Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 1)

Awal bulan Oktober yang lalu saya dan beberapa orang teman dari kampus melakukan perjalanan konferensi ke Yangon, Myanmar. Konferensi yang kami ikuti adalah Regional Conference on Computer and Information Engineering (RCCIE)  yang disponsori oleh AUN/SEED-Net. Konferensi RCCIE diselenggarakan di kampus Yangon Tecchological University (YTU) di kota Yangon. Yangon (dahulu Rangon atau Rangoon) dulunya adalah ibukota Myamar, sekarang ibukota Myanman pindah ke Naypyidaw. Saya sama sekali belum pernah ke Myanmar, bahkan tidak pernah membayangkan negara ini masuk dalam salah satu kunjungan saya. Ya, Myanmar memang bukan negara yang populer untuk tujuan wisata, apalagi untuk tujuan konferensi.

Sebelum berangkat ke Yangon, ada keraguan di dalam pikiran saya. Pertanyaan yang menggelayut di dalam pikiran saya adalah apakah aman ke sana, mengingat Myanmar  sering dilanda konflik etnik dan agama. Konflik yang menjadi perhatian dunia adalah pertikaian antara etnik Rohingya dengan kaum Budha di negara bagian Rakhine. Berita-berita tentang penderitaan etnik Rohingnya, etnik yang teraniaya dan tidak diakui oleh negara Myanmar, masih belum hilang dalam ingatan saya. Bahkan, saya tidak bisa mentransfer biaya registrasi konferensi dari bank BNI ke bank penerima di Myanmar, karena bagian kliring internasional Bank Indonesia menolak mentransfer uang dengan alasan Myanmar dikategorikan sebagai negara beresiko tinggi (high risk). Uang yang saya transfer dikembalikan lagi. Jadi, terpaksalah nanti saya membayar tunai di tempat konferensi di Yangon. Sebegitu mengkhawatirkankah kondisi di Myanmar sehingga bank di tanah air menolak transfer uang ke sana?

OK, kekhawatiran itu saya buang jauh-jauh. Di Yangon kan ada Kedubes Indoensia, itu berarti orang asing seperti saya aman-aman saja  ke sana. Jikalau tidak aman, tentu Kedubes Indonesia di Yangon sudah tutup atau setidaknya ada travel warning ke sana. Dari Jakarta atau Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Yangon, jadi kami harus memakai pernerbangan transit. Kami naik pesawat Malaysian Airlines yang transit di Kuala Lumpur setengah jam, lalu berganti pesawat Malaysia Airlines lain ke Yangon. Total waktu tempuh dari Jakarta ke Yangon adalah 4 jam. Oh iya, saya membeli tiket Malaysia Airlines cukup murah lho, karena saya membelinya PP maka mendapat diskon 30% untuk sekali perjalanan. Jadi, harga tiket Malaysia Airlines sekali jalan hanya Rp 1,9 juta saja, cukup murah untuk perjalanan sejauh itu. Selain Malaysia Ailines, ada pilihan lain yaitu  menggunakan Air Asia atau Lion Air tetapi transit di Bandara Don Muang Bangkok. Harga tiketnya juga tidak jauh beda dengan Malaysia Airlines tadi.

Setelah menempuh penerbangan empat jam, sampailah kami di Bandara Yangon International Airport. Bandara ini terlihat tidak terlalu besar, agak mirip dengan bandara Halim Perdanakususmah di Jakarta dari penampakannya.

14463087_1221336271267729_4655152163938694164_n

Bandara Yangon International Airport

14484627_1221336307934392_8556261210078546464_n

Terminal kedatangan internasional di Bandara Yangon

Tidak diperlukan visa dari Indonesia  ke Myanmar, karena sebagai sesama negara ASEAN tidak diberlakukan visa. Pemeriksaan imigrasi di Bandara Yangon tidak memerlukan waktu lama dan tidak terlalu ketat. Kita dapat keluar bandara dengan cepat. Sebelum keluar bandara, kita perlu menukar uang dolar dengan mata uang Myanmar, kyat, di kios money changer yang berjejer di dekat pintu keluar. Di Indonesia tidak ada money changer yang menyediakan mata uang Myanmar, jadi kita mungkin memerlukan mata uang kyat ini untuk berbelanja selama di negara ini.  Satu kyat sama dengan sepuluh rupiah, atau 1 US $ setara dengan Rp12.000 (tergantung kurs). Jika anda tidak membawa dolar, anda  tidak perlu khawatir, karena mesin ATM berlogo VISA dapat mengeluarkan lembaran uang kyat dengan menggunakan kartu ATM bank yang kita bawa dari tanah air.

