Surat Al-Maidah 51 yang Dipermasalahkan

Perdebatan tentang kasus bermuatan agama  yang diucapkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ahok, tentang  Surat Al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu akhir September yang lalu tampaknya belum akan selesai. Ahok memang sudah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan dari ucapannya itu (Ahok bersikukuh tak ada yang salah tentang ucapannya itu, tetapi hanya meminta maaf atas kegaduhan yang timbul), dan permintaan maafnya sudah diterima, namun kasus ini tetap diproses secara huku karena ormas-ormas Islam sudah membawa masalah ini ke ranah hukum. Kita tunggu keseriusan polisi dalam menangani kasus ini.

Kesalahan Ahok menurut saya bukan pada surat Al-Maidah yang dia permasalahkan itu, tetapi karena penggunaan kata “bohong” yang disambungkannya dengan surat Al-Maidah 51. “Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — dibohongin pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho“, katanya (transkip lengkap sila baca di sini). Memang Ahok tidak mengatakan Surat Al-Maidah itu bohong, atau Al-Quran itu bohong. Tidak. Tetapi, menyandingkan  kata “bohong” dengan ayat suci dampaknya sangat besar. Kata “bohong” adalah kata yang negatif. Kalimat Ahok ini bisa ditafsirkan dua macam:

(1) Para ulama yang mengajarkan ayat tersebut di dalam ceramah agama berarti telah melakukan kebohongan. Jadi jika ulama membahas Surat Al-Maidah 51 di dalam pengajian kepada ummat berarti mereka telah mengajarkan kebohongan.

(2) Kata “pakai” biasanya diikuti dengan kata objek. Misalnya “dipotong pakai pisau”, maka pisau adalah alat untuk memotong. Pada pernyataan Ahok di atas berarti Surat Al-Maidah 51 adalah alat untuk melakukan kebohongan.

Andaikan Ahok tidak menyebut kata “bohong” sehingga kalimatnya menjadi begini:

Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu, gak bisa pilih saya, ya — karena pake surat Al Maidah surat 51 macam-macam gitu lho.

maka tidak akan ada kegaduhan yang timbul. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kata yang terucap tidak dapat ditarik lagi. Forgiven but not forgotten.

Dalam pandangan saya, Surat Al-Maidah ayat 51 itu tidak ada yang salah. Ia merupakan Wahyu Allah SWT yang dijadikan tuntutan bagi orang Islam dalam memilih wali, pemimpin, atau teman dekat (kata awliya di dalam ayat tersebut bisa diartikan wali,  pemimpin, atau teman dekat). Karena merupakan tutunan agama, maka siapapun yang mengimani Kitab Suci maka ia wajib mematuhinya, namun jika anda tidak mau mempercayainya juga terserah anda, karena pertanggungjawaban setiap individu adalah pada Hari Akhir nanti.

(Update 9/11/2016. Tulisan lain yang membahas tentang makna perkataan Ahok dapat dibaca di sini:
1. Membongkar Argumentasi “Dibohongi Pakai Surat Al Maidah Ayat 51”
2. Pakar Bahasa Analisis Kalimat Krusial Ahok: Dibohongin Dibodohin
)

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

39 Balasan ke Surat Al-Maidah 51 yang Dipermasalahkan

  1. kusnanto berkata:

    Ow…Jadi tau duduk permasalahannnya…hm mmm astaqfirullahal’adziim….benarbila ‘forgiven but not forgotten’. Laknatullah.

  2. ahmad berkata:

    Pak Rinaldi yang baik, sebagai dosen dari PTN hebat seharusnya Bapak bisa lebih bijak dalam hal ini. Dari penjelasan kemenag, ada 42 kata awliya dalam Al-Quran yang mempunyai arti berbeda sesuai konteksnya (https://www.kemenag.go.id/berita/417806/soal-terjemahan-awliy-sebagai-teman-setia-ini-penjelasan-kemenag). Bapak orang yang peduli tt tata bahasa indonesia, pasti tahu bahwa kata yang sama bisa mempunyai arsip beda bila dipakai dalam konteks berbeda. Lebih jauh, lihatlah terjemahan ayat tsb dr berbagai bahasa, agar lebih paham. Salam damai.

