Nilai Sosial Buah Manggis Pinggir Jalan

Bulan Maret ini adalah saatnya musim buah manggis di Bandung. Pedagang manggis kaki lima menggelar dagangan buah manggis di pinggir-pinggir jalan. Selain menggunakan meja-meja di jongko kakilima, banyak pula pedagang berjualan manggis menggunakan mobil bak terbuka. Buah manggis itu didatangkan dari Kabupaten Tasikmalaya.

manggis

Buah manggis di jongko kaki lima

Pedagang buah manggis di pinggir jalan yang saya lewati menawarkan manggis Rp15.000/kg, jika dua kilo maka harganya Rp25.000. Di koran lokal pagi hari saya membaca iklan sebuah supermarket yang menawarkan buah manggis Rp11.250/kg, jika dua kilo harganya tentu dua kalinya, yaitu Rp22.500. Lebih murah dari pedagang kaki lima.

Pilih yang mana? Manggis pedagang kaki lima atau manggis di supermarket itu? Saya pilih membeli buah manggis pedagang kaki lima tadi. Memang harganya sedikit lebih mahal dari supermarket, tapi tak apalah.

Tidak salah membeli di supermarket, juga tidak salah membeli dari pedagang kecil. Ini soal pilihan saja. Namun, membeli dari pedagang kecil itu ada nilai sosial dan nilai ibadahnya, yaitu sekalian untuk membantu kelangsungan hidup dan usaha mereka.

Pedagang besar sudah biasa menikmati untung besar, mereka berdagang untuk meraih untung sebanyak-banyak. Sebaliknya bagi pedagang kecil, mereka berjualan untuk bertahan hidup.

Jika kamu selalu membelanjakan uangmu di supermarket yang nyaman, maka cobalah bagi uangmu untuk berbelanja pada pedagang kecil seperti pedagang kaki lima. Insya Allah barokah karena diniatkan untuk membantu kelestarian usaha mereka.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

2 Balasan ke Nilai Sosial Buah Manggis Pinggir Jalan

  1. arman berkata:

    Kalau beli di supermarket uangnya akan mengalir ke petani manggis yang soleh, tidak merokok dan berjuang menyekolahkan anak2nya. Pegawai supermarket (pasti mayoritas muslim) akan terus mendapat pekerjaan. Kalau ke pedagang, uang habis untuk beli rokok, bayar suap utk oknum pemerintah, bayar preman (preman kemudian beli minuman untuk mabok dst). Tidak bisa langsung mengklaim satu hal pasti lebih baik dst. Salam damai

  2. yenihandayani berkata:

    Salam Kenal Pak Rinaldi Munir,
    Mana yang lebih barokah dari berbelanja di supermarket atau pinggir jalan, menurut saya tergantung niat sepertinya. Tapi ada satu pengalaman pribadi yang saya dan anak saya alami ketika sedang menunggu ojek jemputan dalam situasi hujan, pada waktu itu ada seorang bapak tua pedagang asongan sedang berjualan tiba-tiba terjatuh dan mengalami kesulitan untuk berdiri….
    Akhirnya ada beberapa orang yang melihat kejadian tsb, membeli barang si bapak karena merasa iba dan ternyata selisih harganya tidak terlalu jauh dengan yang di supermarket atau toko-toko modern….
    jadi sekali-kali beli di pinggir jalan akan membuat roda ekonomi berputar tidak hanya di pedagang besar tapi juga berputar di pedagang kecil…toh keduanya juga berkerja sama-sama untuk membiayai keluarganya.
    PS. Pak Rinaldi boleh minta alamat emailnya, saya suka baca referensi bapak untuk dasar pemograman dan matematika diskrit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s