Orang Cina Bandung yang “Nyunda”

Membaca berita kerusuhan rasial di Tanjungbalai, Sumatera Utara, minggu lalu, membuat saya merasa sangat prihatin. Ya, hanya bisa prihatin, karena masalah kecil antara seorang warga keturunan Tionghoa dengan kaum pribumi di kota itu berujung pembakaran rumah ibadah kaum Tionghoa. Peristiwa ini menyiratkan bahwa hubungan antara warga Tionghoa dengan penduduk pribumi di sana masih menyimpan masalah terpendam, yang sewaktu-waktu bisa meledak bagaikan bara di dalam sekam. Ada masalah sedikit saja, maka akan ada pihak ketiga yang memprovokasi warga untuk melampiaskan kemarahan sekaligus mengambil kesempatan dalam kesempitan (pencurian misalnya). Kerusuhan SARA di Indonesia memang setiap waktu bisa meletup gara-gara masalah sepele.

Saya tidak pernah hidup di Sumut, jadi kurang tahu seperti apa hubungan antara etnik di sana, khususnya antara penduduk pribumi dengan warga keturunan. Saya hanya dengar-dengar saja jika orang cina di Medan atau Sumut agak patentang-patenteng gitu. Kata orang di sana, agak songong. Entahlah. Yang saya tahu adalah kondisi di Bandung. Saya sudah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, dan saya melihat sendiri hubungan antara etnik Tionghoa dengan warga pribumi (Sunda) di Bandung terjalin sangat baik.

Orang Tionghoa di Bandung berbaur dengan orang Sunda. Jangan heran jika anda datang ke Bandung, orang-orang cina di sini berbicara dalam Bahasa Sunda.  Mereka memakai bahasa Sunda bukan hanya kepada orang pribumi, tetapi juga kepada sesama orang Tionghoa lainnya.

Contohnya enchi di bawah ini. Nci atau enchi adalah panggilan buat wanita cina di Bandung. Enchi-enchi ini pedagang sepeda di Jalan Veteran, Bandung. Jalan Veteran di kawasan Kosambi merupakan sentra toko-toko sepeda di Bandung. Toko-toko sepeda di Kosambi para pemiliknya umumnya dari etnik Tionghoa. Mereka mempekerjakan orang Melayu ( Sunda) sebagai pegawai teknisi sepeda. Simbiosis Cina-Melayu sudah umum di mana-mana. Ada relasi saling membutuhkan antara keduanya.

cina3

Jalan Veteran Bandung, salah satu kawasan perniagaan yang banyak diiisi oleh toko-toko sepeda.

Sejak anak masih balita hingga remaja saya sudah langganan beli sepeda di toko enchi ini. Mulai dari sepeda roda tiga hingga sepeda gunung. Tukar tambah sepeda bisa di tokonya, jadi sepeda lama yang dulu saya beli di toko si enchi bisa saya tukar lagi dengan sepeda baru.

Enchi ini wanita tua yang ramah. Bicaranya pelan dan lembut. Dia bicara pakai bahasa Sunda, bahkan kepada anaknya dan kepada sesama enchi pun tetap pakai bahasa Sunda, bukan bahasa Mandarin. Bahasa Sundanya halus, tak beda dengan orang Sunda umumnya, malah lebih halus dari orang Sunda kebanyakan, dengan logat  Sunda yang kentara. Rata-rata orang Tionghoa di Bandung memang berbicara dengan bahasa Sunda sehari-hari. Mereka bergaul dengan pribumi, di sekolah-sekolah, termasuk sekolah yang banyak diisi orang cina,  diajarkan muatan lokal yaitu bahasa Sunda. Secara bahasa mereka sudah menyatu dengan pribumi di sini. Mereka sudah menjadi Sunda sejak kecil, hanya secara rupa saja yang berbeda.

cina1

Enchi, pedagang sepeda yang ramah

cina2

Sepeda-sepeda di toko si enchi

Sejauh yang saya ketahui setelah tiga puluh tahun tinggal di Bandung, harmoni antara etnik Tionghoa dan etnik Sunda terjaga dengan baik. Belum pernah terjadi kerusuhan rasial antara kedua etnik ini. Mungkin seperti kata saya tadi, orang Cina di Bandung sudah menjadi Sunda sejak kecil. Faktor rukun ini ditambah lagi dengan sifat orang Sunda yang ramah terhadap kaum pendatang,  sehingga keberadaan orang cina diterima dengan baik.

