Konflik Rasial adalah Akibat Kesenjangan Sosial

Konflik rasial yang bermuatan SARA (suku, agama, ras, antar golongan) cukup sering terjadi di Indonesia. Konflik rasial ini semakin marak sejak orde reformasi (1998). Makin ke sini makin sering saja. Contoh yang berkaitan dengan agama misalnya masalah pembangunan rumah ibadah agama minoritas di tengah masyarakat mayoritas (ingat kasus di Bogor, Bekasi, Papua, Bali, Kupang, dsb). Contoh yang berkaitan dengan etnik misalnya pengusiran warga Madura oleh warga Dayak di Kalimantan, konflik antara masyarakat keturunan Bali dengan warga pribumi di Lampung, konflik antara warga Tionghoa dengan warga pribumi di Tanjungbalai.

Pertanyaannya, apakah konflik rasial itu disebabkan karena bangsa kita anti perbedaan? Tidak suka hidup berdampingan dengan orang berbeda etnik, agama, dan golongan? Kenapa dulu bangsa kita bisa rukun-rukun saja, kenapa sekarang makin sering terjadi konflik?

Saya percaya jawabannya bukanlah karena bangsa kita anti perbedaan. Konflik rasial itu bukan disebabkan karena perbedaan agama maupun etnik. Jika karena berbeda agama maupun etnik, pasti sejak dulu bangsa kita sudah perang bratayudha antara satu agama dengan agama lain, antara satu suku dengan suku lain, antara satu golongan dengan golongan lain. Nyatanya tidak, bukan? Lihatlah di berbagai daerah, masjid, gereja, pura, dan wihara bisa berdiri tanpa ada yang mengganggu. Orang-orang di kota dan di desa sudah biasa punya tetangga berbeda agama maupun etnik. Di dalam satu keluarga bisa saja anggota keluarga berbeda agama. Di beberapa suku di Maluku ada tradisi pelagandong yang mengikat masyarakat yang berbeda agama (Islam dan Nasrani). Jadi, bangsa kita sebenarnya sudah terbiasa hidup dengan orang berbeda agama dan suku sejak dahulu kala.

Lalu, kenapa kok masih sering terjadi konflik rasial? Apa sebabnya? Saya menduga, penyebab konflik tersebut adalah akibat kesenjangan sosial. Harmoni yang sudah terbangun sejak lama menjadi rusak karena faktor kesenjangan sosial yang semakin lebar. Melihat kaum pendatang sukses di suatu daerah, lalu mereka membawa semakin banyak kaumnya ke tanah rantau, maka muncullah ketidakseimbangan. Kaum pendatang membawa tradisi dan agamanya, mereka membangun banyak rumah ibadah tanpa memperhatikan perasaan warga lokal yang mulai terusik. Secara ekonomi mereka lebih baik daripada warga lokal, mereka membangun jaringan ekonomi dengan sesama sukunya. Warga lokal hanya menjadi kuli atau pegawai rendahan. Maka, ketika ada kasus yang melibatkan warga lokal dengan warga pendatang, maka siap-siaplah akan meletus konflik sosial yang dibaca orang sebagai konflik rasial. Provokator akan masuk untuk membuat suasana semakin panas dan runyam.

Di ibukota, dan di kota-kota besar lainnya, di mana kesenjangan sosial sedemikian parahnya antara masyarakat kaya dan miskin, antara konglomerat dengan masyarakat bawah, antara penguasa dengan rakyat, konflik rasial mudah untuk meletus. Ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat menemukan tempat untuk dilampiaskan dalam bentuk kerusuhan (rasial).

Solusi untuk masalah ini adalah menegakkan keadilan. Adil di sini bukan berarti sama rata sama rasa, tapi adil itu adalah meletakkan sesuatu sesuai tempatnya. Jangan merasa mentang-mentang berkuasa, maka anda bisa sewenang-wenang kepada masyarakat yang tidak memilih anda. Jangan karena anda mempunyai kekayaan melimpah, maka hukum bisa anda beli. Jangan karena kaum anda semakin banyak, anda bisa membuat apa saja di tanah rantau tapa menghormati budaya dan agama setempat. Jangan karena anda menguasai media, maka anda bisa membuat berita yang menyudutkan suatu kelompok. Jangan karena anda merasa paling benar dan merasa banyak beking maka anda bisa melecehkan suatu kepercayaan atau simbol-simbol agama maupun etnik. Jika anda sudah bisa berlaku adil, maka niscaya kesenjangan sosial akan semakin kecil gap-nya. Bangsa ini tidak akan mudah bergejolak.

Ketahuilah, bangsa kita tidak suka berkonflik. Mereka ingin hidup tenang dan damai. Bangsa kita rindu  hidup rukun seperti dulu. Mereka tidak anti perbedaan.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Konflik Rasial adalah Akibat Kesenjangan Sosial

  1. Rizal berkata:

    Koefisien gini rasio, nilainya antara 0 dan 1, indonesia sekarang sekitar 0.4, semakin mendekati satu artinya terjadi peningkatan ketimpangan sosial. Nilai 0.45 harus mulai waspada seperti kejadian tahun 1998, kalo nilai gini rasio 0.6 kemungkinan indonesia sudah pecah jadi bbrapa negara. -Salah satu khutbah jumat Salman beberapa tahun lalu.-

  2. dery berkata:

    setuju pak. saya merasa salah sasaran orang bilang org indonesia itu rasis atau makin rasis, tapi permasalahannya ga sedangkal itu. ini tentang ketidakadilan, yang bikin konflik yang muncul terlihat seolah karena sara.

    salam,

  3. saadfajrul berkata:

    bisa juga karena media hanya menampilkan kerusuhan saja. padahal masih banyak bukti kerukunan di Indonesia ini.

    bad news is good news, isnt it?

  4. Sutanto berkata:

    Kalau anda di Jakarta pada saat 1998 maka anda akan tahu bahwa kerusuhan itu digerakkan. Bahkan beberapa minggu sebelumnya TVRI gencar memberitakan penggerebekan oleh ABRI pada gudang sembako oleh etnis tertentu. Ada seorg kenalan ayah yg kena grebek padahal itu barang baru sampai yg sudah ada DO utk segera distribusi. Tentu saja percuma dijelaskan krn toh media sudah diundang.
    Sbg pendidik, lakukanlah juga survey sejarah terutama teknik pengalihan isyu dan juga ilmu sosial ttg “perilaku kerumunan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s