“Berburu” SD swasta favorit di Bandung

Tahun ajaran baru 2016/2017 akan segera datang. Bagi orangtua yang memiliki anak yang akan masuk SD tahun ini pasti sudah mencari-cari info pendaftaran sekolah sejak tahun lalu. Jauh-jauh hari mereka sudah berburu informasi tentang SD yang akan  menjadi pilihan untuk anaknya nanti. Orangtua yang baru pertama kali memasukkan anaknya ke SD (anak pertama) pasti sudah bertanya ke sana sini, SD apa yang bagus, berapa biayanya, dan sebagainya.

Bagi kalangan menengah ke atas di Bandung, SD yang disasar adalah SD swasta. SD negeri tidak terlalu menjadi pilihan, kecuali beberapa SD negeri yang dilabeli masyarakat sebagai SD favorit karena terletak di tengah kota, diantaranya SD negeri di Jalan Merdeka dan SD negeri di Jalan Sabang.

Fenomena yang menarik dalam beberapa tahun terakhir ini adalah kesadaran para orangtua dari kelas menengah ke atas yang menyekolahkan anaknya di SD berbasis keagamaan, baik SD Islam maupun SD Kristen/Katolik. Bagi orangtua yang beragama Islam, menyekolahkan anak ke SD Islam didasarkan pada pertimbangan untuk memberikan pendidikan agama Islam sejak dini kepada anak-anaknya. Masa kecil adalah masa yang sangat cocok untuk menanamkan pendidikan agama  kepada anak. Pendidikan agama sejak kecil diharapkan menjadi bekal menghadapi kehidupan pada masa dewasa yang sarat dengan godaan yang menjerumuskan. Tantangan hidup pada era globalisasi ini sangat besar, jika tidak memiliki  dasar agama yang kuat maka dikhawatirkan hanya menghasilkan generasi yang rusak.

Orangtua pasangan muda yang memilih sekolah dasar Islam umumnya adalah orang-orang yang sibuk. Mereka mungkin tidak punya banyak waktu untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anaknya, maka dengan menyekolahkan di SD Islam mereka berharap anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang sholeh selain cerdas tentunya. Mereka menaruh harapan kepada SD Islam tersebut untuk membekali anaknya dengan pendidikan agama selain pendidikan umum.

Di Bandung terdapat beberapa SD Islam yang dilabeli favorit oleh masyarakat. Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah SD Salman Al-Farisi di kawasan Tubagus Ismail, SD Mutiara Bunda dan SD Cendekia Muda di kawasan Arcamanik, SD Ar-Rafi di Kiaracondong, SD Muhammadiyah 7 di Antapani, SD Cendekia Leadership School di Bukit Ligar, SD Tunas Unggul di Pasir Impun Cicaheum, SD Mutiara Hati di Antapani, SD Al-Biruni di Panyileukan. Selain SD Islam yang disebut di atas, beberapa SD swasta lain yang favorit (meski tidak berlabel Islam) yaitu SD Gagas Ceria di Jalan Malabar, SD Alam di Dago, SD Bianglala di Gegerkalong, SD Sembilan Mutiara di Kopo, , dan lain-lain.

Umumnya SD swasta yang saya sebutkan SD di atas memiliki jam belajar full-day school  atau semi full-day. Jika di SD negeri anak-anak hanya bersekolah tiga jam sampai lima jam sehari, maka di SD swasta tersebut  belajar tujuh jam hingga delapan jam sehari. Rata-rata murid pulang sekolah pukul dua siang hingga pukul empat sore, dari Senin sampai Jumat (Sabtu libur).  Lamanya jam belajar di sekolah karena banyak muatan tambahan seperti pendidikan agama yang saya ceritakan di atas. Sholat Dhuhur berjamaah di masjid sekolah, pelajaran Al-Quran seperti tahsin dan tahfidz, dan lain-lain.

SD swasta favorit yang saya sebutkan di atas tentu tidak murah uang masuk maupun SPP-nya. Uang masuknya saja dari belasan juta hingga puluhan juta. SD Mutiara Bunda misalnya, uang masuknya tahun 2016 ini total (bersama uang lain-lain) berjumlah 42 juta, SD Salman Al-Farisi 21 juta, SD Gagas Ceria 31 juta, SD Cendekia Leadership School 36 juta (Sumber:Biaya Masuk Beberapa SD Swasta Favorit di Bandung). Itu baru uang masuknya, sementara SPP per bulan bisa mencapai lebih dari satu juta per tahun. Seorang teman berseloroh, biaya masuk SD saja lebih mahal daripada biaya masuk kuliah di Perguruan Tinggi.

Meskipun mahal, namun SD-SD swasta favorit tersebut tetap menjadi buruan orangtua. Mahal tidak menjadi persoalan, sebab pendidikan adalah investasi masa depan. Beberapa SD favorit tersebut sudah menutup pendaftaran pada akhir tahun. Mereka sudah menerima pendaftaran jauh-jauh hari sejak bulan Oktober hingga Desember. Praktis pada awal tahun baru tidak ada lagi tempat yang bersisa, sudah habis, padahal tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli. Karena permintaan banyak sementara tempat terbatas, maka kadang-kadang diberlakukan waiting list segala.

Di satu sisi keinginan orangtua memberi pendidikan yang berkualitas (termasuk pendidikan agama) untuk anak-anaknya merupakan satu bentuk kesadaran pentingnya pendidikan untuk membentuk karakter anak. Di sisi lain terjadi kesenjangan yang lebar dengan pendidikan di SD lain yang tidak favorit, termasuk di SD negeri. Pemerintah belum mampu menghadirkan pendidikan yang berkualitas bagi warganya. Karena Pemerintah belum mampu, maka pihak swasta mengambil alih peran itu.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Bandung. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s