Kudeta di Turki, yang Ribut di Indonesia

Kudeta yang gagal di Turki menarik perhatian masyarakat dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Kudeta yang umurnya cuma lima jam gagal mendapat dukungan dari militer dan partai oposisi. Kudeta yang terjadi pada tengah malam itu mengagetkan banyak orang di tanah air. Dengan cepat peristiwa kudeta itu menjadi perbincangan di media dan jejaring sosial dari pagi hari hingga hari ini.Bagi masyarakat Indonesia, Turki memiliki kedekatan emosional karena sama-sama negara dengan penduduk mayotitas beragama Islam, sehingga apa yang terjadi di Turki akan menjadi bahan pembicaraan di tanah air.

Masyarakat Indonesia ikut terpecah dengan peristiwa kudeta di Turki itu. Secara garis besar ada dua kelompok yang menanggapi. Kelompok pertama mengecam kudeta di Turki dan bersyukur kudeta tersebut akhirnya gagal. Kelompok ini merupakan kalangan masyarakat Indonesia yang bersimpati kepada Turki maupun Erdogan. Mereka menganggap Pemerintahan Erdogan sebagai role model politik Islam yang  berhasil mendobrak prinsip-prinsip sekularisme yang selama ini menjauhkan Turki dari kultur Islam yang dianut oleh 99 persen penduduknya.

Sebaliknya, ada pula kelompok masyarakat Indonesia yang kecewa kudeta tersebut gagal. Mereka sebenarnya menginginkan kudeta itu berhasil seperti halnya yang terjadi di Mesir, sebab hanya kudetalah yang dapat mendepak perpolitikan Islam dari Turki. Mereka tidak senang dengan gaya Pemerintahan Erdogan, termasuk antipati terhadap partainya Erdogan, AKP. Mereka  khawatir kebangkitan politik Islam di Turki akan menyebar pengaruhnya di Indonesia. Erdogan digambarkan sebagai pemimpin otoriter sehingga tidak masalah dia diturunkan dengan cara apapun, termasuk kudeta militer sekalipun. Saya menilai kelompok kedua ini kontradiktif, sebab di satu sisi mereka pentolan pendukung demokrasi, namun di sisi lain mereka mendukung aksi yang tidak demokratis seperti kudeta terhadap pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu yang sah.

Secara sederhana kelompok yang mensyukuri kudeta gagal adalah kelompok islamis, atau  mereka yang bersimpati dengan Erdogan, sedangkan kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta adalah kelompok pengusung Islam liberal, sekuler, termasuk juga Syiah. Kenapa saya sertakan pendukung Syiah masuk ke dalam kelompok ini, karena Turki selama ini memusuhi Iran, sedangkan Iran adalah  panutan kaum Syiah di tanah air. Penganut Syiah di tanah air tidak menyukai ormas keagamaan maupun partai Islam yang selama ini selalu menghadang gerakan Syiah, padahal ormas keagamaan dan partai Islam itu memiliki ikatan batin dengan Turki yang mayoritas penduduknya bermadzhab Sunni.

Dua kelompok di atas perang opini dan perang komentar di media dan jejaring sosial. Itu dapat dilihat pada posting-an di Facebook, Twitter, dan lainnya.  Bagi kelompok pertama, Erdogan semakin disanjung sebagai pemimpin yang dicintai oleh rakyat Turki, sebab rakyat Turki menolak kudeta itu, mereka menuruti perintah Erdogan untuk turun ke jalan-jalan sebagai aksi menolak kudeta. Sedangkan bagi kelompok kedua, mereka menuding bahwa kudeta itu adalah akal-akalan yang dibuat-buat oleh Erdogan untuk mengangkat pamornya.