Menurut saya, salah satau cara agar terjadi harmoni antara etnik berbeda di tanah air, resepnya adalah menyesuaikan diri dengan budaya lokal. Berbicara dengan bahasa lokal, misalnya, itu adalah salah satu cara agar bisa diterima. Orang-orang cina di Jawa, Padang, Manado, dan lain-lain yang saya ketahui juga berbicara dalam bahasa lokal. Di negara-negara seperti Thailand, Vietnam,  Laos, dan lain-lain, orang Cina malah menjadi pengikut Budha sesuai dengan agama mayoritas di sana. Di Filipina orang-orang cina beragama Katolik sesuai agama mayoritas di sana.

Hanya di Indonesia asimilasi itu berbeda, orang Cina tidak mengikuti agama mayoritas pribumi karena faktor penjajahan Belanda. Penjajah Belanda mengkategorikan penduduk menjadi kelas-kelas sosial. Orang Belanda dan keturunan Indo-nya merupakan warga kelas satu, orang Tionghoa warga kelas dua, dan orang pribumi warga kelas tiga. Berbeda kelas maka berbeda pula pergaulannya, termasuk budayanya. Warga kelas satu tidak mau serupa dengan warga kelas dua atau tiga, warga kelas dua juga tidak mau serupa dengan warga kelas tiga. Serupa itu dalam pengertian budaya dan agama. Jadi, warga Belanda dan kaum Indo beragama Kristen, warga Cina beragama Budha atau Khong Hu Chu, dan warga pribumi beragama Islam (khususnya di Jawa).

Oleh karena itu, proses pembaruan Tionghoa dan pribumi di Indonesia masih menyisakan masalah hingga saat ini. Jika agama tidak mungkin bisa disatukan, maka pembauran bisa dilakukan secara budaya. Contohnya berbahasa lokal seperti orang Cina di Bandung. Mereka sudah nyunda sejak kecil.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Seputar Bandung. Tandai permalink.

6 Balasan ke Orang Cina Bandung yang “Nyunda”

  1. Rully Cahyono berkata:

    Di Jawa Timur orang-orang Tionghoa juga berbahasa Jawa. Kalau ada tetangga Muslim yang meninggal, engkoh-engkoh yang kaya raya itu tidak hanya melayat, memotong bambu buat usungan jenazah pun tak segan mereka kerjakan.

    Kakak saya sudah 15 tahun tinggal di Medan. Menurut dia, keturunan Tionghoa di sana memang kurang berbaur. Bahasanya pun sendiri, tidak berbahasa Indonesia/Melayu.

  2. rinasetyawati berkata:

    iya harus saling memahami satu suku dengan suku lainnya yaa

  3. rafarshara berkata:

    setuju banget. enci-enci dan koko-koko bandung malah harusnya jadi panutan berbisnis yang sukses :3

  4. otidh berkata:

    Di Malang saya malah seringkali ketemu orang keturunan Tionghoa yang ngomong Jawa-nya lebih medok daripada pribumi pada umumnya.😀

  5. alan berkata:

    kalau di pulau jawa orang2 keturunan tionghoa memang bisa membaur dengan masyarakat pribumi, tapi tidak dengan gi pulau lain seperti sumatera dan kalimantan, mereka merasa lebih tinggi derajatnya, tidak mau membaur, wajarlah potensi konflik tinggi

  6. fauzi berkata:

    Di pulau jawa ( yg pernah tau langsung jogja & bandung) bahasa daerah jadi mata pelajaran disekolah, di sumatra utara mana ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s