Berkunjung ke Kota Palembang

Minggu lalu saya diundang adik kelas di Informatika ITB yang menjadi dosen di Universitas Bina Darma Palembang untuk memberi seminar dihadapan mahasiwa. Kebetulan saya belum pernah ke Palembang, padahal sama-sama di Pulau Sumatera dengan kota Padang tempat kelahiran saya. Jadi, kunjungan ini merupakan pertama kali saya ke kota mpek-mpek itu. Bagi saya Palembang punya nilai emosional dengan keluarga kami di Padang, karena ayah saya pernah merantau ke Palembang sebelum ketemu dengan ibu saya. Jadi, anggaplah ini kunjungan napak tilas mengenang perantauan orangtua saya.

Oh ya, dari Bandung ada penerbangan langsung ke Palembang dua kali sehari, masing-masing dengan maskapai Xpress Air (pagi) dan Citilink (sore). Saya naik Citilink sore setelah menyelesaikan perkuliahan jam  15.00 sore di kampus. Pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang dengan mulus. Bandara SMB II adalah bandara yang megah dan baru. Bandara ini tidak jauh dari bandara lama yang merupakan milik TNI AU.

IMG_20160904_145616

Bnadara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang

Palembang adalah kota besar nomor dua di Sumatera. Palembang menurut sejarahnya adalah kota tua, kota ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Bangunan-bangunan lama di Palembang bertebaran di sana-sini. Kota Palembang saat ini agak kusut dan macet karena pembangunan jalan layang monorel (Light Rapid Transport) yang membentang dari bandara hingga ke kompleks Jakabaring, melewati pusat kota. Menurut perkiraan proyek LRT ini akan selesai tahun 2017 guna menyongsong pesta Asian Games yang  akan diadakan di Jakarta dan Palembang tahun 2018.

14212617_1193785517356138_8432297176396547118_n

Pembangunan proyek LRT membuat Palembang sementara waktu macet di mana-mana

13879442_1193654890702534_3959602693009973284_n

Lalu lintas Palembang yang selalu macet akibat pembangunan LRT. Ini Jalan Ahmad Yani, jalan nomor dua terbesar di Palembang. Rumah-rumah di Palembang beratap genteng, yang menandakan pengaruh Jawa terasa sekali di sini.

Berbicara Palembang maka kita tidak bisa memisahkannya dengan Sungai Musi. Sungai Musi adalah belahan jiwa kota Palembang. Tidak lengkap ke Palembang tanpa melewati Jembatan Ampera yang membentang di atas Sungai Musi. Di sekitar Jembatan Ampera ini  sungai mulai menyempit karena rumah-rumah penduduk semakin menjorok ke tengah sungai.

14222103_1194560193945337_7080717638555329444_n

Jembatan Ampera, landmark kota Palembang

Saya dan teman sempat menyusuri sungai Musi dengan speedboat dari dermaga di seberang Pasar 16 Ilir, dekat Jembatan Ampera. Kami menyewa speedboat mengitari sungai Musi dari Seberang Ulu hingga Seberang Ilir.

Naik speedboat menyusuri sungai Musi ke seberang ulu dan seberang ilir sungguh pengalaman mendebarkan bagi saya. Laju speedboat-nya sangat kencang dan beberapa kali seperti mau terbalik, tapi supirnya begitu lihai menghindar gelombang dan halang rintang yang dapat membalikkan perahu. Sementara teman saya yang asli wong kito tenang-tenang saja, mungkin sudah biasa baginya naik speedboat kencang ini kali ya🙂. Tinggal “orang gunung” seperti saya berpegangan erat sambil komat-kamit membaca doa. Jika speedboat terbalik habislah saya, apalagi saya tidak bisa berenang. Speedboat juga tidak dilengkap dengan pelampung, agak miris juga mendengarkannya. Jadi, naik speedboat di Sungai Musi perlu nyali yang besar.

14203299_1194715223929834_7555280572719436887_n

Speedboat

Pemandangan sepanjang sungai sungguh Indonesia banget, ada rumah-rumah panggung di sepanjang sungai, pasar 16 Ilir, kapal getek, rumah apung, kapal tongkang batubara, kios bensin eceran terapung, dll. Inilah rakyat kita kebanyakan, mereka hidup secara sederhana dan menggantungkan sepenuhnya hidupnya pada kebaikan Sungai Musi.

14199275_1194649730603050_4506553092030627993_n

Rumah terapung di Sungai Musi, mengalir sampai jauh

14264975_1194715517263138_6962932078211531019_n

Rumah-rumah dan perahu di sepanjang sungai Musi

14192737_1194715483929808_8327806938905128445_n

Kapal tongkang

Ke Palembang tanpa mengunjungi Pulau Kemaro rasanya kurang lengkap. Pulau Kemaro adalah pulau delta yang terletak di tengah sungai Musi, tidak terlalu ketengah juga sih, agak dekat dengan sisi sebelah sungai. Pulau ini menajdi tempat tujuan wisata di kota Palembang.

