Ahok yang Kontroversial

Hiruk pikuk Pilkada DKI (Pemilihan Gubernur DKI Jakarta) telah menyita perhatian masyarakat Indonesia. Meskipun Pilkada tersebut di lingkup DKI Jakarta, tetapi orang-orang di wilayah lain di Nusantara ikut membicarakannya, juga ikut terbawa emosi dan perasaannya. Jakarta adalah barometer perpolitikan di tanah air, apa yang terjadi di Jakarta akan mempengaruhi konstelasi politik di tanah air. Pilkada DKI saat ini menjadi seksi karena Gubernur DKI dianggap batu loncatan meraih kekuasan lebih tinggi, yaitu menjadi Presiden.

Pilkada DKI tidak akan menjadi “heboh” nasional jika calon gubernur yang bertarung bukan  sosok kontroversial, yaitu petahana (incumbent) Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama. Selain Ahok-Jarot, ada dua pasangan calon gubernur lain yang maju menjadi rivalnya yaitu Anies Baswedan – Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono – Sylvi. Mengapa Ahok menjadi sosok kontroversi, tidak lain karena tabiatnya yang temparemantal dan kata-katanya yang membuat orang-orang bereaksi dengan keras. Ahok terkenal ceplas ceplos berbicara dan suka memarahi bawahannya di depan publik.

Puncak kontroversi Ahok adalah ketika baru-baru ini dia mengeluarkan kalimat yang menyinggung kitab suci Al-Quran terkait surat Al-Maidah ayat 51. Blunder memang, karena menurut saya tidak sepantasnya Ahok menyinggung ayat-ayat dari kitab suci agama lain di ruang publik. Masalah agama adalah hal sangat sensitif.  Meskipun Ahok berdalih tidak bermaksud melecehkan, namun kata-kata yang diucapkannya itu sudah terlanjur memancing kemarahan sebagian umat Islam. Sekarang proses hukum sedang bergulir di kepolisian, Ahok diadukan dengan tuduhan penistaan agama. Kita tidak tahu bagaimana akhir kisah yang menghebohkan ini.

Menurut pandangan saya, meskipun Ahok itu beretnis Tionghoa dan beragama Kristen, sebenarnya kedua hal ini tidaklah terlalu dipersoalkan orang. Gubernur Jakarta dulu pun pernah dari kalangan non-muslim (Henk Ngantung). Sudah ada contoh-contoh Kepala Daerah lain yang berbeda agama yang menjadi walikota, bupati, atau gubernur di daerah yang penduduknya mayoritas Islam, misalnya Walikota Solo sekarang, Gubernur Kalimantan Tengah yang bernama Teras Narang, Gubernur Kalimantan Barat, Gubernur Maluku, dan lain-lain. Meskipun ada hal-hal yang menyinggung soal SARA dalam masa Pilkada, namun skalanya kecil dan tidak menimbulkan gesekan yang berarti. Karakteristik mayoritas orang Islam di Indonesia adalah Islam kebanyakan yang tidak terlalu kuat agamanya, tidak menjalankan sepenuhnya ajaran agama, namun mudah terprovokasi jika ada provokator menyusup.

Sayang, Ahok tidak membangun empati dari kalangan mayoritas sejak dia menggantikan Jokowi. Alih-alih meraih simpati, Ahok malah mencari “musuh” dengan melontarkan kata-kata yang bersifat menyerang, mertendahkan, kata-kata kasar dan kotor, mempermalukan orang lain, menunjukkan emosi yang meledak-ledak di depan umum, dan menyingggung hal-hal yang berbau SARA, sesuatu yang sangat sensitif bagi penduduk Indonesia. Selama ia menjadi Gubernur selalu gaduh. Ketidaksukaan (sebagian) masyarakat kepada sifat Ahok ini diperparah lagi dengan kebijakannya yang menggusur pemukiman kumuh dan ilegal dengan pendekatan kekuasaan dan kekuatan aparat TNI dan Polri, jauh berbeda dengan cara-cara Jokowi yang lebih persuasif. Meskipun penggusuran dan relokasi merupakan program yang legal, namun karena dilakukan dengan cara yang kurang manusiawi dan kurang persuasif, maka yang dihasilkan adalah antipati.

Namun, Ahok tetaplah memmpunyai pendukung setia dan militan. Mereka menilai Ahok adalah sosok yang tegas. Gaya kepemimpinannya dianggap anti mainstream karena mendobrak kemapanan para pemimpin yang selama ini dianggap terlalu protokoler dan birokratis. Mereka menyukai gaya Ahok yang ceplas ceplos dan apa adanya. Bagi pendukung setia Ahok, sifat Ahok yang kasar dan temparemantal tidaklah mereka persoalkan. Pendukung Ahok yang militan sekalipun selalu berusaha mencari alasan pembenaran terhadap apapun yang dilakukan oleh Ahok.

Namun kita tetap harus adil menilai Ahok. Kinerja Ahok membenahi Jakarta tidak boleh dinafikan begitu saja. Banyak hal-hal baik yang telah dilakukan Ahok meskipun masih perdebatan. Ahok telah bekerja keras dan menurut saya itu patut diapresiasi. Program-programnya tentu ada yang berhasil dan ada yang masih dalam penyelesaian. Sayangnya, prestasinya ini tertutup oleh attitude-nya yang kontroversi itu. Dia meminta jangan menyinggung SARA, namun dia pula yang melontarkan hal berbau SARA.

Saya berandai-andai, andai saja Ahok sejak awal membangun empati dan mencuri hati rakyat Jakarta maupun rakyat Indonesia, mungkin jalannya untuk kembali menjadi Gubernur akan mulus. Pasti banyak orang atau partai yang mendukungnya. Namun sayang nasi sudah menjadi bubur, terlanjur rusak karena Ahok tidak mampu menjaga lisan maupun sikap. Sekarang tinggal bagi rakyat Jakarta untuk menentukan pilihan di bilik suara, siapa yang akan menjadi pemimpin mereka lima tahun yang akan datang.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

6 Balasan ke Ahok yang Kontroversial

  1. tuaffi berkata:

    semoga siapapun yang terpilih, itu yang terbaiklah. dan masyarakatnya nggak gontok- gontok an lagi. hehe. Capek juga, jakarta yang pilkada kok se-Indonesia yang pada ribut.:/

  2. Prita Pdinata berkata:

    Iya huhu pada jadi antipati. Tapi sikap beliau yang begitu mungkin muncul karena gerah terhadap orang-orang yang belum-belum udah mempermasalahkan agama beliau. Kebanyakan orang, menurut saya, terlalu mempermasalahkannya, berlebihan banget huft

  3. Tufiddin berkata:

    Di zaman sekarang, perkataan pun bisa direkam oleh media dan dijadikan senjata politik di kemudian hari. Menjaga lisan amatlah penting

  4. krinsports berkata:

    Someday, we’ll run into each other again, I know it.
    Maybe I’ll be older and smarter and just plain better. If that happens,
    that’s when I’ll deserve you. But now, at this moment, you can’t hook
    your boat to mine, because I’m liable to sink us both. KrinSports

  5. Rizal berkata:

    Sebaiknya gubernur jangan merangkap sebagai karyawan pengembang!!

  6. piyu berkata:

    Kalau ayat tersebut dimaknai seperti itu berarti mahasiswa muslim dilarang memilih Calon Rektor non muslim dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s