Jangan Takut Kuliah di ITB Karena Masalah Biaya

Kemarin saya membaca berita di suratakabar daring. Rektot ITB, Pak Kadarsah  menyatakan bahwa asal berprestasi, jangan risau soal biaya kuliah di ITB. Pernyataan Pak Kadarsah benar adanya. Selama lebih dua puluh tahun saya menjadi dosen di ITB, saya sudah melihat sendiri bahwa biaya kuliah bukan isu penting di ITB. Faktor ekonomi bukan halangan untuk berkuliah di ITB, karena selalu saja ada solusi untuk mahasiswa yang terbentur biaya kuliah dan biaya hidup selama di Bandung.

Masyarakat seringkali beranggapan bahwa ITB itu untuk kalangan orang berduit saja. Kalau hanya melihat parkiran lautan mobil mahasiswa di seputar kampus ITB, maka kesan  bahwa ITB isinya anak orang kaya semua pasti akan muncul. Ternyata dugaan itu salah. Mahasiswa ITB itu ibarat supermarket, semua mahasiswa dari kalangan ekonomi apapun, agama apapun, etnik apapun, ada di dalamnya. Mereka bisa masuk karena satu faktor saja: otak yang cerdas. Maksudnya, di ITB siapapun bisa kuliah, baik anak orang kaya maupun anak orang miskin, yang penting mereka mempunyai kemampuan intelektual bagus. Soal biaya itu urusan belakangan, yang penting diterima dulu.

Tengoklah Uang Kuliah Tunggal (UKT) di ITB yang besarnya 10 juta per semester. Itu berlaku untuk semua fakultas di ITB (kecuali di fakultas SBM yang perhitungannya berbeda). Tidak ada kutipan uang pangkal atau uang gedung, hanya UKT itu saja. Dari UKT yang 10 juta rupiah itu, ternyata tidak semua mahasiwa ITB membayarnya penuh. Ada keringanan sebesar 20%, 40%, 60%, 80%, hingga 100% yang dapat diajukan, tentu ada persyaratannya. Jadi, ada mahasiswa yang membayar 2 juta, 4 juta, 6 juta, 8 juta, bahkan 0 juta, disamping tentu ada yang membayar penuh 10 juta. Jumlah mahasiswa yang membayar penuh 10 juta hanya 30% saja dari populasi mahasiswa baru, artinya 1200 orang mahasiwa berasal dari kalangan berada, sedangkan 70% lagi bervariasi tingkat kemampuan ekonominya.

Bagi yang mendapat keringanan 100%, artinya mereka dibebaskan dari SPP, alias gratis kuliah di ITB. Siapakah mereka itu? Itulah mahasiswa program Bidik Misi, jumlahnya 20% dari mahasiswa baru. Mahasiswa Bidik Misi ini mendapat bantuan sepenuhnya dari Pemerintah, baik SPP maupun biaya hidup. Tiap tahun ITB menerima sekitar 4000 mahasiswa baru, jadi 20% dari 4000 adalah 800 orang per tahun, merekalah yang  mendapat kesempatan kuliah tanpa memikirkan SPP. Selain SPP gratis, mereka juga mendapat uang saku sebesar 1 juta rupiah per bulan sebagai biaya hidup. Di ITB uang saku dari Pemerintah itu tidak dipotong sepersenpun, 100% diberikan utuh kepada mahasiswa (sementara di PT lain yang saya dengar uang saku itu tidak sampai 100% kepada mahasiswa, tetapi dipotong untuk  biaya ini dan itu).

Dengan demikian, ada 20% dari jumlah total mahasiswa ITB berasal dari kalangan keluarga yang benar-benar tidak mampu, 30% dari keluarga yang kaya, selebihnya bervariasi dari keluarga yang sederhana hingga dari keluarga yang agak berada. Itulah gado-gado mahasiswa ITB yang menunjukkan sisi demokratisnya.

Dikutip dari tautan berita di atas,

Sebanyak 20 persen dari total seluruh mahasiswa tidak bayar sepeserpun. Mahasiswa ini masuk program bidik misi. Mereka mendapat beasiswa penuh dari pemerintah dan bahkan mendapat uang saku per bulannya sebesar (1 juta rupiah).

Sebesar 50 persen mahasiswa, lanjut Kadarsah, membayar uang kuliah bervariasi. Ada yang bayar hanya 20 persen dari total keseluruhan biaya kuliah, ada yang 40 persen dan seterusnya. Dan yang bayar 100 persen dari biaya kuliah hanya 30 persen mahasiswa.

“Itulah potret situasi perekonomian mahasiswa ITB,” ujar dia.

Kadarsah menegaskan, setiap warga negara Indonesia punya hak dan kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan di ITB sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan. Dia meminta siapapun yang ingin masuk ITB tak khawatir dengan biaya pendidikan.

“Sepanjang berprestasi, uang jangan dijadikan kendala,” katanya.

