Kritik itu ternyata (tidak) perlu

Pada dasarnya setiap orang tidak suka dikritik. Meskipun sering dikatakan “silakan kritik saya, tidak apa-apa, tidak masalah bagi saya”, seolah-olah diucapkan dengan ikhlas, namun sebenarnya di dalam hatinya tidak mengharapkan untuk dikritik. Kritikan bagi seseorang adalah bentuk sebuah pamaparan kelemahannya, padahal manusia tidak suka kelemahannya ditunjukkan, apalagi di depan umum.

Pemimpin pun tidak selalu suka dikritik. Pada zaman Orde Baru, mengkritik Presiden artinya anda harus berhadapan dengan aparat, dan anda harus siap-siap masuk bui. Pada zaman reformasi sekarang, tidak semua pemimpin suka dikritik, ada yang siap menerima kritikan, ada  yang alergi dengan kritikan, dan ada pula yang bertahan (defensif) dengan melakukan pembelaan maupun serangan balik. Memang tidak ada orang yang masuk bui karena mengkritik pemimpin saat ini, kecuali kritikan yang menyerang pribadi atau mencemarkan nama baik (ini sudah banyak kasusnya).

Saya menerima kiriman dari grup WA di bawah ini, apakah anda setuju dengan yang disampaikan oleh penulisnya? Saya perbaiki sedikit ejaanya agar enak dibaca.

Seseorang bertutur tentang pengalaman hidupnya:

Saya dulu sering mengkritik orang lain, dengan asumsi menurut saya, saya sendiri sudah merasa benar dan orang yang saya kritik salah.

Mengapa dulu saya sering mengkritik orang lain? Karena saya percaya dan banyak orang percaya bahwa kritik itu membangun.

Itulah mengapa sering kita mendengar orang berkata tidak apa asalkan “kritik membangun”.

Setelah usia semakin bertambah, dan saya mulai tertarik untuk belajar tentang buku-buku kebijaksanaan, saya terbelalak bahwa sebagian besar buku-buku Wisdom mengatakan bahwa sesungguhnya TIDAK ADA kritik yang MEMBANGUN, semua kritik itu bersifat menghancurkan, merusak dan menekan perasaan orang yang dikritiknya.

Sampai suatu ketika saya membaca buku hasil eksperimen Masaru Emoto dari Jepang, yang melakukan uji coba nasi yang kemudian diletakkan di dalam toples yang berbeda.

Toples yang pertama setiap hari diberikan kritikan terus dan ditempel kertas bertulisan kata yang mengkritik, kemudian toples yang kedua diberi pujian dan motivasi setiap hari.

Dan hasilnya dalam 2-3 minggu, toples pertama yang diberikan kritikan setiap hari membusuk kehitaman sedangkan toples kedua dengan isi yang sama masih berwarna putih bersih tak membusuk.

Penasaran pada penjelasan di buku ini, akhirnya saya meminta para guru di sekolah kami utuk melakukan eksperimen ini bersama para murid di sekolah. Ternyata benar hasilnya lebih kurang serupa.

Toples yang setiap hari diberikan keritikan oleh murid-murid, lebih cepat rusak, hitam dan membusuk. Dan di sekolah kami mengajarkan para siswa melalui eksperimen ini agar tidak mengejek, menhujat atau mengkritik sesama teman, dan melatih mereka untuk bicara baik-baik yang tidak mengkritik.

Dan sejak itulah saya belajar untuk tidak mekritik orang lain, terutama anak dan istri saya.

Dan percaya atau tidak hasilnya di luar dugaan, Istri saya jadi jauh lebih perhatian dan wajahnya lebih berbinar dan anak-anak saya jauh lebih baik, ganteng, kooperatif dan sayang pada ayahnya.

Apa yang saya ubah dari diri saya sehingga anak dan istri saya berubah?

Saya ganti kalimat saya yang mengkritik istri dan anak saya dengan ucapan terimakasih padanya setiap kali mereka berbuat kebaikan.

Saya berterimakasih pada istri dan anak saya dan memujinya dan sering kali sambil memeluknya, saat mereka berhasil berhenti dari kebiasaan yang kurang baik.

Yuk mari kita renungkan, malah kalau perlu kita coba melakukan experiment yang sama bersama anak-anak dirumah atau murid-murid kita di sekolah.

So….. masihkah kita percaya bahwa KRITIK ITU MEMBANGUN ?

