Apakah rasa kemanusiaan harus tebang pilih? (Kasus Bu Saeni)

Beberapa hari ini jagad maya diramaikan dengan peristiwa razia warung makan yang buka siang hari pada bulan Bulan Ramadhan di kota Serang. Satpol PP yang menjadi kaki tangan Pemkot Serang bertindak terkesan berlebihan. Warung tegal Bu Saeni tidak hanya digrebeg, tetapi semua masakan di warungnya disalin ke dalam kantong plastik dan dibawa pergi. Wajah Bu Saeni yang menangis membuat iba netizen. Gambar dan berita tersebut segera menyebar menjadi viral dengan disertai sejumlah kecaman dan hujatan terhadap Pemda Kota Serang. Dengan mudah orang-orang terprovokasi dengan berita tersebut tanpa tahu bagaimana sebenarnya yang terjadi (baca: Investigasi ibu Saenih pedagang warung Serang yang buka saat puasa oleh JITU). Komentar pedas dan kecaman itu pun menyerempet-nyerempet soal agama dan cenderung mendiksreditkan, karena kejadiannya memang berkaitan dengan ibadah puasa.

bu-saeni

Bu Saeni yang menangis karena dagangannya disita Satpol PP

Dalam sekejap berita ini menjadi isu nasional karena diekspos berbagai media. Para pejabat ikut berkomentar, mulai dari gubernur hingga wakil presiden. Netizen yang tergerak hatinya ramai-ramai mengumpulkan sumbangan untuk Bu Saeni. Bahkan, Pak Presiden pun ikut turun tangan dengan memberikan bantuan uang 10 juta (tindakan Presiden ini menurut saya berlebihan, karena orang yang melanggar aturan legal kok malah didukung). Tapi ya sudahlah, alhamdulillah saja, itu rezeki Bu Saeni di bulan puasa. Siapa yang tahu Allah menurunkan rezeki kepada hamba-Nya dalam arah yang tidak disangka-sangka.

Saya pribadi termasuk orang yang tidak setuju dengan aksi Satpol PP maupun ormas yang merazia warung-warung makan yang buka siang hari selama bulan Ramadhan dengan cara yang berlebihan, apalagi sampai anarkis. Tidak semua orang ikut berpuasa toh, saudara kita yang non muslim tidak puasa dan mereka berhak makan siang. Tidak semua orang Islam menjalani puasa, ada kelompok orang yang memang boleh tidak puasa dan menggantinya dengan puasa pada hari yang lain atau membayar fidhiyah, seperti orang sakit, wanita haid, wanita yang sedang hamil/menyusui, musafir, kuli kasar/buruh bangunan, dll.

Tidak ada ajaran agama yang menyuruh berbuat (razia) demikian. Warung-warung makan itu cukup dihimbau untuk tidak membuka warungnya demikian mencolok. Hal ini sudah berlangsung sejak dulu, banyak restoran dan rumah makan dengan kesadaran sendiri menutup rumah makannya dengan kain sehingga terlihat tidak mencolok. Di sebagian rumah makan padang yang telah buka sejak siang hari memasang pengumuman tidak melarang orang membeli makanannya, namun tidak melayani makan di tempat sebelum waktu buka puasa tiba, hanya boleh dibungkus atau dibawa pulang. Intinya toleransi itu sudah berlangsung sejak dulu dan tidak ada yang mempermasalahkan.

Aksi razia yang dilakukan Satpol PP dalam rangka menegakkan Perda cenderung kasar dan arogan. Mereka bertindak berlebihan, dan ketika aksi Satpol PP merazia warung makan di-framing oleh media maka yang terjadi adalah antipati, termasuk dari orang Islam sendiri yang ikut tersulut, berbagai kecaman dan hujatan dengan bebas berseliweran di jagad sosial.

Maka, wajar jika kasus yang menimpa Bu Saeni menimbulkan rasa empati. Saya yang selalu berpihak kepada orang-orang kecil ikut merasa prihatin dan berempati dengan kejadian yang menimpanya. Syukurlah banyak orang yg bersimpati dan mengumpulkan sumbangan untuk Bu Saeni, termasuk Presiden Jojo Widodo.

