Orang Indonesia malas membaca “term and condition” (kasus meminjam uang ke bank)

Saya belum pernah meminjam uang ke bank, tapi kisah tragis di bawah ini semoga menjadi pelajaran agar kita selalu lebih berhati-hati dan membaca sampai teliti setiap klausul yang ada di dalam kontrak peminjaman. Pak Edi Sasmito dari Mojokerto, Jawa Timur, ini harus kehilangan rumah dan tanahnya senilai Rp 700 juta karena dilelang oleh Bank Danamon seharga Rp 50 juta saja. Ceritanya begini. Pak Edi meminjam uang ke bank sebesar Rp 55 juta dengan jaminan sertifikat rumahnya. Di tengah perjalanan waktu, pengembalian utangnya ke bank macet, dia tak mampu melunasi utangnya, dia hanya bisa mengangsur tujuh kali senilai 21 juta. Setelah utang jatuh tempo dan dia tidak sanggup melunasi, akhirnya bank melelang rumahnya. Seorang pembeli memenangkan lelang dengan harga 50 juta. Rumah Edi menjadi hak milik pembeli dan dia harus mengosongkan rumahnya secara paksa. Cerita lengkap kisah tragis yang dramatis ini bisa dibaca pada pranala berikut: Utang Rp 55 Juta, Rumah Mewah eks Kades Dilelang Danamon Rp 50 Juta.

kontrak

Edi dan istrinya yang shock setelah rumahnya harus dikosongkan. (Sumber: Detikcom)

Pak Edi pasti dengan sadar meminjam uang di bank dan tahu resikonya. Yang jadi perhatian saya  adalah apakah dia telah membaca  dengan seksama klausul-klausul (term and condition) di dalam surat kontrak peminjaman uang di bank. Orang Indonesia pada dasarnya malas membaca dengan detil setiap kata-kata di dalam surat kontrak atau perjanjian apapun (misalnya kontrak kerja, surat persetujuan pembukaan rekening di bank, perjanjian sewa, dll). Kebanyakan orang kita langsung main tanda tangan saja. Parahnya lagi beberapa surat kontrak memuat tulisan dengan ukuran yang sangat kecil sehingga membuat orang malas membacanya, misalnya surat pembelian barang. Mungkin saja di dalam surat kontrak itu terdapat “jebakan betmen” yaitu pasal-pasal yang berisi “ancaman” jika konsumen tidak mematuhi persyaratan. Ketika terjadi persoalan  dikemudian hari, pihak ke satu (bank, penjual barang, dll) tidak bisa disalahkan karena konsumen sudah menandatangani isi kontrak.

Dalam dunia teknologi informasi kemalasan orang kita juga biasa terjadi. Mengisi isian daring (online) misalnya, kita sering tidak membaca seluruh term and condition, asal main centang saja agar cepat selesai urusannya. Padahal bisa jadi ada term and condition yang merugikan kita, namun karena sudah di-OK-kan maka kita tidak bisa membatalkan lagi.

Kembali ke kasus Pak Edi di atas. Selain karena kelalaian si pengutang, saya melihat ada yang janggal dalam kasus ini, ada semacam ketidakadilan. Mengapa pihak bank melelang rumah dengan harga yang sangat tidak wajar, melepas rumah dengan harga hanya 50 juta. Seharusnya jika pengutang tidak sanggup melunasi uatangnya, maka rumah yang dijadikan jaminan dijual dengan harga yang wajar, uangnya digunakan untuk melunasi kekurangan utang, dan kelebihan harga jualnya dikembalikan kepada pengutang. Kalau benar harga  rumah 700 juta dan harga lelang 50 juta, mungkinkah ada kolusi antara karyawan bank dengan pembeli? Wallahu alam, saya hanya bisa menduga-duga. Kasus ini bukan yang pertama, sebelumnya juga ada kasus yang mirip dan lebih tragis lagi,masih dengan bank yang sama. Baca ini:Kisah Pilu Masruroh, Tanah dan Bangunan Rp 10 Miliar Dieksekusi Gara-gara Utang Rp 30 Juta.

Moral dari kisah ini adalah, sedapat mungkin menghindari utang, baik ke pihak manapun dan jumlah berapapun. Jika terpaksa berutang, pikir-pikir dululah apakah mampu membayarnya dalam jangka waktu yang ditetapkan.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Romantika kehidupan. Tandai permalink.

8 Balasan ke Orang Indonesia malas membaca “term and condition” (kasus meminjam uang ke bank)

  1. Rissaid berkata:

    Wah ngeri, saya jadi lebih tau. Terimakasih kak tulisannya.🙂

  2. Tufiddin berkata:

    Betul.. tidak perlu jauh-jauh sampai ke terms and condition yang rumit. Manual book sebuah produk pun saya yakin banyak yang tidan dibaca.. hehe

  3. Jejak Parmantos berkata:

    Tragis bahaya riba itu…

  4. canga berkata:

    Atau kalau banknya baik, dia bisa minta bapaknya jual rumahnya sendiri sebelum dilelang sama bank. Wallahualam :’) terima kasih pak infonya.

  5. penulis konten berkata:

    Bener bgt, kebanyakan kita mengganggap remeh term n condition. Tapi kadang juga pihak yg memberlakukan itu gak transparan, dengan tidak menjelaskan dan tulisan2nya berukuran kecil, yang bacanya pun bikin sakit mata n pusing🙂

  6. Julius berkata:

    Jadi dlm hal ini. Bnyk hal yg para debitur dirugikn nmn jika kita org indonesia melek hukum pastix kita tdk semena2 oleh pihak bank

  7. Yuli berkata:

    Ngerinya

  8. Senja Kelana berkata:

    Kadang pihak peminjaman juga brengsek, saat kita mau baca, mereka selalu push. “Ini cuma formalitas saja” kalau saya boleh menyalahkan, jelas marketing-marketing disana yg salah karna terlalu mikirin target agar insentive keluar, mereka seolah mengabaikan prosedur yg penting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s