Berkunjung ke Batam

Minggu lalu saya berkunjung ke Batam dalam rangka konferensi KNSI 2016 yang diadakan di STT Ibnu Sina, Batam. Ini merupakan kunjungan saya kedua kali ke Batam.

Bagi kebanyakan orang Indonesia, Batam identik dengan kota bisnis, karena memang banyak industri nasional dan multinasional di sana. Bagaikan gula yang dikerubungi semut, banyak orang Indonesia pergi mengadu nasib ke sana guna mencari peruntungan hidup. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Sungguh keras hidup di Batam.

Pintu masuk utama ke Batam adalah Bandara Hang Nadim. Bandara ini relatif besar, namun arsitekturnya terkesan kurang modern, mungkin karena bandara ini dibangun semasa sebelum tahun tahun 2000.

13895537_1174236905977666_1999254367568008131_n

Bandara Hang Nadim Batam

13902556_1174236565977700_749246336521815775_n

Di dalam Bandara Hang Nadim

Bagi sebagian orang, Batam berarti batu loncatan ke Singapura, karena jaraknya yang sangat dekat, cukup naik Ferry dari beberapa terminal penyeberangan seperti Batam Center, Nongsa, dan Sekupang. Banyak orang Indonesia memilih berkunjung ke Singapura dari Batam karena ongkosnya lebih murah. Jika menginap di hotel di Singapura tentu tarif hotelnya sangat mahal untuk ukuran kantong orang Indonesia. Jadi, cukup menginap di hotel di kota Batam saja, lalu tur sehari ke Singapura, pergi pagi dan pulang malam. Ferry tersedia dari jam 6 pagi hingga pukul 21 malam, begitu pula sebaliknya ferry dari Singapura. Ongkos sekali naik ferry sekitar 250 ribu rupiah. Anda bisa pergi ke Singapura kapan saja asalkan anda punya paspor. Tidak perlu visa ke Singapura karena untuk negara-negara ASEAN tidak dibutuhkan visa.

13903220_1173317159402974_5740167141761940375_n

Terminal ferry Batam Center

13921039_1173317169402973_679970567283265216_n

Ferry di pelabuhan Batam Center

Batam adalah kota dengan tata letak yang teratur, karena kota ini memang dibuat dari awal. Bukan kota yang tumbuh dari kampung kecil seperti halnya kota-kota lain di Indonesia. Karena kota ini didesain dari awal, maka ada pembagian wilayah untuk pemukiman, industri, dan kawasan untuk bisnis serta perkantoran. Jangan heran, kita tidak akan menemukan rumah-rumah penduduk di sepanjang jalan, kecuali rumah liar, seperti halnya di kota-kota lain di Indonesia. Rumah-rumah penduduk terkonsentrasi agak ke dalam dari jalan raya. Di Batam status kepemilikan tanah umumnya HGB yang dapat diperpanjang setelah 30 tahun.

Sebagai kota bisnis, maka di Batam banyak terdapat mal dan pusat perbelanjaan. Pusat perbelanjaan tidak terkonsentrasi di tengah kota, tetapi tersebar di setiap kecamatan. Jadi, orang tidak perlu berbelanja di pusat kota, cukup di kecamatannya saja.

Batam juga disebut kota sejuta ruko, karena di sepanjang jalan yang kita lihat adalah ruko-ruko, selain hotel dan perkantoran. Ruko-ruko itu banyak juga yang kosong, yang menandakan strategi pembangunan ruko tidak memperhitungkan faktor keramaian.

Jumlah hotel di Batam jangan ditanya lagi, banyak sekali, mungkin ada ratusan jumlahnya dari hotel kelas ruko hingga hotel berbintang. Di kawasan Nagoya misalnya, kawasan yang menjadi pusat kota Batam, di kawasan ini tak terhitung hotel-hotel kecil yang bangunanya mirip ruko. Pesatnya pertumbuhan hotel di Batam didorong oleh ramainya turis Singapura mengunjungi Batam. Setiap akhir pekan orang Singapura berlibur ke Batam. Mereka berbelanja di Batam yang harga barangnya lebih murah dari Singapura, plus menginap di hotel-hotel yang tarifnya termasuk murah untuk ukuran warga Singapura.

Pesatnya pertumbuhan bisnis dan industri di Batam membuat bisnis hiburan malam hidup subur di Batam. Saya melewati ruko-ruko yang menjajakan hiburan karaoke, spa, sauna, dan lain-lain. Cerita sedih yang saya dengar adalah banyak gadis-gadis dari wilayah lain di Indonesia terjerat human trafficking. Mereka diiming-imingi di daerah asalnya bekerja menjadi pelayan restoran di Batam, tak tahunya dijadikan PSK atau wanita pelayan di tempat-tempat hiburan malam itu. Kalau sudah dijadikan pelacur, susah untuk melarikan diri karena tempat-tempat hiburan itu dijaga bodyguard. (Baca: Netty Heryawan Jemput 10 Korban Trafficking).

