Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 2)

Konferensi regional RCCIE 2016 diadakan di kampus Yangon Technological University YTU). YTU adalah perguruan tinggi teknik terkemuka di Myanmar, sekaligus perguruan tinggi teknik tertua dan terbesar. YTU berawal dari Departemen Teknik di Rangoon University pada tahun 1924, lalu kemudian populer dengan nama Rangoon Institute of Technology. Jadi boleh dikatakan YTU ini adalah ITB-nya Myanmar. Sebagai salah satu anggota perguruan tinggi di dalam jaringan AUN-SEED/Net, maka YTU menjadi tuan rumah konferensi Regional Conference on Computer and Information Engineering (RCCIE) tahun 2016. Ketika saya ikut RCCIE tahun 2013 di Bangkok pelaksanaannya diadakan di hotel bintang lima, tapi RCCIE tahun ini diselenggarakan di kampus.

Ketika bus peserta konferensi memasuki kampus YTU, saya membayangkan kampus ini luas seperti kampus perguruan tinggi ternama lainnya, ternyata dugaan saya meleset. Kampus utama YTU di daerah Gyogone ini tidak begitu luas. Bangunan utamanya yang terlihat dari depan tidak mengesankan bangunan khas Asia, tetapi sepintas mirip seperti bangunan berarsitektur Rusia. Dari laman Wikipedia saya memperoleh informasi kalau kampus utama YTU  (yang dibangun antara tahun  1958 – 1961) merupakan bantuan Pemerintah Uni Soviet  (sekarang Rusia).

img_20161004_075217_hdr

Bangunan utama kampus YTU. Tiang-tiangnya yang tinggi dan arsitekturnya mirip seperti bangunan Rusia

Pada salah satu tiang bangunan utama terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan aksara Rusia. Saya tidak bisa membaca tulisan di prasasti itu, tetapi isinya mungkin berisi keterangan bahwa bangunan kampus YTU ini merupakan kerjasama antara Pemerintah Myanmar dengan Uni Soviet kala itu.

img_20161003_081023_hdr

Prasasti beraksara Rusia tahun 1958 di salah satu tiang bangunan utama.

14495370_1222121237855899_4625753540946125699_n

Nampang di depan kampus YTU

Kampus utama YUT ini tampak sangat kokoh. Langit-langitnya tinggi, jendela dan pintunya besar-besar serta tinggi. Sepintas mirip seperti bangunan sekolah peninggalan Belanda di Indonesia yang langit-langitnya juga tinggi (seperti gedung SMAN 3 Bandung). Ada delapan bangunan dengan tiga lantai yang saling terhubung dengan koridor-koridor sehingga kita kita tidak akan kehujanan atau kepanasan jika berjalan dari satu gedung ke gedung lainnya.

14572851_1222903471111009_3080403262616762791_n

Tampak belakang bangunan utama

14572901_1222902541111102_8031840206672547930_n

Ruang-ruang kuliah dan laboratorium

14469675_1222903691110987_7760929505663689794_n

Koridor

14570295_1222172644517425_4468419202682457844_n

Aula besar tempat pelaksanaan RCCIE 2006 di gedung utama kampus YTU

Kampus utama YTU ini tampak seperti kurang terawat. Cat temboknya sudah berjamur diterpa hujan. Di halaman depan bangunan utama rumput liar tumbuh meranggas. Saya sempat menengok sebuah lab kimia, peralatan labnya tampak sudah tua, kurang terlihat peralatan baru dan modern. Bahkan kursi di ruang kuliah terbuat dari plastik. Saya hampir tidak percaya sebuah perguruan tinggi terkemuka memiliki peralatan dan perabot sederhana seperti itu.

14572241_1222903864444303_5947471129567047399_n

Ruang kuliah dengan kursi dari plastik

Akhirnya saya baru bisa memahami setelah mendapat penjelasan dari seorang dosen di sana. Bahwa YTU sempat ditutup selama beberapa tahun oleh pemerintah junta militer Myanmar (sebelum akhirnya beralih ke pemerintahan sipil yang dimenangkan oleh partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi). Penyebabnya adalah banyak alumni kampus ini yang menjadi tokoh oposisi terhadap  Pemerintah, sehingga pemerintah militer menutup kampus ini. Oleh karena itu selama ditutup kampus ini tidak terawat dan tidak memperoleh dana untuk pemeliharaan. Jadi wajar jika kampus YTU tampak kusam. Namun seperti halnya rakyat Myanmar yang tampak sederhana, justru dari kesederhanaan kampus inilah dihasilkan alumni yang hebat dan menjadi tokoh-tokoh penting di Myanmar.

Salah satu keunikan di kampus YTU adalah para mahasiswa, dosen, dan pegawainya tidak ada yang memakai celana panjang. Seperti  umumnya rakyat Myanmar, mahasiswa dan dosen sehari-hari menggunakan sarung yang disebut longyi. Longyi untuk pria dan wanita pada prinsipnya sama, yang berbeda hanyalah motif dan warnanya. Longyi untuk laki-laki motifnya polos atau kotak-kotak, sedangkan longyi untuk perempuan lebih berwarna dan bermotif. Kemana-mana orang Myanmar memakai longyi, baik untuk bekerja, sekolah, kuliah, dan aktivitas sehari-hari. Mulai dari kuli bangunan, supir, pegawai kantor, dosen, pedagang, dan  lainnya  nyaman saja memakai longyi tanpa takut lepas atau kedodoran.