    • rinaldimunir berkata:

      Penjelasan Kemenag di atas sudah benar dan sudah sesuai dg tulisan saya di atas. Awliya memiliki banyak arti, misalnya pemimpin, pelindung, teman setia, dll. Menjadi teman setia saja dilarang apalagi menjadi pemimpin.

      Sekarang banyak orang memutar-mutar maksud ayat di atas dengan dalih macam2, tujuannya sudah jelas untuk membuat kita menjadi ragu serta menjadi alasan pembenaran atas sikapnya.

      • ahmad berkata:

        Pendapat “menjadi teman setia saja dilarang apalagi menjadi pemimpin” adalah pendapat yang salah pasang. Sebab sudah pasti kriteria “teman setia/dekat” berbeda dengan kriteria mencari pemimpin. Contoh kriteria mencari istri/suami tidak bisa 100% kita terapkan untuk mencari pemimpin RT, Kades, Bupati dst. Teman dekat/setia bisa menjadi teman curhat kita, apa mungkin kita ingin pemimpin kita jadi tempat curhat?. Yang pas adalah argumen “menjadi pemimpin saja dilarang, apalagi menjadi teman setia/dekat”, nah ini baru pas. Contoh, “dia itu jadi ketua RT saja tidak pantas, apalah menjadi teman setia/dekatnya Pak Rinaldi”. Betul kan ya.

      • Ben berkata:

        Saya sangat setuju dengan pendapat pak Rin.

        Negara harus mengambil sikap dalam hal ini. Kalau salah dan terbukti kesalahannya, ya harus minta maaf, jangan justri mencari-cari pembenaran terhadap suatu yang salah tersebut.Kemudian karena adanya laporan, hal tersebut harus diproses secara hukum. Hal ini agar siapapun jera dan tidak dengan mudah mengolok-olok kepercayaan maupun hal sensitif lainnya. Begitupun agar kelompok masyarakat lainnya tidak main hakim sendiri.

        Contohnya sudah ada seperti pada kasus Arswendo Atmowiloto melaui tabloid Monitor tahun 1990. Kasus ini terjadi di masa orde baru, dan Arswendo dihukum bui 5 tahun karena kelalaiannya. Lalu ada pula kasus Rusgiani. Rusgiani harus menjalani hukuman 14 bulan penjara setelah majelis hakim memutuskan perbuatannya dinyatakan penistaan agama. Selain itu masih banyak kasus-kasus penistaan agama yang lain yang diproses dengan sangat baik oleh negara guna menghindari konflik dan sebagainya.

        Disisi lain, surat Al-Maidah 51 merupakan panduan bagi umat Islam untuk wajib memilih pemimpin yang juga beragama Islam jika di tempat tersebut Islam merupakan mayoritas. Itu mutlak. Jadi tidak ada masalah mengenai tafsiran disini. Jangan mau tersesat dalam pemikiran kelompok tertentu untuk kepentingannya. Lagipula ada calon yang beragama Islam dalam Pilkada DKI, umat islam bisa memilih salah satu diantaranya sebagai Gubernur DKI.

        Sedihnya adalah banyak orang yang bukan beragama Islam dan orang yang bergama Islam tetapi pengetahuan agamanya masih dangkal mencoba-coba mengartikan sendiri ayat tersebut. Ini adalah hal yang sesat menyesatkan. Namun alhamdulillah sudah ada surat pernyataan sikap dari MUI yang meluruskan hal ini semua.