Berkunjung ke Batam kurang lengkap jika tidak mengunjungi ikon kota Batam, yaitu jembatan Barelang. Jembatan ini menghubungkan Pulau Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang. Sungkatan ketiga nama pulau itu menjadi Barelang. Di Pulau Galang terdapat bekas-bekas penampunga pengungsi dari Vietnam. Jbatan inilumayan panjang, saya tidak sempat menjelajahi sampai ke ujung karena hari sudah mulai malam.

IMG_20160812_173129

Jembatan Barelang diwaktu sore

Kuliner yang umum di Batam adalah hidangan laut (seafood). Masakan yang terkenal di Batam ini adalah sop ikan, yang dikenal dengan nama sop ikan batam. Sop ikan yang legendaris adalah sop ikan di restoran Hongkie, katanya belum ke Batam jika belum ke Hongkie🙂. Pedagang sop ikan ini rata-rata warga Tionghoa. Sop ikan terbuat dari daging  ikan tenggiri yang direbus dengan bumbu-bumbu sederhana dan sayur sawi. Kuahnya bening, dan untuk sambalnya adalah potongan cabe rawit did alam ekcap asin. Sungguh nikmat jika dimakan dengan nasi. Sop ikan cukup banyak yang  menjualnya, tidak hanya di restoran Hongkie saja.

13882134_1171232822944741_2407416268092455545_n

Sop ikan batam

Di Batam anda yang muslim perlu berhati-hati dalam memilih makanan, karena banyak juga restoran yang menghidangkan masakan tidak halal. Perlu bertanya dulu ke pelayan atau pemilik restoran apakah masakannya halal atau tidak. Biasanya orang Batam sudha tahu tempat-tempat makanan yang halal atau haram.

Batam adalah kota multietnis. Berbagai suku bangsa ada di sana mencari peruntungan nasib. Ada empat etnik yang mendominasi Batam, yaitu Melayu, Batak, Jawa, dan Minang. Orang Minang cukup banyak di Batam, terbukti penerbangan dari Padang ke Batam dilayani oleh tiga maskapai (Citilink, Lion, dan Sriwijaya) dengan frekuensi lima kali sehari. Orang Batak juga banyak, terbukti dari lapo-lapo tuak dan rumah makan batak yang bertebaran, juga gereja-gereja khas Batak sepeti HKBP, gereja Simalungun, dan gereja etnik Batak lainnya banyak terdapat di Batam.

Masjid tidak terlalu banyak ditemukan di jalan-jalan besar, kebanyakan masjid berada di wilayah permukiman. Saya sempat sholat Jumat di sebuah masjid baru yang katanya dibangun oleh Asman Abnur, urang awak yang sekarang menjadi Menteri PAN-RB yang hasil reshuffle. Nama masjidnya Masji Jabal Arafah.

13907179_1172736679461022_4023004547514526231_n

Masjid Jabal Arafah

13906627_1172736666127690_957395145808667331_n

Suasana di dalam Masjid Jabal Arafah. Lengkungan bertuliskan lafal ‘Allah’ di langit-langit masjid

Meskipun Batam bukan ibukota Propinsi Kepulauan Riau (Kepri), namun di Batam terdapat banyak perguruan tingggi. Ibukota Propinsi Kepri sendiri adalah Tanjungpinang yang terdapat di Pulau Bintan. Kota Batam jauh lebih besar dan lebih ramai daripada kota Tanjungpinang. Perguruan tinggi negeri di Batam hanyalah Politeknik Batam, sedangkan perguruanh tinggi swastanya cukup banyak, diantaranya Universitas Batam, Universitas Internasional Batam, Universitas Putera Batam, STT Ibnu Sina, dan lain-lain. Umumnya mahasiswa PT itu berasal dari Batam sendiri, sangat jarang dari luar Batam. Mayoritas mahasiswa adalah karyawan, sehingga perkuliahan diadakan pada sore sampai malam hari selepas jam kerja. Di STT Ibnu Sina yang menjadi tempat penyelenggaraan KNSI, mahasiswa kuliah dari jam 17 sore hingga pukul 22 malam. Hanya di Politeknik Batam mahasiswa kuliah pagi, yang mahasiswanya rata-rata lulusan SMA fresh graduate.

Begitulah pengalaman saya berkunjung ke kota Batam. Kota Batam yang udaranya gerah dan panas memang cocok untuk tujuan bisnis dan tranist ke Singapura.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

2 Balasan ke Berkunjung ke Batam

  1. Prita Pdinata berkata:

    Wih, lengkap banget ya ulasannya, mulai dari akses, tata kota, ikon-ikon…

  2. chibiromano berkata:

    saya mahasiswa dari batam yg kuliah di bandung. Mudah-mudahan kedepannya dibangun PTN negeri di sana soalnya saya mau ingin jadi dosen di kampung halaman, biar mahasiswanya gak perlu jauh jauh kuliah di luar kota ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s