14522966_1222143867853636_9077164847632170167_n

Mahasiswa YTU sehari-hari ke kampus menggunakan longyi. Serasa berada di dalam pesantren saja, he..he

14517521_1222181421183214_1707404823421632660_n

Para mahasiswinya juga memakai longyi yang bermotif dan lebih berwarna

14522719_1221976414537048_7800389718333170378_n

Saya diantara dosen dan mahasiswi YTU yang memakai longyi. Berfoto di hotel sebelum berangkat ke tempat konferensi di kampus YTU

14591787_1222855581115798_7683174901749032920_n

Di sebelah kiri saya adalah Ketua Departemen Komputer dan Teknologi Informasi YTU, Dr. Win Zaw. Di sebelah kanan saya adalah dosen dan mahasiswa YTU. Semuanya tetap setia da tidak canggung berbusana longyi, bahkan ke hotel mewah sekalipun.

Cara menggunakan longyi agak berbeda dengan memakai sarung di negara kita. Jika di Indonesia sarung ditarik ke atas lalu digulung ke bawah, maka di Myanmar longyi diikat  ujung-ujungnya dan ditautkan di tengah sehinga tampak menjendol. Sedangkan untuk wanita longyi dililit ke pinggang (seperti memakai kain kebaya di Indonesia) lalu ditautkan di samping pinggang. Jadi longyi merupakan bawahan untuk busana pria maupun wanita, sedangkan atasannya bisa kemeja, kaos, atau blus. Memakai longyi membuat udara mengalir di antara dua kaki sehingga terasa sejuk. Tentu saja di dalamnya mereka masih menggunakan celana dalam, he..he. Longyi menjadi kenyamanan di Myanmar karena iklim di Myanmar umumnya panas, sehingga memakai longyi adalah salah satu cara untuk mengatasi gerah.

Melihat para mahasiswa, dosen,dan pegawai di YTU hilir mudik memakai longyi  di dalam kampus,  saya merasa seperti berada di dalam pesantren. Jika anda pergi mengunjungi pesantren-pesantren tradisionil di Pulau Jawa, anda melihat para santri dan kyainya memakai sarung sehingga kaum santri itu sering dinamakan juga “kaum sarungan”.

Orang Myanmar umumnya bertubuh kecil dan berpinggang ramping seperti yang anda lihat pada foto-foto di atas. Saya jarang menemukan orang Myanmar yang  bertubuh gemuk atau obesitas. Mungkin karena pola makan orang Myanmar yang tidak kaya lemak, mungkin juga karena orang-orangnya senang berjalan kaki.

Kembali ke kampus YTU di atas. Jika di negara kita program studi S1 apapun lamanya  empat tahun (atau delapan semester), maka di Myanmar program studi sains dan teknik berlangsung selama enam tahun. Wah lama sekali ya. Ternyata hal ini karena sistem pendidikan dasar dan menengah di Myanmar hanya berlangsung selama 10 tahun (SD enam tahun, sekolah menengah empat tahun). Jadi, selama dua tahun pertama di perguruan tinggi mahasiswa mendapat mata kuliah sains yang cukup  banyak sebagai penguatan. Meskipun S1 di YTU lamanya enam tahun, tetapi usia mereka tidak terlalu tua untuk lulus, karena di Myanmar usia wajib sekolah dimulai dari umur lima tahun.

Di YTU tidak hanya ada program S1 (bachelor), tetapi juga terdapat program magister (S2) dan doktoral (S3). Program magister lamanya dua tahun, sedangkan program doktoral antara tiga hingga lima tahun. Sebagai perguruan tinggi teknik terkemuka di Myanmar, seleksi mahasiswanya sangat ketat. Setiap tahun YTU hanya menerima 200 orang mahasiswa S1. Bandingkan di ITB setiap tahun menerima 3500 hingga 4000 orang mahasiswa baru S1. (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Berkunjung ke Yangon, Myanmar (Bagian 2)

  1. tuaffi berkata:

    kampusnya mirip sama kampus saya. hanya saja kursi plastik dan meja kayu itu mirip dengan kantor- kantor kepala desa. hehe😀 tapi saya suka aturannya untuk mengenakan longyi. meskipun kalau saya yang pakai agak was- was juga ya.. kuatir copot. hehe

  2. rrinardi berkata:

    Menarik sekali pak ulasannya tentang myanmar. Saya baru tahu apa itu longyi. Sepertinya unik juga kalau melihat orang-orang di kota banyak memakai longyi, serasa kota santri mungkin ya pak..hhe

  3. penis bengkok berkata:

    Kampusnya megah, dan bangunannya terawat hingga saat ini. Alasannya bapak menuju myanmar karena pertukaran pelajar atau ada hal lainnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s