        Akhir kata, saya ingin menyampaikan kepada umat Islam jangan tercerai berai dan jangan munafik hanya untuk kepentingan/kenikmatan sesaat. Walaupun dalam Al-Maidah 52 sudah disampaikan akan adanya orang-orang fasik dan munafik dalam islam, janganlah sampai kita termasuk didalamnya. Bersatulah umat Islam, rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam semesta.

  3. fahada berkata:

    Oke, anggap saja Ahok salah dan harus diproses hukum. Tapi apakah harus begitu gegap gempitanya reaksi untuk menuntut Ahok dihukum? Apalagi dengan cara2 yg merusak dan justru membuat kesan tidak baik trhadap agamanya? Harusnya percaya saja dengan hukum dan penegak hukum, yg notabene adalah hukum yg berlaku di negeri kita. Kalau mau mengadili sendiri, ya pake hukum rimba saja, yg jelas2 itu malah bertentangan dgn ajaran agama

    • rinaldimunir berkata:

      Sepanjang yang aku amati, aksi2 demo itu berlangsung damai. Aksi merusak yang dimaksud mungkin tanaman yang terinjak2 ya? Ya, memang ada dan tidak bisa dihindari jika massa berkumpul dalam suatu lokasi. Tetapi kerusakan itu sebenarnya tidak banyak namun dibesar-besarkan oleh media tertentu untuk memberi stigma negatif kepada pendemo. Di sisi lain ketika ada pertunjukan musik di suatu tempat umum dengan penonton yang membludak sehingga taman menjadi rusak, hal itu tidak diberitakan atau dibesar-besarkan oleh media.

      Kembali ke masalah di atas, biarkan proses hukum berjalan. Pressure massa terjadi karena pada banyak kasus hukum itu tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

      • nanto de nanto berkata:

        menurut Bapak rinaldi, perlukah umat islam mempunyai media massa sendiri ? untuk menghindari dan melawan fitnah-fitnah yang selama ini menerpa umat islam

        salam.

  4. fahada berkata:

    Maksud saya bukan soal tanaman yg terinjak, itu memang terlalu kecil, tp “kerusakan” yg lain. Tapi sudahlah, setuju kita tunggu saja proses hukum yg sedang brjalan, semoga situasi tidak menjadi kisruh…

  5. Dhana berkata:

    Menurut saya, menyebutkan al-maidah ayat 51 oleh nonmuslim artinya ia sudah memasuki tatanan pedoman hidup muslim. Apalagi ayat tersebut digunakan nonmuslim untuk menyerang pemikiran muslim. Jadi, menggunakan kata bohong atau tidak, keduanya akan mengundang protes. Tapi memang kata-kata bohong adalah pemicu utama terjadinya gelombang protes, dan ahok sama sekali tidak mengakui kesalahan dalam pernyataannya. Artinya penggunaan kata bohong adalah benar menurut dia dan sangat tepat untuk menggunakan kata itu untuk menyalahkan ulama yang mengingatkan umat islam atas pilihannya.

    • ahkokgitu berkata:

      kalo gitu mah tutup aja kampus yg ada jurusan perbandingan agama. ato sekalian tangkap dan adili ust. yg sudah ceramah menjelek jelekan agama lain. dibilang injil ini itu. ato orang2 yg di medsos ataupun forum2

      • Dhana berkata:

        Perbandingan agama itu bertujuan untuk studi, bukan untuk menjelek-jelekkan agama lain. Apalagi saling mengatakan BOHONG antar pemuka agamanya, Lagipula kalau debat agama, pasti ada kedua belah pihak, dan itu dilakukan secara fair.
        Jika Anda merasa ada ustadz yang menjelek-jelekkan agama lain, seperti menjelek-jelekkan bible, ya silakan saja diadili. Tidak ada larangan. Kesetaraan hukum adalah hak setiap warga negara.
        Bukan cuma ustadz, pemuka agama lain pun kalau menjelek-jelekkan agama yang bukan dianutnya juga harus diadili.

