan dgn istrinya itu. Mmg paling banyak komplen dr istri makanya yg ngajuin cere wanita, bukan pria.

  6. Ismail Hasan berkata:

    Setuju sekali pak. Karena yang terpenting dalam berkeluarga adalah saling menerima (meski saya belum mengalami, hehe). Sehingga bila memang ada sesuatu yang tidak diharapkan, yang mungkin mengecewakan, bahkan bila ada kesalahan, yang diharapkan adalah perbaikan. Bukan perpisahan.🙂

  7. Christin A berkata:

    Bapak… tanya ya.. kalau istri bekerja… dan dia membantu orang tua nya… dengan uang hasil kerja dia sendiri… apakah harus ijin suami…??

    • rinaldimunir berkata:

      Mbak, bukan minta izin, tapi memberitahukan saja. Kalau saya yang menjadi suami, pasti saya izinkan, lha itu uang hasil jerih payah istri sendiri, hak dia.

  8. Vina berkata:

    Di kutip dari seorang penulis buku best seller “kita tidak akan pernah menemukan orang yang benar-benar memahami kita, tahu kebiasaan kita, mengerti semua tentang kita. Impossible. tapi kita bisa menemukan orang yang sungguh-sungguh bersedia memahami kita. dan itu lebih dari cukup, sepanjang kita juga sungguh-sungguh bersedia memahaminya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s