Masihkah kita percaya ada KRITIK YANG MEMBANGUN?

Masihkah kita mau mengkritik orang lain, terutama suami, istri dan anak-anak kita..?

Tentu saja pilihan itu terserah pada diri kita masing-masing karena hidup ini adalah pilihan bebas berikut konsekuensinya masing-masing.

Tapi coba rasakan dan ingat-ingat lagi apakah dengan sering mengkritik orang lain akan membuat orang yang kita kritik menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya balik mengkritik kita…?

Dan coba lihat apa yang ada rasakan di hati kita pada saat kita sedang dikritik oleh orang lain? Nah perasaan yang sama itulah yang juga akan dirasakan oleh orang lain yang kita kritik.

~~~~~~~~~~

Jadi bagaimana? Apakah kritikan itu perlu atau tidak? Mungkin yang lebih tepat istilahnya bukan mengkritik, tetapi mengkritisi. Keduanya memiliki makna berbeda. Mengkritisi artinya menilai secara obyektif baik kelebihan maupun kelemahan, sedangkan mengkritik cenderung menilai secara subyektif dan impulsif.  Mengkritik kurang tepat, mengkritisi lebih elegan.

Jika anda mengkritisi (atau dalam lain kesempatan mengkritik) seseorang, maka jalan tengah yang lebih moderat adalah menyeimbangkan antara mengkritisi dan memuji. Jika ada kelemahan maka kritisilah, tetapi jika tampak kelebihan maka tidak usah segan untuk memuji. Setuju?

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kritik itu ternyata (tidak) perlu

  1. Rully Cahyono berkata:

    Saya setuju dengan paragraf terakhir Pak Rinaldi, tetapi tidak setuju dengan tulisan di awal bahwa “semua kritik itu bersifat menghancurkan”. Kalau kritik tidak disampaikan, bagaimana orang bisa mengetahui apa yang perlu diperbaikinya? Saya percaya bahwa berterus terang adalah sikap yang terbaik, asalkan kita tahu rambu-rambunya, yaitu menyampaikan dengan sopan, tidak emosi, fokus, dan tidak mengganggu hubungan personal.

    Di jaman khalifah pun sudah dicontohkan. Umar bin Khattab R.A. tidak malu untuk mengakui kekhilafannya pada saat rakyat secara terang-terangan mengkritik kebijakannya di depan umum. Justru Umar ingin mendapatkan masukan sebanyak-banyaknya dari umat.

  2. Senja Kelana berkata:

    Mengkritik konotasinya minor, jadi saya lebih memilih mengkritisi ya pak.

    Menurut saya mengkritisi yang memang salah itu perlu, apalagi sudah menyangkut harkat hidup khalayak umum. Ex : eksekutif kita yang susah mendengar keluhan rakyatnya, ataupun legeslatif kita yang pura” buta dan tuli, yang ogah menyampaikan aspirasi rakyatnya. Jika tetap dibiarkan mereka akan semakin melunjak pak, kecuali jika masalahnya hanya soal internt. Mungkin dengan kita diam itu lebih bijaksana. Tapi jika permasalahan sudah go publik, kita memang harus bersuara pak, utk kebaikan bersama.

    Sudah terlalu banyak kaum ignorance di negeri ini, jika beberapa yg lainya mengikuti kita aka terjajah selamanya. Terjajah oleh siapa ? Ya, oleh kapitalis”, dan anteg”nya.

    Tapi artikel ini bukan salah, saya malah suka. Karna tatanan bahasanya lugas, dan tidak mengandung unsur yg menyudutkan. Hanya saja, akan lebih baik jika disertakan ruang lingkup sasaran artikelnya.

    Seperti kata bung karno kala itu ketika memutuskan utk keluar dr PBB “persetan dengan PBB, amerika kita setrika, inggris kita linggis” beliau marah besar karna merasa di khianati.

    Jika ada salah bahasa, tolong dimaklumi ya pak, hatur nuhun.

  3. yanapermana berkata:

    Menurut saya, kritik itu perlu… Kritik yang membangun adalah kritik yang berlandaskan dalil yang kuat… saya baca dari sini { http://duniaedukasihimmahnw.weebly.com/2/post/2013/01/imam-syafii-siap-mengkritik-dan-dikritik-yang-benar.html }

    wallahu a’lam bishawab
    (dan hanya Allah yang Maha Mengetahui)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s