      • dianramadhani berkata:

        mengenai ini, saya sarankan anda baca pendapat Prof Mudzakkier
        (Guru Besar Hukum Pidana UII Yogyakarta) dulu ya🙂
        Jika Ahok berbicara dalam (acara) perbandingan agama, tentang bagaimana memilih pemimpin menurut Kristen, Hindu, Budha, Islam dan lain-lain tentu tidak akan jadi masalah, tapi ini kan tidak.

        Ahok tidak punya kompetensi untuk mengutip dan menginteprestasi ayat Al Qur’an sebab Ahok pribadi tidak mengimani Al Quran sebagai kitab suci.

        Apabila Ahok ceramah di acara keagamaan yang dia anut kemudian dia berucap kitab suci agama lain adalah bohong, itu dapat dimaklumi. Asalkan di komunitas mereka saja.

  6. Ismail Hasan berkata:

    Dari awalnya saja sudah salah, ngapain seorang gubernur yang non muslim, ikut komentar tentang kitab suci agama lain. Sudah komentar, ngawur lagi. Semoga cepat diproses dan dalam hal ini saya pikir MUI sudah tepat sekali untuk mewakili umat islam indonesia untuk menyuarakan aspirasinya.

  7. arif berkata:

    SOAL KALIMAT AHOK

    • Ahmed Zainul Muttaqien

    Saya sudah nonton videonya dan saya dengar redaksi asli perkataan Ahok berikut:

    “Jadi jangan percaya sama ORANG. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin “PAKAI” surat almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…”

    Saya tidak ingin menjelaskan perkataan ini dengan istilah-istilah filsafat yang rumit. Tapi cerna saja dengan AKAL SEHAT tanpa tendensi.

    Ahok sebelum sampai pada kalimat “dibohongin pake surat almaidah 51”, dia mengatakan “jangan percaya sama orang”.

    Berarti jelas yang dia maksud berbohong adalah ORANG-nya bukan ayatnya. “Orang” adalah subjeknya dan “Almaidah 51” adalah objek yang dibawanya. Yang dia maksud berbohong adalah subjeknya bukan objek yang dibawanya. Dan objek yang dimanfaatkan untuk berbohong tertera pada kalimat selanjutnya “PAKAI surat almaidah 51”.

    Ini sama seandainya saya berkata “Jangan percaya sama Aa Gatot. Kamu di bohongin PAKE ayat-ayat Qur’an”. Yang saya maksud disini tentu bukan jangan percaya sama Qur’an, tapi jangan percaya sama Aa Gatot karena ia berbohong dengan MEMAKAI ayat-ayat Qur’an. Bukan berarti ayat Qur’annya yang salah, tapi subjek yang membawa dan menggunakan ayat Qur’an tersebut untuk berbohonglah yang salah.

    Ini sama seperti teroris yang menggunakan ayat jihad untuk berbuat barbar atau wahabi yang menggunakan ayat istiwa’ untuk berkeyakinan mujassimah terhadap Allah. Bukan ayatnya yang salah, tapi subjek yang menggunakan dan memelintir tafsir ayat itu yang salah.

    Itulah kenapa Ahok menggunakan kalimat “dibohongin PAKAI surat almaidah 51”, bukan kalimat “dibohongin OLEH surat almaidah 51”.

    Sebenarnya menafsirkan kalimat ini gampang, hanya ego kebencian yang mempersulit dan memelintirnya.

    Saya bukan pendukung Ahok. Bukan urusan saya jika ia terpilih nanti atau tidak, karena KTP saya bukan Jakarta. Tapi saya merasa terpanggil untuk meluruskan hal sederhana yang tidak dipahami oleh otak, kelewat sederhana yang ditutupi tendensi.

