Setelah PPDB 2016 Berlalu

Tanggal 18 Juli 2016 adalah awal tahun ajaran baru untuk tingkat SD, SMP, dan SMA. Sebagian besar anak-anak sudah mendapat sekolah yang diidamkannya masing-masing, sebagian lagi masuk di sekolah yang kurang diinginkannya, dan sebagian lagi gagal mendapat sekolah. PPDB (Pendaftaran Peserta Didik baru) sekolah negeri tahun 2016 di Kota Bandung sudah berakhir dengan sejumlah banyak catatan. Tentu ada yang bahagia, sebagian tentu ada yang merasa kecewa. Ada yang merasa diperlakukan kurang adil, tetapi sebagian lagi merasa PPDB ini sudah adil. Adil atau tidak adalah relatif bagi setiap orang, jika keinginannya tercapai maka dia akan senang hati menyebutnya sudah adil, tetapi jika keinginannya tidak tercapai maka dia (tidak semua begitu) mungkin menganggap proses PPDB ini tidak adil.

PPDB tahun 2016 telah menguras banyak energi dan perasaan orangtua, terutama bagi orangtua dengan nilai UN anaknya yang serba tanggung. Mau milih sekolah ini khawatir tidak diterima, mau milih sekolah yang itu khawatir banyak saingan. Passing grade benar-benar tidak dapat diprediksi sampai jam-jam terakhir pendaftaran. Pergerakan data  yang lambat dan sebaran nilai UN yang kurang rinci, membuat sport jantung banyak orangtua. Sistem PPDB online tidak benar-benar online, karena data yang tersaji tidaklah real time.

Masyarakat kota Bandung kebanyakan negeri-minded.  Bukan apa-apa, untuk tingkat SMP dan SMA kebanyakan sekolah yang bagus itu adalah sekolah negeri. Sekolah swasta hanya beberapa saja yang bagus dan itupun uang pangkal serta SPP-nya lumayan mahal, tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat. Lagipula, sekolah swasta yang bagus-bagus itu sudah tersegmentasi pasarnya berdasarkan etnis, agama, atau status sosial.

Hasil PPDB 2016 sudah diumumkan di situs PPDB Kota Bandung, namun data kelulusan PPDB ini hanya akan bertahan selama tiga bulan saja, setelah itu masyarakat tidak dapat melihatnya lagi. Untunglah ada beberapa blog merekap hasil PPDB sehingga dapat menjadi rujukan untuk tahun-tahun berikutnya, misalnya direkap oleh seorang volunteer di dalam blog bicarapassinggrade.wordpress.com.

Anak saya yang nomor dua masuk SMA tahun ini. Keinginannya untuk masuk SMA negeri  di Jalan Belitung ternyata belum berhasil. Kurang sedikit lagi passing grade-nya untuk bisa lolos pada SMA pilihan pertama di Jalan Belitung itu.  Andai Peraturan Walikota (Perwal) yang mengatur passing grade luar kota minimal sama dengan passing grade tahap dua (gabungan wilayah) dijalankan panitia, mungkin dia bisa lolos di SMA pilihan pertama. Namun Panitia PPDB tidak mematuhi amanah Perwal ini dengan alasan yang tidak jelas. Meskipun saya sudah menyampaikan komplain ini ke Disdik di Jalan Ahmad Yani, namun tidak ada tanggapan. Bahkan, jika amanah Perwal yang ini dijalankan dan kuota luar kota yang tidak terisi dilimpahkan kembali ke GW, maka passing grade akan bisa turun lagi sehingga banyak anak-anak yang  terlempar dari pilihan 1 dan 2 akan “tertolong” masuk lagi. Bukankah siswa dalam kota Bandung seharusnya lebih diutamakan dari pada siswa luar kota? Ya sudahlah, anak saya akhirnya bisa menerima dengan lapang dada masuk di SMA pilihan kedua. Meskipun ada rona kekecewaan, namun saya anggap mungkin sudah jalan hidupnya demikian. Dia memang tidak  lolos masuk SMA terbaik di kota Bandung, namun insya Allah SMA pilihan keduanya ini mungkin SMA yang terbaik baginya.

Harus saya akui, PPDB 2016 tetap  belum bisa menghilangkan kesan sekolah favorit dalam benak masyarakat, termasuk saya sendiri. Meskipun kebijakan walikota Bandung pada PPDB tahun ini bertujuan baik yaitu agar anak bersekolah di sekolah terdekat dengan rumahnya (sistem rayonisasi), namun bagi sebagian masyarakat memburu sekolah favorit tersebut tetap tidak bisa dihilangkan. Bagi saya pribadi, masuk ke sekolah favorit itu bukan soal gengsi, tetapi bersekolah di sekolah favorit itu agar dapat merasakan suasana kompetitif bagi sang anak. Anak-anak yang masuk di sekolah favorit itu memang sudah bibit unggul, jadi jika berada di tengah-tengah mereka dapat memotivasi anak lain untuk selalu mengejar ketertinggalan dan berusaha terus maju. Inilah yang saya maksud dengan suasana kompetitif yang berdampak positif bagi perkembangan akademik seorang anak. Bukankah di ITB tempat saya mengajar suasana kompetitif itu terbentuk karena mahasiswa yang masuk adalah mahasiswa pilihan yang berotak brilian. Input mahasiswa yang bagus jugalah yang membuat ITB bisa menjadi perguruan tinggi terdepan dalam bidang sains dan  teknologi. Suasana kompetitif semacam ini sulit ditemukan di sekolah atau perguruan tinggi yang biasa-biasa aja.