Selama perjalanan dari bandara ke hotel saya melihat pemandangan yang tidak jauh beda kondisinya dengan di Indonesia. Suasana perkotaan di Myanmar, sudut-sudut jalan, rumah penduduk, dan lain-lain persis seperti di Indonesia. Hilir mudik kaum laki-laki yang memakai sarung -yang disebut longyi– dan mereka yang berdiri di pinggir jalan. Lalu, ada pedagang kaki lima meramaikan pinggir jalan menjajakan makanan, mainan, asesori ponsel, dan barang-barang lainnya.Kemacetan di jalan adalah hal yang biasa di Yangon. Suhu udara di Yangon seperti di Jakarta, lumayan panas. Kendaraan di Yangon mengambil rute di lajur kanan (bukan kiri seperti di negara kita), namun menariknya setir mobil ada yang di kanan dan sebagian mobil setirnya di kiri. Tidak ada motor di jalanan kota Yangon, karena motor dilarang digunakan di jalan raya. Seperti halnya di negara kita, pedagang asongan memanfaatkan kemacetan untuk menjajakan barang.

img_20161003_080405_hdr

Warga Myanmar memakai longyi hilir mudik di kota Yangon, dipotet dari dalam bus. Setir mobil ada di kanan atau di kiri, namun jalur jalan yang dipakai tetap jalur kanan

Kami menginap di Hotel The Summitpark View yang terletak agak di pinggir kota Myanmar. Ini hotel bintang lima yang berusia sudah agak lama, lokasinya dekat dengan pagoda Shwedagon yang terbuat dari emas. Dari atas lantai lima hotel saya dapat menyaksikan puncak pagoda Shwedagon yang merupakan vihara terbesar di Myanmar dan menjadi ikon negara Myanmar. Tentang pagoda ini akan saya ceritakan pada tulisan selanjutnya.

img_20161002_172510

Hotel The Summitpark View

14570217_1221367301264626_4124758224948001496_n

Puncak pagoda Shwedagon yang terbuat tampak dari lantai lima hotel The Summitpark View

Orang Myanmar sedikit sekali yang bisa berbahasa Inggris, jadi bahasa isyarat atau bahasa  tubuh cukup menolong selama di sini. Kebanyakan papan pengumuman ditulis dalam aksara Myanmar, seolah-olah seperti tulisan yang terenkripsi, he..he (jadi ingat kriptografi).

14568094_1221473964587293_8992220162112619834_n

Tulisan beraksara Myanmar di sebuah taman yang saya tidak mengerti.

Kota Yangon adalah kota yang padat penduduk. Di sepanjang jalan dari hotel ke kampus YTU saya menyaksikkan pemandangan yang mirip dengan suasana kota Jakarta pada tahun 1970-1980an, seakan-akan kita terlempar ke masa lalu ibukota Jakarta (seperti yang sering saya lihat pada film-film lama). Bus-bus tua yang padat penumpang berseliweran di jalan. Benar-benar bus tua, sepertinya buatan India. Penduduk golongan menengah ke bawah tinggal di apartemen yang tampak kusam. Unit-unit apartemen itu terlihat sempit. Kabayang nggak, apakah untuk naik ke lantai atas menggunakan lift atau naik tangga saja?

14457485_1222365337831489_304060635408771773_n

Bus-bus yang padat penumpang

14519722_1222365244498165_2511217800201449755_n

Bus tua dan gedung-gedung tua di belakangnya

14595837_1222365461164810_3653263834140904795_n

Angkot?

14520410_1222365517831471_9212539844757672083_n

Apartemen tua yang menjadi tempat tinggal penduduk kota Yangon golongah menengah ke bawah

img_20161003_075403_hdr

Apartemen lainnya

Pemandangan kusam seperti foto-foto di atas tidak akan kita lihat di tengah kota Yangon. Gedung-gedung tinggi, beberapa jalan layang, dan hotel-hotel berbintang  modern menghiasi pusat kota. Namun secara umum kondisi di Yangon memang masih tertinggal jauh dibandingkan Jakarta.

Meskipun mayoritas penduduk Myanmar beragama Budha, namun ada sedikit penduduk muslim di sana. Di kota Yangon saya menemukan beberapa masjid di beberapa ruas jalan. Masjidnya kecil, terjepit di antara banguan-banguan pertokoan. Masjid itu terlihat bergaya India, sepertinya merupakan masjid komunitas muslim India. Penduduk Myanmar terdiri dari lebih dari seratus etnis, salah satunya etnis India/Tamil yang beragama Hindu dan Islam. Etnis Rohingya yang tidak diakui oleh Myanmar adalah etnis beragama Islam, mereka mayoritas berada di bagian barat daya negara Myanmar (negara bagian Rakhine).

14516475_1222271761174180_8237873791968825119_n

Masjid bergaya India yang terjepit di antara bangunan pertokoan dan apartemen

14563519_1222271827840840_7864695441899778715_n

Masjid lainnya di pinggir jalan

14448904_1222365657831457_9141506069297873220_n

Kuil Hindu. Burung gagak sangat banyak beterbangan di kota Yangon

Keberadaan masjid di Yangon menunjukkan bahwa penduduk kota Yangon umumnya lebih moderat dan lebih terbuka menerima perbedaan. Konflik berlatar belakang etnik dan agama tidak sampai ke kota Yangon. Konflik rasial itu mungkin lebih banyak terjadi di pedalaman Mynamar. Jadi, kekhawatiran saya tentang rasa aman berada di kota Yangon ternyata tidak terbukti. Nyatanya saya merasa biasa saja berada di sini, tidak ada yang perlu ditakutkan. Penduduk Yangon menurut saya adalah warga yang ramah. (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 1)

  1. Michael berkata:

    Aduh sepertinya depressing sekali ya tinggal di Yangon. Tinggal di Jakarta saja sudah depressing bagi saya, apalagi di Yangon…..

    Menarik pak ulasannya. ditunggu lanjutannya…

  2. Anis Safitri berkata:

    liat gambar diatas saya suka
    ketika sampai bawah kenapa jadi berubah pikiran yak ??


    Supplier Tas Batam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s