Untung sudah “web check-in”

Hari Jumat yang lalu saya pulang kampung ke Padang. Seperti biasa saya selalu pulang kampung menjelang bulan puasa Ramadhan untuk berziarah ke makam orangtua, karena ketika lebaran saya tidak mudik lagi. Kedua orangtua saya sudah lama tiada, jadi hanya tinggal pusaranya saja yang selalu ditengok-tengok setiap kali saya pulang. Saya pulang membawa anak yang baru saja selesai mengikuti UN SMP. Tiket pesawat pulang-pergi sudah saya beli jauh-jauh hari.

Pesawat saya berangkat dari Bandara  Soekarno-Hatta, Cengkareng. Sehari sebelum berangkat saya sudah melakukan check-in di website Garuda Indonesia (saya pilih naik Garuda untuk pulang dan kembali dengan Batik Air). Firasat saya mengatakan untuk chek-in sehari sebelumnya, khawatir telat ke bandara, karena perjalanan dari Bandung ke Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng tidak bisa diprediksi kemacetan lalu lintasnya. Boarding pass sudah cetak dan saya simpan baik-baik di dalam tas. Untuk jaga-jaga, boarding pass juga saya kirim ke akun surel saya di Gmail.

Seperti kebiasaan saya kalau bepergian, saya selalu backpacker-an. Hanya bawa tas ransel untuk pakaian dan lain-lain. Oleh-oleh saya taruh ke dalam kardus kecil  dan tas kantung plastik yang bisa dibawa ke atas kabin. Saya kurang suka memasukkan barang ke bagasi pesawat, karena perlu waktu setengah jam untuk mengambil barang tersebut setiba di bandara.

Berangkatlah saya dan anak ke Bandara Soetta dari Bandung pukul 9.00 pagi. Kami naik bis Primajasa dari Batununggal. Mungkin ini kesalahan saya juga, saya memilih keberangkatan jam 9.00, agak terlalu mepet dengan keberangkatan pesawat jam 14.00 dari Soetta. Seharusnya saya memilih berangkat pukul 8.00. Di boarding pass tertulis waktu boarding jam 13.40. Perkiraan saya jam 13 selambatnya sudah sampai di bandara, karena pengalaman saya selama ini waktu tempuh Bandung- Bandara Soetta berkisar paling lama 4 jam, jadi saya masih punya waktu satu jam kurang sebelum boarding.

Ternyata perkiraan saya salah. Memasuki Tol Cikampek arah ke Cikarang, perjalanan mulai tersendat. Bis bergerak pelan, sebentar maju sebentar berhenti. Saya masih agak santai saja waktu itu, ah nanti juga hilang macetnya, pikir saya. Ternyata tidak, macetnya lama sekali. Hari sudah menunjukkan pukul 11 lebih. Wah, saya sudah mulai khawatir. Tetapi karena saya sudah chek-in, saya tenang lagi. Kemacetan itu akibat banyaknya truk-truk bermuatan sembako lewat. Menjelang bulan puasa truk-truk sembako ini memadati jalan tol. Ternyata sebagian besar truk-truk itu rutenya mau masuk gerbang tol Cikunir. Tetapi karena banyak sekali mobil dan truk yang ke arah Cikunir, maka bis dan mobil lain di belakangnya yang hendak lurus ke gerbang tol Cikarang ikut kena macet.

Jam 12 lebih barulah bis kami berhasil melewati kemacetan parah itu. Memasuki gerbang tol Halim perjalanan mulai lancar jaya. Saya sudah mulai bernapas lega. Tetapi kelegaan saya hanya sebentar. Memasuki jalan tol Sedyatmo (jalan tol Bandara), ternyata terjebak macet lagi. Ada sebuah truk mogok di jalan, ke arah Muara Angke. Kendaraan di belakangnya terkena dampaknya. Hari sudah menunjukkan pukul 13.00. Saya sudah sangat khawatir dan merasa akan ketinggalan pesawat. Saya sudah mulai berpikir mau beli tiket penerbangan berikutnya lewat HP, cari tiket di Traveloka. Alamaaak, penerbangan hari itu sudah sold out semua, tidak satu pun tiket yang tersisa untuk semua maskapai (Lion, Garuda, Citilink, Sriwijaya). Tapi saya tidak kehilangan harapan, saya kontak mbak di agen travel langganan saya di Bandung via whatssapp, minta tolong dicarikan tiket baru. Jawabannya sama, habis semua. Namun tiket buat keesokan hari masih banyak. Saya sudah berpikir akan menginap di Bandara saja dan terbang besok harinya.

