Pokemon Tidak Perlu Dilarang

Permainan online berbasis augmented reality dan teknologi GPS yang lagi heboh saat ini adalah Pokemon. Di dalam permainan yang menggunakan gawai ini, pengguna berburu monster lucu  di berbagai tempat. Semakin banyak dan semakin langka monster yang ditangkap, semakin mengasyikkan dan membuat penasaran hingga ketagihan.Di bawah ini gambar permainan Pokemon (Sumber gambar dari sini).

pokemon-go-nick_statt-screenshots-2.0

Layar permainan Pokemon.

pokemon-go-nick_statt-screenshots-1.0

Monster dari permainan Pokemon ini berbasis augmented reality, dia muncul dengan latar belakang berupa gambar dunia nyata yang ditangkap oleh kamera perangkat gawai.

Positifnya,  pemain Pokemon perlu banyak berjalan kaki sampai berkilo-kilo meter untuk berburu monster di tempat-tempat yang dianggap banyak monster bersembunyi, sehingga membuat tubuh sehat. Negatifnya, karena mata selalu tertuju pada layar gawai sambil berjalan kaki, si pengguna mungkin tidak awas sehingga bisa jatuh, tertabrak, atau menabrak orang lain. Bahkan ada orang yang tidak peduli adab sampai berburu Pokemon ke dalam masjid, tidak sadar mereka memakai celana pendek. Masuk masjid kok tidak punya tata krama begini.

Cari-Monster-Pokemon-Dua-Pria-Bercelana-Pendek-Menyelonong-ke-Masjid-Cheng-Hoo-Pandaan-Pasuruan-by-Tafdil-31wdr6qacv5x91smqv5r7k

Nyelonong ke dalam masjid mencari Pokemon, tidak sadar menggunakan celana pendek. Sumber gambar: hidayatullah.com

Sebegitu hebohnya permainan ini, lembaga Pemerintah dan lembaga layanan masyarakat sampai perlu mengeluarkan edaran larangan bermain Pokemon di instansinya, seperti edaran yang dikeluarkan oleh Menpanlarangan dari kepolisian, dan larangan yang diekluarkan banyak Pemda. Bahkan para ulama NU pun mulai membahas hukum bermain Pokemon hingga mengeluarkan hukum makruh sampai haram.  Ada juga yang khawatir kalau pembuat Pokemon punya agenda terselubung untuk mengumpulkan data dari GPS untuk tujuan intelijen sehingga membahayakan negara. Kalau alasannya demikian, kenapa hanya Pokemon yang dipermasalahkan? Banyak juga kan aplikasi online lain yang menggunakan GPS seperti Gojek, Grab Taxi, Waze, Instagram, Twitter, Facebook, dan lain-lain tetapi kok tidak dilarang? (baca tulisan rekan saya ini yang meninjau dari sisi keamanan: Keamanan Aplikasi Pokemon Go).

Ya, ya, Pokemon telah membuat banyak orang sibuk sampai membuat larangan segala. Saya punya pendapat  agak berbeda. Pokemon tidak perlu dilarang, karena dia tidak menakutkan seperti yang kita kira. Ini permainan yang sifatnya trend sesaat saja, sedang mode saja, lama-lama juga nanti orang akan bosan sendiri. Sifat dasar manusia adalah selalu tertarik mencoba sesuatu yang baru atau sensasi baru, setelah lama dipakai akhirnya jenuh, ternyata ya cuma begitu-begitu saja. Akhirnya hilang sendiri deh itu permainan, digusur permainan baru yang muncul selanjutnya. Ingat dulu pernah heboh permainan angry birds, tomagochi, dll, yang sudah tidak terdengar lagi  beritanya. Sebagian pengguna fanatik mungkin akan bertahan, tetapi sebagian besar pengguna hanya coba-coba saja untuk memenuhi rasa ingin tahu.

Jadi, ya begitulah, tidak perlu lebay. Jangan sampai energi ini dihabiskan untuk membahas hal-hal yang kurang esensial begini.

Pos ini dipublikasikan di Gado-gado, Indonesiaku. Tandai permalink.