    Dan mau saya kasi tau satu lagi? Ternyata orang yang memelintir tafsir perkataan Ahok ini adalah orang-orang yang sama yang memelintir tafsir perkataan Prof. Quraish Shihab soal Nabi tidak dijamin masuk surga karena amalnya.

    Ternyata orang itu juga yang memelintir perkataan Grand Mufti Suriah; Syaikh Ahmad Badruddin Hassoun bahwa ia menyeru pemusnahan rakyat Aleppo.

    Kalau ulama-ulama besar islam saja perkataannya ia pelintir, kenapa bingung perkataan ‘kafir’ seperti Ahok mereka pelintir? Ini baru permulaan ya…

    • abel berkata:

      mantap, ini baru penjelasan yang sangat masuk akal dan mudah dimengerti dan tidak menyudutkan sangat objektif

      terima kasih salam damai

    • Dhana berkata:

      Yang mengatakan itu adalah ulama. Ulama hanya mengingatkan. Urusan pilih memilih adalah urusan individu, dan setiap pilihan akan dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Kalau Ahok mengatakan ORANG, tentu orang tersebut merujuk ke ulama. Sementara di gereja juga sama, pendeta mengatakan pilihlah orang seiman dengan kita, dan kita tidak mengatakan orang gereja yang mengatakan “pilihlah orang seiman dengan kita” adalah pembohong.

      • hans berkata:

        ulama itu manusia, bukan Tuhan, sama dengan pendeta, pastor, biksu, semua adalah manusia, yang belum tentu ucapannya benar. yang harus anda bela adalah Tuhan YME, bukan manusia, dan kalaupun anda bela manusia, semisalnya manusia itu salah, cuma karena dia adalah pemuka agama anda, apakah anda harus memaksakan kesalahan itu menjadi benar?

      • Dhana berkata:

        disini ulama tidak salah. hanya menyampaikan isi kitab suci. bukan sedang membodohi umat. perkara apakah diikuti atau tidak itu urusan individu masing-masing.

      • hans berkata:

        menurut anda ulama tidak salah? kalau dalam konteks beragama memilih pemimpin 1 agama itu benar, tapi kalau konteks kenegaraan tidak bisa diterapkan seperti itu.
        lagipula jika misalnya ulama menyampaikan pembodohan ke umatnya PAKAI surat al maidah, itu sama saja ulama itu sudah berpolitik di dalam tempat ibadah. apakah tindakan perpolitikan itu bisa anda benarkan?

  8. vivian berkata:

    tolong di jawab bagaimana dengan orang muslim yang bekerja kepada orang non muslim ? atasannya orang non muslim dan di gaji oleh orang non muslim, apakah boleh ?

    • Andhika Ahmad berkata:

      Boleh saja kenapa tidak ? saya tidak melihat ada nya larangan dalam hal ini (menjadi karyawan non-muslim) … , tetapi tentu saja lebih bagus kita bekerja kepada yang se iman dengan kita, malah lebih bagus lagi jika kita usaha sendiri… selama kita ada pilihan dan peluang untuk lebih baik….

      • hans berkata:

        apa anda ga malu demi sesuap nasi anda merendahkan diri anda dengan bekerja sama nonmuslim? ga konsisten sama sekali loh.

    • Dhana berkata:

      Bekerja itu muamalah, lebih ke arah jual beli jasa. namun gubernur itu mengurusi kebutuhan rakyatnya. kebutuhan ekonomi, kebutuhan hidup layak, dan juga kebutuhan agama. Jadi gubernur bukan bos rakyat, seharusnya rakyatlah bos gubernurnya. Gubernur memimpin rakyatnya.

      • hans berkata:

        kalau untuk masalah ekonomi jual beli jasa apakah boleh dipimpin oleh nonmuslim? hmmmm sepertinya tidak konsisten. malu lah bung.

      • Dhana berkata:

        saya tidak malu, bawahan saya juga banyak yang nonmuslim. ali bin abi thalib pun pernah bekerja pada seorang yahudi. urusan dunia kenapa harus malu? urusan akidah, akhirat, dan dosa, itulah yang membuat malu.