Bahkan setelah kuliah di ITB pun, tersedia ribuan beasiswa yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa ITB. Beasiswa itu beragam jenisnya, ada beasiswa yang dilihat dari sisi prestasi saja (prestasi akademik maupun prestasi non akademik) tanpa memandang status ekonomi, namanya Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Lalu, ada pula beasiswa  bagi mahasiswa yang mendapat kesulitan ekonomi, namanya beasiswa ekonomi.  Jadi, jika anda mahasiswa kaya atau mahasiswa miskin, anda pun dapat memperoleh beasiswa PPA. Jika anda mahasiswa miskin, anda berkesempatan memperoleh beasiswa ekonomi. Beragam jenis beasiswa itu dapat dilihat pada laman ini: APA SAJA BEASISWA DI ITB ?. Jadi, untuk beasiswa saja ITB juga menunjukkan demokratisnya, semua mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat memperoleh beasiswa.

Jadi, tidak ada alasan takut kuliah di ITB karena faktor biaya. Semua ada jalannya, semua ada solusinya.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

6 Balasan ke Jangan Takut Kuliah di ITB Karena Masalah Biaya

  1. Prita Pdinata berkata:

    Wah, mulanya saya kira nggak sebanyak itu (70% tidak bayar UKT penuh), jadi rada serem aja pas googling universitas terus lihat biaya semesterannya, ITB mahal-mahal. Bagus nih, meluruskan banyak stereotip yang salah tentang yang bisa akses kuliah cuman kalangan tertentu

    • davidbiru berkata:

      terimakasih infonya, jadi diluruskan,ga was was lagi.soalnya cerita temen, anaknya ukt nya di ITB 10 jt, katanya itu berlaku semuanya, aga ngeri juga dengernya, padahal keponakan sy pengen banget kuliah di itb, Dengan ekonomi yg sederhana, berat jg dgn angka itu. dengan info ini, jadi lebih tenang.thanks

  2. piyu berkata:

    Biaya hidupnya itu yang mahal. Lokasi ITB yang berada di pusat kota Bandung membuat biaya hidup mahasiswa ITB sangat tinggi. ITB hanya 1 km dari pusat perbelanjaan besar sepeti BIP, Ciwalk, dan Paris van Java, jadi pasti mahal. Kenapa ITB tidak memindah semua fakultas ke pinggiran kota Bandung saja seperti Unpad?

    Yang miskin dapat beasiswa, yang kaya bisa mandiri, yang kasihan yang enggak miskin dan enggak kaya juga, tapi hampir miskin, karena “belum cukup miskin” untuk menerima beasiswa.

    • piyu berkata:

      Tetap realistis, pendidikan butuh biaya tinggi. Pemerintah tetap tidak akan mungkin membantu seluruh mahasiswa yang kesulitan biaya. Bagaimana mungkin mampu membantu seluruh mahasiswa kurang mampu, kalau siswa SD, SMP, SMA saja masih banyak yang putus sekolah karena kesulitan biaya. SD, SMP, SMA itu pendidikan primer, sedangkan Perguruan Tinggi itu pendidikan tersier, mana mungkin pemerintah mendahulukan yang tersier dahulu sebelum yang primer terselesaikan.

    • Rahmad berkata:

      Biaya hidupnya itu yang mahal. Lokasi ITB yang berada di pusat kota Bandung membuat biaya hidup mahasiswa ITB sangat tinggi. ITB hanya 1 km dari pusat perbelanjaan besar sepeti BIP, Ciwalk, dan Paris van Java, jadi pasti mahal. Kenapa ITB tidak memindah semua fakultas ke pinggiran kota Bandung saja seperti Unpad?
      ——————————————-
      Saya sih nganggep sekali makan 6000-10.000 itu udah cukup murah (di warung nasi samping kosan saya). Ya kecuali kalo tiap makan ke tempat-tempat yang baru disebutin. Btw daerah jatinangor juga biaya hidup gak jauh beda kok😉

      Yang miskin dapat beasiswa, yang kaya bisa mandiri, yang kasihan yang enggak miskin dan enggak kaya juga, tapi hampir miskin, karena “belum cukup miskin” untuk menerima beasiswa.
      ———————–

      Banyak kok beasiswa yang bukan ekonomi. Saya juga dapet, gede pula😉 Dan gak ada ikatan dinas.

      • piyu berkata:

        Ya, tapi harus pinter banget. Yang otaknya pas-pasan tapi masih punya cita-cita ingin lulus ITB, dan ekonomi hampir miskin (tapi belum miskin) yang paling kasihan kuliah di ITB.

        Herannya yang anak orang kaya tapi pintar tetap dapet beasiswa. Seharusnya kalau sudah kaya tak perlu dikasih beasiswa, sepintar apapun dia. Wajar dia pintar, anak orang kaya kan. Anak orang miskin wajar kalah pintar, karena mereka harus bekerja sambilan juga untuk sekolah. Tapi anak orang miskin yang prestasinya pas-pasan kalah dalam persaingan mendapat beasiswa melawan anak orang kaya yang pintar.

        Seharusnya anak orang kaya yang kuliah di ITB tidak mendapat beasiswa dan biaya kuliahnya disamakan dengan kampus swasta. Uang kuliah anak orang kaya ini untuk membantu biaya kuliah anak orang miskin, sebodoh apapun anak orang miskin tersebut di ITB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s