7 Balasan ke Pokemon Tidak Perlu Dilarang

  1. Prita Pdinata berkata:

    Yang dikhawatirkan selain GPS-nya mungkin AR-nya yang ditangkap dengan kamera ponsel, sehingga server bisa mengumpulkan gambar-gambar yang ditangkap layar kita. Tapi nggak ngerti juga sih. Saya sendiri bukan orang yang suka main game dan suka mengkritisi game, jadinya nggak fanatik dan nggak anti juga.

    Ngomong-ngomong, link ke blog tetangga tentang keamanan game ini bagusss

  2. nengwie berkata:

    Betul dan setuju banget deh sama paragraf yang terakhir… 😃

  3. Rissaid berkata:

    Nah! Sbg trainer pokemon go, saya senyam senyum aj ktka skitar mbahas itu, keberatan dsbnya.~ semua ada masanya, manusia tidak jauh2 dr jenih

  4. Bener pak… Pokemon GO tidak akan jauh berbeda nasibnya dengan batu cincin… Heboh banget di awal, seiring waktu akan sepi ditinggal penggemar..

  5. Ping balik: Pokemon Tidak Perlu Dilarang — Catatanku – Virtual Friend

  6. Hamdan berkata:

    Augmented Reality itu cuman sekadar kamera yang nggak bisa menangkap gambar. Dijelaskan oleh salah satu developer Pokemon Go, Augmented Reality yang ada sekarang, itu disandarkan kepada google maps. Jadi data area, peta, semua bersandar pada google maps. Kalau misalkan ada elemen-elemen rahasia negara yang sampai ketahuan, yang harus disalahkan justru google maps, bukan Pokemon Go. Karena Pokemon Go cuman numpang berteduh dibawah bayang-bayang google maps alias, semua data berasal dari google maps.

    Lagian, perusahaan Niantic, sudah meluncurkan game yang bernama Ingress dengan sistem yang sama dengan Pokemon Go LEBIH DARI 5 TAHUN YANG LALU. Tapi nggak ada satupun negara yang berkoar-koar soal Ingress. Kalau memang mau mencurigai Pokemon Go sebagai alat mata-mata, kenapa nggak satupun dari mereka yang mengungkit Ingress. Padahal, saya yakin betul di Indonesia ada yang bermain game satu ini meskipun nggak begitu terkenal.

    Bukankah selama ini orang tua mengeluh anaknya selalu mengurung diri di kamar, nongkrong di warnet, nggak pernah kemana-mana hanya demi game? Sekarang ada jalan keluarnya, kok malah protes semua? Yang sangat aneh disini, MUI sampai mengharamkan Pokemon Go yang mengajak pemainya keluar rumah, bergerak, berolahraga, dan menunjukkan dunia luar, tetapi mereka diam saja terhadap game yang mengurung pemainya di sebuah ruangan.

    Kalau masalah game nya membahayakan apa enggak, itu tergantung penggunanya. Garpu itu berguna, tapi kalau dibuat menusuk orang juga jadi membahayakan. Palu itu berguna, tapi kalau dibuat memukul kepala orang juga jadi membahayakan. Kalau mau ribut soal membahayakan, bukanya selama ini aplikasi chat seperti Whatsapp dan Line itu juga banyak makan korban? Terutama di Jepang sampai ada undang-undang pemakaian Smartphone. Tapi mereka diem aja tuh.

    Ada lagi yang koar-koar katanya pokemon itu artinya aku yahudi dari suatu bahasa. Tetapi waktu diteliti sama ahli bahasa di dunia, kata “Pokemon” itu justru kata yang sangat asing di bahasa tersebut. Dan saya yakin orang yang koar-koar itu nggak pernah liat TV waktu tahun 1990-2005. Diantara tahun itu, ada secara resmi di animenya, ditayangkan kalau Pokemon itu singkatan dari Pocket Monster. Karena monster-monster itu dimasukkan kedalam bola, dan disimpan di saku atau tas. Makanya jadi Pocket Monster.

    Kalau misalnya ada yang koar-koar soal mengharamkan atau melarang game tanpa alasan yang jelas dan logis, aku cuman bakal jawab,”Udah! Pengguna Android Jellybean nggak usah iri!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s