Jam 13.20 kemacetan di Tol Sedyatmo terurai. Bis melaju kencang ke arah Bandara. Namun saya sudah hilang harapan, sudah tidak mungkin lagi kekejar pesawat. Waktu tempuh dari gerbang tol Sedyatmo ke gerbang tol Cengkareng saja memakan waktu setidaknya setengah jam, itu belum termasuk waktu untuk menurunkan penumpang di Terminal 1A, 1B, 1C, dan 2D (saya di Terminal 2F, Garuda). Saya berdoa di dalam hati, semoga pesawat saya delay sehingga masih bisa kekejar. Hari sudah menunjukkan pukul 13.50 ketika memasuki Terminal 1A. Satu per satu penumpang turun di terminalnya masing-masing. Di areal bandara sangat padat kendaraan yang akan keluar, berjalan pelan. Saya sudah tidak berharap lagi akan bisa boarding.

Jam 14.02 akhirnya bis sampai di Terminal 2F. Sambil berlari membawa tas dan barang bawaan saya dan anak langsung masuk ke dalam. Ternyata tidak mudah juga, antrian masuk ke dalam lumayan banyak. Seorang perempuan yang baik hati di depan saya mempersilakan saya memotong antriannya. Kami berhasil masuk ke dalam, dan setelah melewati pemeriksaan X-Ray pertama kami tancap gas terengah-engah lari ke ruang tunggu. Di layar monitor terlihat status penerbangan saya masih boarding dan panggilan terakhir naik ke pesawat. Wah, harapan itu pun hidup lagi. Seorang petugas yang melihat kami lari tergopoh-gopoh menanyakan saya hendak ke mana, setelah saya jawab mau ke Padang, dia mengontak petugas di pintu gate F4 bahwa masih ada dua penumpang lagi. Akhirnya kami berhasil masuk Gate 4. Kami adalah penumpang terakhir yang naik ke dalam bis yang akan membawa ke pesawat yang parkir di remote area. Telat satu menit saja saya tiba maka bis terakhir sudah berangkat dan saya harus menginap di  bandara untuk esok harinya.

Alhamdulillah, Allah masih baik kepada saya. Kami berhasil masuk ke dalam pesawat sebagai penumpang terakhir. Untung saja kami sudah web chek-in sebelumnya dan sudah mencetak boarding pass serta tidak ada barang untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Andai tidak web check-in mungkin ceritanya akan lain: ditolak. Petugas di gate F4 tidak mempermasalahkan boarding pass saya yang seukuran kertas A4 itu (bukan boarding pass Garuda yang berupa kartu seukuran 30 x 10 cm itu).

Di atas bus yang membawa kami ke dalam pesawat saya memberitahu mbak travel langganan saya, mengabarkan bahwa  saya tidak perlu beli tiket lagi. Dia juga mengucap syukur saya berhasil tidak ketinggalan pesawat. Dia menulis begini “Niat baik pasti dipermudah oleh Allah SWT, Pak”. Ya, niat saya pulang kampung adalah untuk ziarah kubur, menengok makam orangtua dan mendoakan mereka. Allah memudahkan jalan saya. Terima kasih ya Allah.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Untung sudah “web check-in”

  1. Andik Taufiq berkata:

    Alhamdulillaah… saya juga pernah Pak. Hanya saja waktu itu kasusnya naik kereta. Sebenernya sudah terlambat sekian detik. Tapi karena petugasnya baik, saya disuruh berlari mengejar kereta yg kebetulan sudah jalan perlahan meninggalkan stasiun dengan bunyi klaksonnya yang khas itu.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s