      • hans berkata:

        anda bilang urusan dunia kenapa harus malu?? lah, apa posisi gubernur bukannya utk urusan keduniaan? tolong jangan munafik lah. urusan anda dipimpin oleh nonmuslim kalao menurut anda melanggar kitab suci anda, silahkan suruh orang2 muslim berhenti juga dari perusahaan YANG DIPIMPIN oleh pengusaha NON MUSLIM.

  9. yuliano berkata:

    Saya rasa bahwa kata pemimpin itu harus diluruskan, apakah sistem pemerintahan waktu itu bersistem demokrasi atau kafilah. kalau kafilah sudah jelas bahwa tidak boleh pemimpinnya non muslim. tetapi juga bukan kafilah seperti indonesia ini, maka siapapun boleh jadi pemimpin. tidak mungkin pondok pesantren dipimpin oleh orang yahudi atau kristen. almaidah 51 memang tuntunan umat muslim dalam memilih pemimpin, tetapi harus mengerti kontek sosial budaya keagamaan. tidak boleh lagi disamakan kontek waktu itu dengan sekarang. beda. dan Gubernur tidak mengurus kebutuhan agama secara lebih spesifik seperti mengimami sholat. atau maksud Dhana dengan mengatakan bahwa gubernur mengurusi kebutuhan agama itu seperti apa? setau saya ahok hanya perlu menyediakan sarana beragama dan menjamin semua itu terpenuhi. Pernah ahok melarang umat muslim melaksanakan keagamanyaa? jadi saya pikir tentu akan bijak jika tidak membawa agama ke ranah politik. tidak bagus. perkara ada diagama mengenai kriteria memilih pemimpin, tentu itu arahnya kepada kualitas. bukan ras suku dan agama. ini jaman modern. walikota london adalah seorang muslim. tidak ada yang kontra macem macem. itu karena beliau mampu mengemban tugas untuk kebaikan banyak orang. salam

    • Dhana berkata:

      Saya tidak mempermasalahkan gubernur nonmuslim. Yang saya permasalahkan disini adalah kata-kata yang tidak sepantasnya terlontar dari seorang gubernur, dimana dia mengomentari dengan negatif kitab suci dan pemuka agama yang dia sendiri tidak anut.

      • hans berkata:

        bagaimana dengan zakir naik yang selalu mencatut ayat2 dalam alkitab yang merupakan kitab suci agama lain yang dia sendiri tidak anut? apakah menurut anda zakir naik itu pahlawan atau penjahat yang perlu di demo juga? anda jangan munafik lah, sudah jelas kalau anda mempermasalahkan nonmuslimnya itu.

      • Dhana berkata:

        Apakah zakir naik pernah mengatakan bahwa pendeta, biarawan, pendada, atau biksu sudah membodohi umatnya? atau sudah membohongi umatnya? atau membodohi umatnya dan membohongi umatnya menggunakan kitab suci weda, injil, bible, dsb?

      • hans berkata:

        zakir naik sering berkata demikian. bahkan lebih parah lagi, dia menyebarkan kebohongan bahwa dalam alkitab tidak ada ayat yang dimana Yesus menyatakan AKULAH TUHAN. yang kalau anda google, banyak ayat yang menyatakan demikian, dengan begitu zakir naik sudah berbohong dengan mengutip ayat suci agama lain. kenapa anda tidak demo?

  10. hans berkata:

    Dalam bahasa yang dipakai ahok : “JANGAN MAU DIBOHONGI PAKE ALMAIDAH”, yang memiliki 2 objek yang berbeda, yaitu :
    1 objek adalah pihak yang MEMAKAI almaidah dan 1 objek lagi adalah almaidah itu sendiri.

    bedakan dengan “JANGAN MAU DIBOHONGI ALMAIDAH” yang memiliki hanya 1 objek, yaitu almaidah itu sendiri.

    jadi andai yang membuat tulisan ini, yang merasa pintar ini, apakah penjelasan saya sudah jelas untuk membuktikan bahwa anda sebenarnya masih bodoh karena tidak mampu mencerna suatu kalimat?

    mohon belajar lagi bahasa indonesia yang benar dan baik.

