Jalan-Jalan ke Makassar, Samalona, dan Rammang-Rammang (Bagian 1)

Awal Desember yang lalu fakultas saya mengadakan acara jalan-jalan ke Sulawesi Selatan. Sulawesi Selatan beribukota di Makassar (dulu Ujungpandang). Kebetulan dari Bandung ada penerbangan langsung ke Makassar sekali sehari dengan Lion Air, yaitu pukul 06.05  WIB pagi, begitu juga sebaliknya dari Makassar ke Bandung ada penerbangan langsung pukul 14.30 WITA.

Hari Pertama

Apa tempat wisata yang diingat dari Sulawesi Selatan? Pantai Losari? Itu sudah biasa. Toraja? Hmm..lumayan jauh. Kami ingin yang dekat-dekat saja, yang tidak jauh-jauh dari kota Makassar, karena acara jalan-jalan ini hanya 3 hari 2 malam (sudah termasuk keberangkatan dan kepulangan). Nah, melalui tulisan ini saya akan menceritakan perjalanan saya ke kota Angin Mamiri dan sekitarnya. Dua tujuan utama jalan-jalan adalah Pulau Samalona dan kawasan karst Rammang-Rammang di Kabupaten Maros.

Pesawat Lion Air dari Bandung mendarat di Bandara Hasanuddin Makasar pukul 09.00 pagi. Bandara Hasanuddin Makassar adalah bandara yang sangat ramai dan merupakan pintu gerbang menuju  kawasan Indonesia Bagian Timur. Bandara Hasanuddin merupakan bandara transit jika kita hendak bepergian ke kota-kota lain di Indonesia Timur. Dulu waktu saya singgah de Bandara Hasanuddin, bandara ini masih terlihat bersih, tetapi sekarang sudah mulai agak kotor dan semrawut.

15219600_1290129274388428_1158257246549318922_n

Setelah selesai urusan bagasi, maka kunjungan kami yang pertama adalah ke Benteng Fort Rotterdam yang terletak tidak jauh dari pantai dan Pelabuhan Makassar. Benteng Fort Rotterdam adalah peninggalan Kerajaan Gowa dan dibangun pada tahun 1545. Di dalam benteng ini terdapat museum yang menyimpan perjalanan sejarah dan budaya Sulawesi Selatan.

Bneteng Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam

Bneteng Fort Rotterdam

Benteng Fort Rotterdam

Hari sudah menunjukkan pukul 12.00 WITA. Berhubung hari ini adalah hari Jumat, maka kami sholat Jumat di masjid terapung Amirul Mukminin di Pantai Losari. Mesjid ini tidak benar-benar terapung, tetapi konstruksinya terletak di atas laut sehingga dijuluki masjid terapung. Uf, siang itu matahari di Makassar sangat menyengat. Saya memilih sholat di lantai atas, di sini angin laut bertiup sepoi-sepoi sehingga udara gerah menjadi tidak terasa.

Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari.

Masjid Amirul Mukminin di pinggir Pantai Losari.

Dari lantai atas masjid terapung kita dapat memandang laut luas terbentang (Selat Makassar). Kita juga dapat melihat pemandangan sepanjang pantai Losari dan hotel-hotel yang berjejer di sepanjang pantai.

Pemandangan laut di depan masjid Amirul Mukminin

Pemandangan laut di depan masjid Amirul Mukminin

Kota Makassar sepanjang Pantai Losari, dari lantai dua masjid terapung

Kota Makassar sepanjang Pantai Losari, dari lantai dua masjid terapung

Setelah sholat Jumat tentu perut ini sudah mulai keroncongan. Makan siang di Makassar sebaiknya olahan hidangan laut (seafood), karena ikan di sini segar-segar. Kami makan di Terminal Seafood yang semua masakannya adalah ikan, uang, cumi, kepiting, dan aneka sambal yang gurih dan pedas.

Sebelum balik untuk check-in di hotel, kami singgah dulu di sebuah pantai lain yang bernama Pantai Akkarena. Menurut saya pantai ini kurang begitu bagus, pasirnya berwarna hitam, dan tidak berombak. Ada dermaga kayu di sini untuk menaiki perahu menuju pulau-pulau di sekitar Makassar. Tapi kalau mau naik banana boat atau permainan anak-anak mungkin pantai ini lumayan cocok.

Hari Kedua

Makassar hujan ringan pagi itu, namun tujuan ke Pulau Samalona tetap akan dilanjutkan. Pulau Samalona adalah pulau kecil berpasir putih yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Makassar. Dari Pantai Losari kita menaiki perahu speed boat dengan kapasitas delapan orang.

Sebelum berangkat ke Pulau Samalona, kita berfoto dulu di depan dermaga Pantai Loasari

Sebelum berangkat ke Pulau Samalona, kita berfoto dulu di depan dermaga Pantai Loasari

15391083_1302841029783919_3218086172173045968_n

Aku dan anak bungsuku di Pantai Losari

Pulau Samalona dapat ditempuh sekitar 20 menit dengan perahu speedboat. Sepanjang perjalanan menuju Pulau Samalona tidak terasa ada gelombang laut, lautnya tenang, mungkin karena di sekitar pelabuhan Makassar ada benteng penahan ombak. Kita dapat menyaksikan kalap-kapal besar  yang membuang jangkar di sekitar pelabuhan. Air lautnya terlihat kotor, mungkin karena bercampur dengan limbah buangan kapal.

Setelah 20 menit berlayar, sampailah kami di Pulau Samalona. Pulau kecil berpasir putih ini terlihat di depan mata.

15267839_1291347260933296_4684220167934363831_n

Memang benar Pulau Samalona ini berpasir putih. Di sekitar pulau terdapat pemandangan batu karang dengan aneka satwa laut. Ada menara BTS sebuah operator selular di Pulau Samalona, sehingga  sinyal ponsel masih bisa kita terima. Dari pantai Samalona kita dapat memandang kota Makassar dari kejauhan.

Pantai berpasir putih di Pulau Samalona

Pantai berpasir putih di Pulau Samalona

Pemandangan lainnya di Pulau Samalona

Pemandangan lainnya di Pulau Samalona

Bocah kecil duduk senidirian di rumah pangung

Bocah kecil duduk sendirian di rumah panggung

Di Pulau Samalona terdapat beberapa penginapan, dari kelas seadanya hingga sekelas wisma. Ada sekitar belasan keluarga nelayan tinggal di Pulau ini. Mereka menggantungkan hidupnya dari kunjungan wisatawan dengan membuka usaha warung dan penyewaan toilet. Oh iya, di pulau ini tidak ada sumber air tawar, sehingga air di sini sangat berharga.

Rumah panggung khas Makassar, rumah penduduk di Pulau Samalona

Rumah panggung khas Makassar, rumah penduduk di Pulau Samalona

Meskipun air laut di Pantai Samalona terlihat bersih, namun jika diperhatikan tampak berkilauan. Itu berarti minyak yang tumpah dari kapal sudah sampai ke sini. Bagi yang ingin snorkeling, sebaiknya berhati-hati dengan limbah oli buangan kapal.  Rekan kami yang snorkeling di dekat kapal besar terkena minyak oli buangan kapal yang memenuhi badan, rambut dan kepalanya. Sangat sukar membersihkan badan yang terkena oli di pulau Samalona, karena perlu dibersihkan dengan minyak tanah. Untung saja ada penduduk yang memiliki persediaan minyak tanah sehingga oli dapat dibersihkan.  (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s