14141793_1194690050599018_8382611617824736477_n

Pulau Kemaro

Apa menariknya pulau ini? Di Pulau Kemaro terdapat sebuah vihara dan sebuah pagoda yang besar. Pada setiap peringatan Waisyak, Imlek, dan Cap Gomeh, pulau ini ramai dikunjungi umat Budha dan Tridharma. Di pulau ini ada cerita legenda putri raja Palembang yang menikah dengan seorang saudagar dari daratan Cina.

14238158_1194690160599007_9014127558151323236_n

Legenda Pulau Kemaro

14141661_1194690093932347_7269939585893183693_n

Pintu masuk ke Pulau Kemaro

14192064_1194690190599004_866715263657129669_n

Wihara dan pagoda mini. Pagoda sebenarnya tampak di belakang

14142053_1194690237265666_3201695220682924510_n

Pagoda di Pulau Kemaro, tampak dari dermaga

14192715_1194610813940275_6308109474827929007_n

Berfoto di depan pagoda

Palembang dikenal sebagai kota mpek-mpek. Tapi Palembang tidak hanya mpek-mpek dan tekwan. Di kota ini ada makanan yang menjadi sarapan pagi warga Palembang. Namanya martabak Har. Martabak Har sejenis martabak dari Arab atau India, isinya telur, dan dimakan dengan kuah kari. Di sebelah hotel tempat saya menginap di Jalan Sudirman, ada sebuah ruko yang menjual martabak Har. Saya penasaran dengan martabak ini yang kata orang Palembang enak banget. Agak heran juga saya dengan kebiasaan makan warga Palembang ini. Biasanya martabak itu kan makannya pada waktu sore atau malam, tapi martabak yang satu ini dimakan pada pagi hari. Kuah karinya itu lho, nggak nahan.

14191966_1194497030618320_8931072149270670821_n

Martabak Har, sejak 1947

14238236_1194497093951647_5828625764343473943_n

Martabak Har dengan kuah kari

Wisata di Palembang memang hanya kuliner. Tidak banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi di Palembang. Orang ke Palembang untuk berwisata kuliner. Kata teman di sana, untuk menikmati seluruh macam kuliner di Palembang dibutuhkan waktu dua hari saking banyak jenisnya.

Masakan Palembang kebanyakan adalah ikan. Beberapa masakan yang saya coba adalah ikan seluang (ikan kecil dari Sungai Musi), rusip (olahan fermentasi ikan), aneka pindang (ikan, daging, udang), brengkes (semacam pepes, kadang-kadang pakai sambal tempoyak atau durian), dan sate pentul. Pindang adalah masakan khas daerah Sumbagsel dengan lauk berupa ikan seperti ikan belida, ikan patin, udang, atau iga sapi.

kuliner

Aneka macam masakan Palembang (ikan seluang, pindang , rusip, brengkes)

Ada satu lagi kuliner Palembang yang wajib dicoba yaitu nasi minyak. Nasi minyak adalah semacam nasi kebuli rasa lokal, dimasak dengan minyak samin, dan bumbu seperti kunyit, garam, dana lain-lain. Pelengkapnya adalah daging kambing, sambal manga, acar mangga, dan lain-lain. Sepintas mirip nasi kuning, tetapi rasanya beda. Lezat sekali.

14117737_1193639057370784_8677178533273362968_n

Nasi minyak

Lamat-lamat suara kelompok musik Golden Wing yang menyanyikan lagu lawas Mutiara Palembang masih terngiang di telinga saya. Lagu ini menceritakan suasana romantis kota Palembang diwaktu malam.

Mutiara Palembang (Palembang Diwaktu Malam) – Oleh: Golden Wing

Palembang di waktu malam
Di kala terang bulan
Bersinar di atas sungai musi
Beriring nyanyi sang dewi

Terbayang semua harapan
Dalam keindahan itu
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku

Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku

Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku

Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku

Kunjungan dua hari di Palembang membuat saya terkesan. Suatu hari saya ingin mengunjunginya lagi.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

5 Balasan ke Berkunjung ke Kota Palembang

  1. Rissaid berkata:

    Aduh saya jadi ngiler sekali liat dr Martabak kuah kari hgg kebawah fotonya pak hehe.

  2. ngiler gini saya liyatnya tempatnya keknya nggk ngebosenin tuh kulinernya juga keknya mampu buat lidah bergoyang.

  3. Ai Romlah berkata:

    Wah hebat banget nih Pa Rinaldi Munir cara nulis alur ceritanya, ada teks dan gambar, jadi serasa ikut terbawa jalan-jalan ke Palembang. Akhir cerita disempurnakan dengan syair lagu beserta musiknya, ampun deh yang baca jadi punya kesan mendalam. Suatu hari nanti saya juga ingin berkunjung ke Palembang🙂 Terimakasih Pa Rinaldi udah mau berbagi cerita yang bagus, ditunggu cerita berikunya ya🙂

  4. Gatot Widayanto berkata:

    Sayang ya Palembang jadi macet. Kulinernya mantab!

  5. One Piece berkata:

    Katanya di Palembang juga ada daerah yg kaya di puncak bogot ya? Kalo ga salah namanya Pagar Alam ya sob?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s