    • Dhana berkata:

      Problemnya disini adalah penggunaan kata negatif, seperti BOHONG untuk mengomentari agama lain, dan ditambah lagi dengan kalimat negatif lainnya, DIBODOHIN.
      Yang menyampaikan almaidah atau surat lain di kitab suci umat islam adalah ulama, bukan saya. Sudah umum bahwa ulama hanya mengingatkan saja. Urusan apakah umat akan mengikuti ulama tersebut adalah pilihan masing-masing.

      Jika Sang gubernur menggunakan kata “DIBOHONGI PAKAI ALMAIDAH”, sudah jelas itu merujuk ke ULAMA, sebab yang mengingatkan itu ulama, BUKAN SAYA dan BUKAN ORANG YANG TIDAK MENGETAHUI AGAMA, dan ketika mengatakan itu ulama TIDAK sedang MEMBOHONGI umat. APALAGI MEMBODOH-BODOHI UMAT.

      Bukan cuma almaidah 51, semua ayat juga disampaikan oleh ulama. Termasuk ayat melarang konsumsi khamr (Almaidah 90), larangan mengundi nasib (Almaidah 90), larangan makan babi (Albaqarah 173).

      Apakah MENISTAKAN ULAMA BUKAN BAGIAN DARI MENISTAKAN AGAMA??
      Ulama adalah pewaris Nabi.

      • hans berkata:

        masalanya disini adalah anda memaksakan konotasi negatif dengan memaksakan DIBOHONGI AYAT SUCI (hanya 1 objek ayat tersebut yang membohongi), yang mana saya menggunakan logika saya dalam mengolah suatu kalimat, inti dari arti kalimatnya adalah DIBOHONGI PAKAI AYAT SUCI (1 objek manusia yang berbohong dan 1 objek ayat sampeyan itu.

        bung, andai anda suka membaca berita, anda seharusnya tahu kalau yang sudah terbukti menggunakan ayat itu adalah amin rais, roma irama, dan beberapa orang lain yang jika saya google pasti akan saya temukan orang2 tersebut, sekarang anda pikir sendiri, apakah amin rais dan roma irama adalah seorang ulama?

        lagipula kalau seorang ulama membodohi umat dengan al maidah, sudah dapat dipastikan kalau ulama itu penuh kepentingan, karena dia berpolitik di dalam tempat ibadah.

        MENISTAKAN ULAMA BUKAN BAGIAN DARI MENISTAKAN AGAMA. anda sebagai manusia yang memiliki kemampuan berpikir, seharusnya dapat membedakan ulama sebagai manusia yang berbentuk nyata, dan agama sebagai keyakinan yang tidak nyata, saya pun berani saja menistakan seorang ulama jika mana ulama tersebut benar2 berbuat salah dengan melakukan politik di dalam tempat ibadah.

  11. nixon berkata:

    Saya bertanya ni,sebenarnya surat almaidah ini bertentangan atau tidak dengan uud1945,dengan pancasila dan dengan bhineka tunggal ika? Tolong di jawab y.dr n.nbbn

    • Ben Silaban berkata:

      Ga lah bung. Dari dulu udah ada ayat tersebut, sekarang aja gara-gara pak Basuki ini orang pada ribut. Ya kalau kata pepatah, mulutmu harimau mu, yang akan menjatuhkan dirimu sendiri. Begitu bijaknya para leluhur kita dulu, sayang saja kita enggan belajar atau malah kita bangga dengan budaya-budaya asing. Entahlah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s