Mudik yang “Horor” dan Hilangnya Rasa Empati

Mudik Lebaran tahun ini meninggalkan catatan kelabu. Kemacetan horor di pintu keluar tol Brebes (Brexit) telah menyebabkan 12 orang pemudik meninggal dunia. Kalau meninggal dunia karena kecelakaan mungkin berita biasa saja, tetapi meninggal dunia  karena daya tahan tubuh yang tidak kuat di tengah kemacetan puluhan jam, ini jelas tidak biasa. Anda bisa membayangkan ribuan kendaraan dengan penumpang di dalamnya tidak bisa bergerak keluar tol selama puluhan jam. Mereka harus rela duduk di dalam kendaraan yang sempit selama berjam-jam. Bahkan ada pemudik yang berada tiga hari tiga malam masih berada di tengah kemacetan (Baca:Kesaksian dari Jalur Neraka Mudik, 44 Jam di Jalan Raya).

Daya tahan tubuh manusia itu terbatas. Macet stagnan lebih dari tiga jam saja sudah membuat tubuh linglung, stres, emosi menaik, jadi uring-uringan. Semua menumpuk terakumalasi menjadi satu. Apalagi di jalan tol dengan suhu udara yang panas. Tidak ada tempat beristirahat di pinggir jalan tol, tidak ada warung, toko, atau hotel  sekedar melepas penat. Paling-paling penumpang hanya bisa keluar kendaran lalu duduk-duduk atau berdiri di luar melepas kejemuan. Tapi jika stagnan selama dua hari dua malam lebih di jalan tol tanpa persediaan makan minum yang cukup, udara yang panas dan gerah, tidak ada fasiliats jamban, siapa yang tahan? Bagi orang yang memang kondisinya tidak fit sebelum mudik, atau punya riwayat penyakit jantung, stroke, kemacetan horor di Brexit itu membuat andil dekat dengan kematian. Itulah yang terjadi di jalan tol Brebes menjelang Idul Fitri.

Boro-boro keluarga pemudik yang ditimpa  musibah mendapat simpati, yang terjadi adalah mereka disalahkan. Banyak netizen menyalahkan pemudik karena bawa mobil buat pamer. Komentar-komentar yang tak tahu diri dan tanpa merasa empati sedikitpun keluar dari jari-jemari netizen. Netizen bisa menyalahkan pemudik karena yang terkena musibah kematian itu bukan keluarga mereka. Cobalah pikir, kalaulah tempat duduk kereta api dan pesawat tersedia dalam jumlah sangat banyak, mungkin para pemudik tidak perlu naik mobil menuju kampung halaman. Kenyataannya, kapasitas kereta api dan pesawat sangat kecil dibandingkan orang yang mudik. Jadi, pilihan berkendara dengan mobil tidak dapat dielakkan. Bawa mobil untuk pamer? Mungkin saja ada, tetapi membawa mobil ke kampung halaman lebih pada alasan kepraktisan saja, sebab mobilitas di kampung halaman lebih mudah jika membawa kendaraan sendiri.

Reaksi Pemerintah sama saja dengan netizen itu. Boro-boro meminta maaf karena lalai menjamin keselamatan warganya, Pemerintah malah tidak percaya kalau kematian 12 orang pemudik itu akibat kemacetan. Coba kita simak pernyataan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan di dalam berita ini:

“Masa kemacetan bisa menimbulkan orang meninggal, kan enggak mungkin. Kalau kecelakaan, mungkin. Kalau macet saya kira enggak,” kata Jonan, saat mengikuti open house di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu, 6 Juli 2016.

Menurut dia, orang meninggal bisa dengan bermacam-macam cara, bukan karena kemacetan. “Kalau tidak mengidap penyakit sebelumnya, saya kira enggak akan meninggal,” katanya.

Jonan mengatakan ada yang bilang pemudik meninggal karena terjebak macet 12 jam dan mengalami dehidrasi. Dia pun meragukan hal ini. “Kalau puasa berapa jam? Lebih saya kira 12 jam, buktinya enggak apa-apa juga. Ini kan cuma duduk-duduk saja. Menurut saya, ini sudah mengidap penyakit sebelumnya atau apa,” katanya.

Baca kembali baik-baik pernyataan Pak Jonan di atas. Ini menteri sama sekali tidak memiliki rasa empati pada korban.  Dia bisa bicara demikian karena tidak berada di TKP saat itu. Apakah Pak Jonan perlu merasakan sendiri kemacetan selama puluhan jam di sana baru bisa mengakui bahwa memang kemacetan itulah yang memicu kematian para pemudik. Bagaimana dengan kesaksian pemudik ini yang menyatakan ibarat dimasukkan ke dalam penjara di jalur neraka. Saya sendiri pernah terjebak kemacetan di jalan tol selama 19 jam di jalan tol Cikampek hingga jalan tol dalam kota Jakarta ketika hendak ke bandara, saya merasakan sendiri betapa menderitanya di dalam bus. Stres, bingung, kesal, lapar, bercampur menjadi satu. Untung saja di dalam bus ada toilet, bagaimana dengan penumpang di dalam mobil lain yang sama sekali tidak ada fasilitas toilet? Bagaiamana dengan penumpang yang membawa bayi dan anak kecil? Tentu rewelnya minta ampun.

Karena itu, berhentilah menyalahkan siapapun. Stop-lah membuat komentar yang menyakitkan para korban dan keluarganya. Mudik lebaran adalah peristiwa setahun sekali. Pemerintah seharusnya sudah mengantisipasi fenomena jutaan orang bepergian dalam waktu libur yang pendek secara serentak. Perencanaan penanganan mudik perlu disiapkan secara matang dan terpadu dengan sejumlah alternatif yang lebih dari satu. Tugas Pemerintah adalah menjamin keselamatan warganya, bukan menyalahkan warganya.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Mudik yang “Horor” dan Hilangnya Rasa Empati

  1. kebomandi berkata:

    Saya mudik ke daerah bumiayu melewati tol brebes dan kondisi nya banyak sampah dimana-mana. Ga bisa dibayangkan kondisi nya saat macet itu sepanjang apa. Semoga tahun depan ga ada macet yg seperti ini😦

  2. Anonim berkata:

    Saya juga alumni Brexit tanggal 26 Juni 2016 lalu, tetapi antrian masih normal. Orang tua saya menperkirakan pasti macet Brexit-nya. Ternyata macet beneran

  3. Prita Pdinata berkata:

    Huhuhu iya, fasilitas transportasi umum masih jauh dari layak (dalam jumlah kuota dan armada), di samping itu, kepemilikan kendaraan pribadi juga tergolong mudah, jadi orang banyak yang milih pake mobil pribadi. Sedihnya di sana nggak dibuka posko-posko darurat gitu ya😦

  4. Susie Ncuss berkata:

    ngeri banget memang si brexit inih.
    untungnya saya kalau mudik ke arah barat (sumatera) jadi macetnya gak seajaib yang di pulau jawa😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s