Di sisi lain, saya merasa miris. Kenapa keprihatinan dan empati yang sama tidak muncul sedemikian besarnya kepada warga Kampung Luar Batang yang diporak-porandakan oleh Satpol PP (didukung aparat) atas instruksi penguasa kota karena mereka dianggap pemukim ilegal. Mereka sama-sama korban satpol PP dan penguasa, bedanya nasib mereka jauh lebih perih daripada Bu Saeni, mereka harus kehilangan harta, mata pencaharian serta harapan. Jerit tangis anak-anak dan ibu-ibu kampung Luar Batang yang harta bendanya diporak-porandakan tidak mampu meluluhkan hati netizen. Kenapa netizen diam? Di mana mereka waktu itu?  Hanya sebagian orang yang masih punya hati nurani peduli dan berempati dengan mereka, meskipun dituduh membangkang, sementara sebagian besar netizen yang merupakan pendukung gubernur petahana diam dan selalu menyalahkan warga sebagai orang yang tidak perlu dikasihani.

luar-batang-nangis_20160411_083858

Ibu-ibu Kampung Luar Batang tak kuasa menangis menghiba agar rumahnya tidak dirobohkan (Sumber: WartaKota)

Kalau saya amati,  media yang mem-framing Bu Saeni tidak mem-framing warga Luar Batang yang terhempas nasibnya. Media tidak mengekspos berita penggusuran yang tidak manusiawi. Bisa dipahami hal ini karena media tersebut, termasuk media mainstream lainnya,  adalah pendukung utama Gubernur dan pemilik modal yang menghidupi media tersebut dari iklan-iklannya, sehingga isu ini tidak terlalu seksi untuk diungkap medianya.

Kemanusiaan seharusnya bebas nilai dan kepentingan. Kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat agama, suku, strata sosial, dan pandangan politik. Mungkin saat ini kemanusiaan masih bergantung pada apa, siapa, dan bagaimananya. Meski tidak mau bersuara, namun suara hati nurani tidak bisa dibohongi melihat kezaliman yang berlangsung.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Apakah rasa kemanusiaan harus tebang pilih? (Kasus Bu Saeni)

  1. partnerinvain berkata:

    Disitulah kadang merasa sedih

  2. muniranaylatama berkata:

    Kalau menurut pemikiran saya berdasarkan tulisan ini, nitizen lebih membatasi ruang pikir mereka dengan sekat “agama”. Karena kasus Bu Saeni tersebut didasari kesan “menghormati orang berpuasa”, maka nitizen lebih riuh membela dibanding warga Luar Batang yang -menurut saya- sepertinya lebih dirugikan atas tindakan satpol PP. Sekali lagi, berita yang didasari isu “agama” akan ‘selalu’ lebih ramai mendapat tanggapan.

  3. Adi berkata:

    Pak Rinadi, Pada kasus di serang, persoalan lebih pada tindakan satpol pp yang keterlaluan, dengan menggunakan dasar perda yg masih kontroversi, tetapi bukan pada tindakan razia sebagai aksi penertiban. Kalau misal satpol PP serang melakukan penertiban pedagang liar atau penghuni liar, sebagaimana banyak dilakukan oleh semua satpol PP di Indonesia (baca kembali, dilakukan oleh semua satpol pp di Indonesia), tidak pernah menjadi masalah. Soal penggusuran luar batang, sudah banyak yang membahas, masa Pak Rinaldi harus diajari supaya tidak membaca yang dari ratna sarumpaet saja? Salam damai.

    Satu lagi, kenapa sekarang orang islam seringkali baper dan sensitif. Sedikit2 tindakan orang lain (bahkan yang sama2 muslim pun) dianggap menghina agamanya. Jaman dulu orang buka warung saat puasa tidak masalah, sekarang jadi heboh.

  4. Radit berkata:

    He…he Ahok..Ahok…nasib loe apes banget yah, ngga usah ngomongin soal Sumber Waras deh, soal razia warung tegal di Serang yg ngga ada hubungannya ama eloe aja, lagi2x yg kena getahnya loe lagi loe lagi. Sial amat sich loe he..he..he

  5. aa berkata:

    ” Tidak semua orang Islam menjalani puasa, ada kelompok orang yang memang boleh tidak puasa dan menggantinya dengan puasa pada hari yang lain atau membayar fidhiyah, seperti orang sakit, wanita haid, wanita yang sedang hamil/menyusui, musafir, kuli kasar/buruh bangunan, dll. “sejak kapan kuli bangunan/buruh kasar tidak diwajibkan berpuasa???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s