Memotret Kelompok Pro dan Kontra Ahok

Selama dua tahun ke depan (hingga 2017), linimasa di akun jejaring sosial akan ramai dengan posting tentang Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Bakal calon Gubernur DKI yang sudah muncul meramaikan media sejak lama adalah sang petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Bakal calon yang lain baru sekedar meramaikan wacana saja, belum pasti juga apakah jadi maju atau tidak.

Meskipun saya dan anda yang membaca tulisan ini bukan penduduk DKI dan tidak memiliki hak pilih, namun Pilgub DKI akan menyita perhatian banyak masyarakat Indonesia, termasuk saya sendiri. Jakarta adalah etalase Indonesia. Suka atau tidak suka dengan perpolitikan di DKI, emosi dan perasaan kita pun akan larut dalam perdebatan dukung mendukung calon gubernur DKI.

Sejatinya pemilihan Gubernur DKI nanti hanya ada dua kubu: kubu yang mendukung Ahok dan kubu yang kontra Ahok. Menurut hasil survey, kedua kubu ini jumlahnya seimbang, fifty-fifty. Namun sukar untuk dibantah bahwa nuansa agama dan etnik sangat terasa dalam Pilgub DKI nanti. Seperti kita ketahui, Ahok adalah seorang Kristiani, dari etnis Tionghoa lagi. Suka atau tidak suka, masalah agama atau etnik akan terbawa-bawa pula atau tersangkut-sangkut di dalam Pilgub DKI nanti. Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pendapat saya ini, tapi itulah realitas yang terjadi, dan hal itu sudah dibuktikan dari berbaga iven Pilkada bahwa masalah suku dan agama ikut berperan dalam menentukan pilihan seseorang.

Menurut analisis saya hampir dapat dipastikan bahwa mayoritas pemilih non-muslim atau etnis Tionghoa berada di belakang Ahok.  Indikasinya dapat dilihat pada komentar-komentar di media berita daring atau diskusi-diskusi di jejaring sosial. Dari nama komentator kita dapat menebak agama atau etniknya apa. Sentimen agama dan etnis atau merasa kelompok minoritas sangat berperan sebagai alasan mendukung Ahok, meskipun tidak dipungkiri juga alasan lain seperti kinerja Ahok yang dianggap memuaskan, Ahok dianggap pejuang anti korupsi, Ahok jujur, gaya Ahok yang blak-blakan apa adanya, dan sebagainya.

Sebaliknya, pemilih muslim terbagi menjadi dua, ada yang mendukung Ahok dan ada pula yang tidak menyukai Ahok. Pemilih muslim yang mendukung Ahok memiliki alasan yang  sama seperti yang saya sebutkan di atas.  Sedangkan pemilih muslim yang tidak mendukung Ahok memiliki berbagai alasan, misalnya karena alasan agama, tidak suka dengan sikap Ahok yang arogan, tidak suka dengan mulut Ahok yang kasar, tidak suka dengan kebijakan Ahok yang melegalisasi miras dan berencana membuat lokalisasi pelacuran, dan sebagainya.

Apapun alasannya, setiap orang berhak memiliki pendapat dan pandangan sendiri. Setiap orang bebas memilih pemimpinnya berdasarkan penilaian obyektif atau subyektif. Di dalam demokrasi semua alasan itu sah-sah saja dan dijamin undang-undang. Toh di dalam bilik suara tidak ada yang dapat mempengaruhi pilihan seseorang. Kalau ada seorang muslim tidak memilih Ahok karena alasan agama, maka anda tidak boleh mencapnya SARA, picik, sempit, dan sebagainya. Itu hak mereka. Begitu juga kalau ada seorang non-muslim memilih Ahok karena faktor agama dan etnik maka anda juga tidak boleh menilainya SARA. Itu hak mereka. SARA bukan untuk diperdebatkan atau dipertetangkan, tetapi SARA adalah fakta yang harus diterima sebagai sebuah realitas di dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.

Siapapun yang terpilih menjadi Gubenrur DKI nanti, apakah Ahok atau bukan, maka wajib didukung dan diterima.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Memotret Kelompok Pro dan Kontra Ahok

  1. Prita Pdinata berkata:

    Kalimat terakhir betul sekali (y)

  2. berkahkhair berkata:

    SARA adalah fakta yang harus diterima sebagai sebuah realitas di dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.ini bagus bngt kata-katanya. setuju

    berkahkhair

  3. Miing.ampera@yahoo.com berkata:

    S E T U J U U U ! ! !

  4. Jaja Nurjanah berkata:

    jika yang muslim terpecah ke dalam dua suara, antara pro-Ahok dan kontra-Ahok, maka ada kemungkinan yang menang Ahok… apalagi jika calon dari muslim lebih dari satu.. maka peluang Ahok semakin besar. saat ini calon yang sdh leading baru Ahok… bahkan partai-partai besar pun terkaget-kaget dengan tingkah politik ahok yang menggunakan mesin politik ‘teman ahok’…

  5. an berkata:

    kesan .makna,selera,arti kata,keyakinan,idealisme, tafsir ,faham n pemahaman ,prinsip ,asas sangatlah debatable n abstrak ,tergantung kita yg memilih2nya utk mendukung pendapat/argument/konsep kita

  6. anggojali berkata:

    Ahok itu T.O.P bget gan,, karna ahok orang yg lupa al-quran jd inget d buka2 lagi sm mereka,, para ulama jg pd rukun kumpul,, polri-tni bersatu..
    Jadi jgn trlalu salahkan ahok kita ambil saja sisi positif.ny dari prmasalahan ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s