Apa yang Bisa Dibaca dari Reshuffle Kabinet?

Jokowi melakukan reshuffle kabinetnya kemarin siang. Nama-nama  menteri baru  menggeser menteri lama, beberapa orang berganti posisi, sedangkan beberapa orang lagi tidak tersentuh. Meskipun pergantian menteri adalah hak perogeratif Presiden, namun reshuffle ini menyisakan banyak pertanyaan yang tak terjawab. Di bawah ini adalah opini penulis semata, boleh setuju boleh tidak ya.

1. Pergantian Anies Baswedan
Banyak masyarakat yang kaget dengan penggantian Anies Baswedan menjadi Mendikbud. Setahu saya Pak Anies ini orang yang baik, perhatiannya terhadap dunia pendidikan jangan ditanya lagi. Program Indonesia Mengajar adalah salah satu idenya yang mendapat banyak dukungan dan simpati dari masyarakat. Selama menjadi menteri memang tidak ada kebijakannya yang radikal, namun banyak kebijakannya mendapat sambutan yang baik. Misalnya, meningkatkan integritas sekolah atau kejujuran dalam Ujian Nasional (UN), pelarangan kegiatan perpeloncoan dalam kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah), penghapusan bullying, dan terakhir himbauannya kepada orangtua untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama tahun ajaran baru.

Anies menjadi Menteri mungkin sebagai bentuk “balas budi” dari Jokowi karena telah menjadi relawan pendukungnya selama Pilpres. Namun, popularitas Anies Baswedan yang banyak mendapat simpati mungkin dapat mengancam popularitas Jokowi yang ingin menjadi Presiden pada periode kedua. Jadi, daripada memelihara anak macan yang dapat menjadi harimau ketika besar, maka lebih baik Jokowi menyingkirkannya sekarang.

2. Semakin kuat dukungan Jokowi kepada Ahok
Pergantian sejumlah menteri menyiratkan Jokowi melindungi Ahok. Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, yang saat ini “berseteru”dengan Ahok terkait dengan proyek reklamasi, akhirnya harus tersingkir. Ini berarti proyek reklamasi tidak akan mendapat hambatan lagi karena Menteri yang menentangnya telah ditendang. Dia digantikan oleh Luhut Panjaitan, dan kita semua tahu Luhut adalah teman dekat Jokowi yang selama ini dilihat oleh masyarakat mempunyai peran lebih tinggi dari Presiden.

Perkataan Ahok bahwa Jokowi bisa menjadi Presiden karena didukung pengembang menunjukkan arah kebenaran ketika Menteri Perdagangan yang baru adalah Enggartyasto Lukita, yang dikenal dulunya sebagai pengusaha porperti. Reklamasi Teluk Jakarta yang ditentang banyak pihak karena dianggap lebih menguntungkan para taipan pengusaha properti dan akan menjadi pulau tempat tinggal orang-orang kaya menunggu buktinya nanti.

3. Pelanggar HAM, dulu dihujat sekarang diangkat
Ketika Pilpres 2014, Capres Prabowo sering dibuli oleh pendukung Jokowi maupun oleh media arus utama karena masa lalunya yang kelam terkait pelanggaran HAM. Salah satu penyebab kekalahannya saat Pilpres adalah gencarnya isu pelanggaran HAM yang dihembuskan para pendukung lawannya. Namun sekarang, Jokowi malah mengangkat Wiranto sebagai Menko Polhukam, padahal Pak Wiranto juga punya masa lalu yang kelabu dalam pelanggaran HAM. Isu pelanggaran HAM ini sempat menjadi bahan untuk menjegal pencapresannya pada Pilpres 2009. Namun sekarang para pembuli itu (termasuk media dan aktivis yang dulu garang terhadap Wiranto dan Prabowo) terlihat diam tak bersuara ketika Wiranto diangkat menjadi Menteri yang berkaitan dengan HAM. Jadi, benarlah adagium yang mengatakan “jika dia di kubu lawan, maka apapun yang dia katakan adalah salah, tetapi jika dia di kubu kami maka apapun yang dikatakannya selalu benar”.

4. Menteri yang tak tersentuh
Menko Kesra Puan Maharani nyaris tidak punya prestasi. Dia kalah pamor dengan menteri di bawah koordinasinya sendiri, yaitu Anies Baswedan. Namun yang menjadi “korban” reshuffle justru orang baik seperti Anies Baswedan. Puan tidak tersentuh mungkin karena dia adalah puteri Sang Ratu. Sebagai petugas partai, tidak mungkinlah Jokowi berani macam-macam kepada Ibunda Ratu.

Untuk menteri-menteri lain yang diganti memang sudah seharusnya, misalnya Menpan Yuddy Chrisnandi yang  tidak bisa menjaga konsistensi dengan peraturan yang dibuatnya sendiri. Sedangkan  Menhub  Ignatius Jonan  mungkin dianggap mbalelo karena tidak setuju dengan proyek kereta api cepat yang diusulkan Jokowi. Menteri yang lainnya entahlah, saya tidak tahu banyak.

Nah itulah analisis saya terhadap reshuffle kemarin. Bisa jadi benar bisa jadi salah, namanya saja opini pribadi.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Apa yang Bisa Dibaca dari Reshuffle Kabinet?

  1. Jacobian berkata:

    iya utk anies baswedan mungkin udah terlalu populer. lagipula memang setiap pejabat itu harus di rotasi utk menghilangkan kediktatoran di suatu sektor tertentu.

  2. syarifthoyibi berkata:

    ingat pak anies ingat slogannya….”orang baik dukung orang baik”! ketika orang-orang baik tidak lagi bersama, mungkin ada salah satu pihak diantara orang-orang baik itu menjadi orang yang tidak baik.

  3. Prita Pdinata berkata:

    Haha Putri Ibunda Ratu. Jadi inget meme tentang Puan yang ‘kebal’ banyak di medsos

  4. bhara berkata:

    hahaha.. mungkin jkw takut diseruduk sama banteng betina kalau mengganggu tuan putri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s