Ada pula pihak yang mencoba mengaitkan kudeta di Turki ini dengan Jokowi. Tampaknya polarisasi kedua kelompok dalam menyikapi kudeta di Turki mirip dengan polarisasi ketika Pilpres tahun 2014. Kelompok yang kecewa dengan kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah pendukung Jokowi di Pilpres, sedangkan kelompok yang mensyukuri kegagalan kudeta di Turki kebetulan adalah penolak Jokowi. Mungkin faktor kebetulan saja atau memang efek perpecahan akibat Pilpres 2014 masih terasa sampai saat ini hingga masalah di Turki pun terbawa-bawa dalam perdebatan di tanah air. Saya heran, mengapa orang Indonesia sedemikian ributnya dengan apa yang terjadi di Turki.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Kudeta di Turki, yang Ribut di Indonesia

  1. rinasetyawati berkata:

    apalagi di FB ruamenya bahas masalah kudeta ini

  2. Dian berkata:

    “kelompok kedua ini kontradiktif, sebab di satu sisi mereka pentolan pendukung demokrasi, namun di sisi lain mereka mendukung aksi yang tidak demokratis seperti kudeta terhadap pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu yang sah”

    bener banget pak..😀

  3. mhilal berkata:

    Saya rasa, perlu disebutkan juga kelompok ketiga di indonesia ini: mereka yang menentang kudeta, sekaligus menentang gaya kepemimpinan erdogan yg otoriter

  4. azlansyah100 berkata:

    Wah.. ternyata yang di Indo tidak kalah heboh ya

  5. Adi berkata:

    Kelompok pendukung erdogan juga membingungkan, di satu sisi mereka menyanjung erdogan, di sisi lain mengecam Israel dan AS, padahal erdogan adalah sekutu erat AS, dan belum lalu bersekut lagi dengan Israel. Kelompok pendukung erdogan di Indonesia erat dengan mantan tentara (ingat pilpres), padahal erdogan anti tentara. Mereka pendukung kebebasan berbicara (saat mengecam jokowi), padahal erdogan membrangus semua jurnalis yang kritis. Piye tho iki?… intinya balik-balik soal kepentingan saja, mendukung atau anti erdogan hanya soal waktu saja, bisa dibolak-balik. Dan hampir dapat dipastikan, yang ribut soal turki, belum pernah menginjak tanah turki, betul kan? Saya tidak tahu, Pak Rinaldi sudah pernah ke sana atau belum? hehehehe… Salam damai.

  6. rahmabalcı berkata:

    realnya lebih menyeramkan mba:) tetap ada agenda politik terselumbung dr penguasa, skrg yg dijadikan ‘kambing guling’nya adalah kawan lama nya yang aktif dipergerakan dakwah dan pendidikan yg mukim di US. skrg lg ada bersih2 di segala departemen nya,yang berkaitan sm kelompok yg gak disukai si pemimpin, mau anggota akt,f atau sekadar simpatisan yg sering dtg ke kajian tarikat si orang ini.sudah ribuan pns baik polisi,tentara ,guru yang kena pecat, departemen suami saya kerja-kebetulan jg pns-udah ga kondusif ketika intansinya ngabarin bahwa 7500 personil akan dipecat jg yg berkaitan sm isu kemaren itu,lah pns yg mo sholat aja dicurigain simpatisan org yg sedang di labeli teroris-.-‘ sampe suami blng: mending sekuler sekalian aja ni negara,kalo islam cm dijadiin kendaraan politik dan nyari simpati. hubungan negara ini sm isr** mesra kok, buktinya dgn mudah saya menemukan produk dr negara gak jelas itu,byk perusahaan lokal yg diakuisisi sm negeri ga jelas ituhh. skrg saya nonaktifkan akun sosmed kyk fb yg dikontrol pemerintah,smg komen di blog ini aman..

  7. Ismail Sunni berkata:

    Mau nambahin komen di sini pak, yg sudah diampet dari kemarin….

    ada golongan ke tiga sebenarnya, penduduk indonesia yang cukup tahu kondisi Turki sebenarnya. Kebetulan, saya dekat dengan golongan ke tiga ini. Golongan ini tidak pro kudeta, tapi malah menganggap kudeta ini buatan alias sandiwara semata supaya Pakde Erdogan makin naik pamornya. Golongan ini muslim juga, biasanya tahu juga tentang Gulen dan gerakan Hizmet.

    Salah satu efek dan momentum dari kudeta, Erdogan meminta penutupan sekolah2 yang diduga terafiliasi (termasuk SMA saya).

    Yah, politik memang tak sesempit time line fesbuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s