Dosen-dosen super

Ketika berkunjung ke sebuah perguruan tinggi negeri di sebuah propinsi, saya bertemu dengan kolega dosen-dosen di sana. Dosen-dosen di Jurusan Informatika di tempat tersebut tidak cukup banyak tetapi mahasiswanya banyak sekali. Setiap tahun mahasiswa yang diterima untuk jurusan Informatika saja bisa mencapai hampir 200 orang. Dengan asumsi setiap kelas diisi 50 orang, maka terdapat 4 kelas paralel. Dengan kelas yang banyak dan jumlah mata kuliah yang dibuka juga banyak, maka setiap dosen bisa mengajar lebih dari 12 SKS. Seorang dosen yang saya ajak bincang-bincang mendapat beban 24 SKS dalam satu semester. Dosen-dosen yang lain tidak jauh beda, ada yang 18 SKS, 20 SKS, dan sebagainya.

Saya sebut mereka dosen-dosen super, karena dalam satu minggu mereka mengajar sampai 24 jam. Di kampus saya saja dosen tidak suka mengajar banyak-banyak, apalagi mengajar dengan beban SKS seperti kolega yang saya ceritakan di atas.  Aturan DIKTI mengatakan beban dosen mengajar per semester maksimal 12 SKS, berarti dosen-dosen tersebut adalah dosen yang luar biasa sibuk. Waktunya habis tersita untuk mengajar saja. Memang untuk beban > 12 SKS mereka dibayar kelebihannya (dihitung per jam) , namun saya bisa membayangkan betapa capeknya dosen tersebut. Untuk satu mata kuliah yang sama, mereka harus mengulang materi yang sama untuk empat kelas paralel. Ibarat kaset yang harus disetel berulang-ulang. Jika di kelas pertama tadi bicara apa, maka di kelas kedua, ketiga, dan keempat tentu omongannya yang sama diulang lagi. Alangkah bosannya, begitu saya bayangkan.

Meskipun dosen-dosen tersebut terlihat happy-happy saja, namun saya menganggap keadaan ini adalah hal yang kurang baik. Kasus serupa banyak ditemui di berbagai perguruan tinggi lain, baik di PTS maupun PTN, baik di Jawa maupun luar Jawa. Dengan kondisi perguruan tinggi dimana waktu dosennya habis tersita untuk mengajar saja, lalu kapan untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah? Tugas dosen kan tidak hanya mengajar saja, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan melalui serangkaian penelitian. Dari penelitian tersebut dihasilkan luaran antara lain publikasi makalah (paper) di jurnal atau prosiding.

Dengan kondisi yang padat mengajar tersebut, dosen di perguruan tinggi tersebut masih diminta untuk meningkatkan jumlah publikasi ilmiah, karena jumlah publikasi ilmiah yang terindeks membawa dampak akreditasi perguruan tinggi tersebut. Benar-benar dosen yang luar biasa, beban mengajar padat tapi mereka masih disuruh membuat publikasi. Ini jelas sesuatu yang sulit, sebab publikasi hanya bisa dihasilkan jika ada penelitian. No research, no publication!

Dengan kondisi seperti di atas, maka sulit kita mengharapkan jumlah publikasi akademisi di Indonesia bisa meningkat. Jangan harap bisa menyamai Malaysia atau Thailand, bisa setengah kali jumlah publikasi negara itu saja sudah lumayan.

Idealnya rasio dosen dan mahasiswa itu rendah, yaitu satu dosen berbanding 10 hingga 20 mahasiswa. Pada kasus di perguruan tinggi yang saya kunjungi rasionya mungkin 1 : 40 ataubahkan  1 : 60. Dengan rasio yang rendah maka dosen tidak habis waktunya hanya mengajar saja, tapi masih punya waktu untuk meneliti. Namun, rasio yang rendah ini agak  sulit dicapai, kebanyakan perguruan tinggi masih mengandalkan pemasukan dana dari mahasiswa. Makin banyak mahasiswa yang diterima, maka jumlah pemasukan dana makin besar. Jika jumlah mahasiswa dibuat dengan rasio ideal, maka mereka mendapat dana yang sedikit. Jadi, kualitas sering dikorbankan demi kuantitas. Inilah salah satu dilematis perguruan tinggi di tanah air kita.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Dosen-dosen super

  1. Andik Taufiq berkata:

    Dulu, saya pernah mengajar di Unikom sebanyak 9 kelas. Rasanya luar biasa pak. Belum lg harus berkeliling lagi ke universitas lainnya. Untuk mengajarkan materi serupa. Kebayang bagaimana capeknya.🙂

  2. Michael berkata:

    Kenapa tidak banyak yang mau jadi dosen ?
    Karena kerjanya berat, tuntutannya banyak dan gajinya kecil. Apalagi kampus swasta, dosen benar-benar seperti kuli. Ngajar banyak itu sebagian besar alasannya karena tuntutan dapur juga.

    Di luar negeri juga dosen/professor bekerja keras seperti kuda, tapi sebagian waktu mereka adalah benar-benar untuk riset. Sehingga jumlah publikasi mereka sangat banyak. Dan gaji mereka juga lebih memadai.

  3. Piyu berkata:

    Di Indonesia hanya sedikit orang yang ingin menjadi dosen. Berbeda dengan di negara-negara maju. Di Amerika lulusan S3 berebut ingin jadi dosen. Di Amerika ada 3,5 juta lulusan S3, jauh lebih banyak ketimbang Indonesia yang lulusan S3 nya hanya 75.000 orang. Di Amerika saking ketatnya penerimaan calon dosen tetap untuk jurusan-jurusan saintek, fresh graduate S3 tidak bisa langsung mendaftar menjadi dosen tapi harus mengikuti pendidikan riset postdoc selama 1-2 tahun. Setelah diterima menjadi Assistant Professor (pangkat terendah dosen tetap disana), dosen tersebut diberi waktu maksimal 8 tahun untuk mendapatkan Tenure dari penelitian2nya, lebih lama dari itu maka akan dikeluarkan dari kampus.

    Enaknya jadi dosen itu bekerjanya sangat fleksibel, karena kita bebas menentukan jadwalnya. Tidak diwajibkan bekerja dari jam 8 sampai jam 4 seperti di perusahaan2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s