PPDB tahun 2016 yang membagi seleksi calon siswa menjadi kategori Dalam Wilayah (DW) dan Gabungan Wilayah (GW) (baca tulisan saya sebelumnya) menghasilkan beberapa kejutan yang tak terduga. Beberapa SMA favorit memperoleh siswa dengan nilai UN yang sangat rendah. Di sebuah SMA favorit yang selama bertahun-tahun passing grade-nya selalu tinggi (rata-rata nilai UN yang diterima di atas 370) nilai UN terkecil yang diterima adalah 166. Jika dirata-rata dengan empat pelajaran yang di-UN-kan, maka nilai rata-ratanya hanya 41,5. Saya berpikir positif saja, mungkin sudah rezekinya diterima di sekolah itu, maka kita tidak patut membuli anak yang bernilai UN rendah tersebut. Ada puluhan anak lain dengan nilai UN yang rendah-rendah berhasil lolos masuk SMA favorit tersebut, sangat jauh dengan nilai UN mayoritas anak lainnya yang tinggi-tinggi. Anak-anak tersebut bisa lolos masuk karena “diuntungkan” dengan keberadaan rumah yang berada di dalam rayon SMA favorit itu. Karena jumlah pendaftar dari dalam wilayah SMA tersebut sangat sedikit (maklum bukan wilayah pemukiman penduduk), sementara kuota yang tersedia besar, maka mereka otomatis diterima karena tidak ada saingan di dalam wilayahnya. Mereka pun tidak perlu bersaing dengan anak-anak dari luar rayon (GW)  dengan nilai UN yang lebih tinggi, yang berjuang dengan susah payah untuk masuk dan akhirnya sebagian besar terlempar.

Apakah hasil seperti ini yang dimaksudkan Pak Walikota dengan sistem “proteksi wilayah”, yaitu anak-anak yang berada di dalam wilayah SMA-nya lebih diutamakan daripada anak-anak yang tinggal jauh meskipun nilai UN-nya kecil. Ada kesan anak tidak perlu belajar terlalu rajin, toh nanti bisa masuk ke sekolah (favorit) karena dekat rumah, sementara anak-anak yang rajin dan pintar kalah karena faktor jarak. Jika sistem seperti ini diteruskan setiap tahun, maka bukan tidak mungkin kesan favorit SMA-SMA tersebut akan pudar karena mereka banyak menerima siswa dengan kemampuan pas-pasan akibat proteksi wilayah. Hal ini menjadi tantangan bagi para guru di sekolah tersebut, yang mungkin shock dengan kondisi ini, yaitu bagaimana membuat anak-anak yang mempunyai keterbatasan akademik itu menjadi orang-orang hebat di kemudian hari. Saya percaya pendidikan tidak hanya untuk memberdayakan otak kiri saja yang identik dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memberdayakan otak kanan yang berhubungan kecerdasan emosional. Kalau anak-anak itu  tidak dapat dibentuk menjadi orang pintar, mudah-mudahan para guru dapat membentuknya menjadi orang yang sholeh.

Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Seputar Bandung. Tandai permalink.

3 Balasan ke Setelah PPDB 2016 Berlalu

  1. Chandra berkata:

    Sepertinya terbalik pak, otak kanan identik dengan kecerdasan emosional, otak kiri terkait kecerdasan intelektual.

  2. Pastore berkata:

    Suatu catatan yang sangat menarik untuk dibaca karena berkaitan dengan peristiwa aktual yang baru saja kita lewati,..

    Memang kalau kita perhatikan proses yang terjadi selama PPDB kota Bandung 2016 ini benar-benar menguras perhatian, energi, juga perasaan campur aduk ketika kita melalui proses yang benar benar harus kita lalui sebagai wujud kepedulian kita pada pendidikan yang akan diikuti oleh anak-anak kita yang memimpikan masuk disekolah terbaik dikota Bandung ini bahkan konon katanya diIndonesia,.

    Ada proses panjang yang harus dilalui untuk memperoleh satu tempat di sekolah favorite tsb, dimulai dari persiapan kita sbg orangtua yang sungguh-sungguh mempersiapkan anak2nya untuk masuk kedalam proses tersebut dan kemudian bagaimana mengawal ketika peoses sedang berlangsung diakhiri dengan hasil..

    Yang mana hasil akhir bisa membahagian diterima di sekolah favorite pilihan utama, kurang menggembirakan diterima dipilihan kedua, mengecewakan / terpaksa harus bersekolah di sekolah swasta..

    Proses inilah pada PPDB 2016 terjadi dikota Bandung, adanya Perwal PPDB 2016 benar benar untuk sebagian masyarakat sangat menguntungkan karena mendapat keuntungan proteksi kewilayahan tanpa harus bersaing ketat, tapi untuk sebagian besar masyarakat sangat merugikan dmn nilai nilai persaingan/kompetisi terabaikan.. anak anak yg memiliki nilai yang tinggi terlempar..padahal mereka berjuang keras untuk mendapatkan satu tempat di sekolah terbaik hanya karena kebijakan yg membatasi mereka,..sangat menyedihkan memang tetapi itulah realita hidup, kita harus menghadapi dengan lapang dada dan tetap memberi dorongan positif kpd anak anak kita supaya mereka tetap semangat jangan down..itulah tugas kita sbg orang tua..

    Kita tidak tau bagaimana dengan tahun depan, sebab thn 2017 aturan PPDB akan dikendalikan oleh Provinsi secara Nasional bagaimana jadinya entahlah kita lihat saja nanti..

    Untuk tingkat kota saja sudah sesulit ini apalagi tingkat Provinsi..
    Mudah-mudahan bisa lebih baik dengan cerita / pengalaman yang lebih menarik..

    Semoga,..!

    Wassalam,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s