Perlakuan Terhadap Guru, Dulu dan Sekarang

Lihat gambar di bawah ini,  apa yang terpikir olehmu? Mungkin seperti inilah kira-kira perlakuan orang zaman dahulu terhadap guru dan bedanya dengan zaman sekarang (Gambar diambil dari sini).

see-the-problem

Zaman dulu guru begitu dihormati. Orangtua dan anak menurut apa yang dikatakan guru. Jika guru menghukum muridnya (misalnya karena berbuat salah), orangtua tidak marah. Mereka menganggap memberi hukuman adalah salah satu bentuk pendidikan juga agar anak mengerti kesalahannya. Reward and punishment adalah metode dalam pendidikan: jika siswa benar maka pantas diberi hadiah (reward), jika salah maka diberi hukuman (punishment).  Reward bisa berupa nilai, pujian, ucapan selamat, dan sebagainya. Punishment bisa berupa tugas tambahan hingga hukuman fisik yang sifatnya bukan untuk mencelakai, tetapi sebagai peringatan supaya tidak mengulangi lagi. Bahkan, orangtua zaman dulu sering menambahi hukuman kepada anaknya di rumah. Gambar di sebelah kiri barangkali menceritakan kondisi seperti ini.

Tetapi kini zaman sudah berubah. Orangtua ikut intervensi dalam pendidikan anak. Sejauh intervensi itu berupa saran, kritik, tentu tidak masalah, sebab pendidikan adalah tugas bersama, baik guru, sekolah, orangtua, maupun masyarakat. Tetapi, masalahnya menjadi lain jika intervensi itu sampai mencampuri kewenangan guru dalam memberi pendidikan. Guru sudah mendidik dengan “benar” malah dianggap salah dan dipidanakan. Guru mencubit siswanya, orangtua melaporkan ke polisi. Guru  menghukum siswanya, orangtua datang dan menyerang guru anaknya. Misalnya baru-baru ini seorang guru SMP di Bantaeng, Sulawesi Selatan, harus mendekam di penjara karena mencubit siswanya yang berperilaku nakal (Baca: Cubit Siswi Anak Polisi, Guru Bantaeng Masuk Penjara). Gambar di sebelah kanan kira-kira menggambarkan kondisi seperti ini.

Terkait dengan hukuman fisik, kita yang pernah sekolah pada zaman tahun 60-an hingga  80-an menganggap hukuman fisik dari guru masih dalam batas kewajaran. Saya masih ingat guru saya zaman SD dulu, jika kami telat datang sholat berjamaah di mushola sekolah, maka kaki kami yang dilapisi kain sarung dipukul dengan rotan. Tidak keras, juga tidak lunak. Jika kami tidak mengerjakan PR atgau tidak bisa mengerjakan soal hitungan di papan tulis, maka siap-siap telapak tangan kami menerima pukulan rotan. Apakah orangtua kami marah mendengar hukuman itu? Tidak, malah mereka tertawa sambil menambahi dengan nasihat agar kami lebih rajin lagi belajar dan selalu patuh pada guru.

Tetapi sekarang, dengan berkembangnya isu HAM, hukuman fisik dari guru dianggap sebagai pelanggaran HAM. Menurut saya, sejauh hukuman fisik itu mengarah ke penganiayaan dan merendahkan martabat manusia, jelas itu lebay alias berlebihan. Guru juga tidak boleh mentang-mentang kepada muridnya. Ada guru yang menendang kepala dan badan muridnya dengan kaki. Ada guru yang menampar muridnya sangat keras sehingga ia sampai muntah-muntah, pusing, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Ada guru yang mengeluarkan kata-kata kasar dan kata makian yang merendahkan harga diri murid. Nah, ini jelas guru lebay yang tidak mengerti mana hukuman yang bersifat mendidik dan mana hukuman yang mencelakakan lahir dan batin.

Di dalam ajaran Islam bagaimana adab kepada guru (dan orangtua) itu sudah diatur dengan baik di dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi. Misalnya jika anak sampai usia 10 tahun tidak mau sholat, maka orangtua (juga guru) boleh memukul kakinya. Pukulan itu bukan pukulan untuk mencelakakan, tetapi sebagai efek shock therapy agar dia tidak lalai di kemudian hari. Saya dan anda yang pernah merasakan hukuman seperti itu tentu ketika dewasa merasa berterimakasih, justru karena efek shock therapy  itulah maka saya dan anda tidak lalai dalam mengerjakan sholat hingga saat ini. Betul tidak?

(Tambahan: tentang gambar di atas, ada juga yang menafsirkan bahwa anak kecil pada gambar di sebelah kiri adalah sang ayah pada gambar sebelah kanan. Dendam masa kecil kepada guru? Entahlah. )

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Perlakuan Terhadap Guru, Dulu dan Sekarang

  1. Jacobian berkata:

    dulu pas sekolah, bu guru suka motong rambut aq ketika dah panjang setiap selesai upacara. jadi ya seorang guru terkadang suka kelewatan. yang penting harus ada check and balances.

  2. Prita Pdinata berkata:

    Kalo kata Rhenald Kasali, orang tua jaman sekarang semacem ‘mengkerangkeng’ anak-anaknya di zona nyaman. Jadi bener-bener ngelindungin anak dari sakit dikit, capek dikit, dll. Ya mungkin ini salah satu implementasinya. Implementasi lain, misalnya, si anak dikasih ‘jalan lurus’ dengan dipilihkan sekolah dan pekerjaan dan dikasih rekomen pasangan hidup sama si ortu, sehingga anak jadi nggak bener-bener bisa berdikari gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s