Rumah di Pinggir Lapangan

Saya merasa beruntung sekali membeli rumah yang terletak di pinggir lapangan (ruang terbuka hijau atau RTH). Di sekeliling lapangan itu tumbuh pohon-pohon besar. Ketika siang hari yang panas, angin semilir berhembus dari pohon-pohon itu, membawa kesejukan dan rasa adem. Burung-burung beterbangan di sekitar pohon, dan suara serangga tonggeret yang sedang musim kawin riuh rendah terdengar hingga ke depan rumah.

Namun yang lebih menyenangkan lagi karena  rumah persis terletak di depan lapangan (dipisahkan oleh jalan), maka kami tidak punya tetangga di depan rumah. Oleh karena itu ruang bermain anak menjadi lebih luas selain lapangan itu juga dapat dijadikan warga untuk berbagai aktivitas, seperti main layang-layang, main bola, atau tempat duduk-duduk warga pada sore hari.

rumah1

Halaman rumah kala hujan, dengan ruang terbuka hijau (lapangan) tampak dari depan rumah

Namun, yang lebih penting dari semua itu adalah tersedianya ruang terbuka yang luas untuk anak saya yang sulung. Saya diamanahi oleh Allah SWT anak berkebutuhan khusus (ABK). Keberadaan ABK tentu dapat membuat tetangga merasa agak kurang nyaman karena suara dan aktivitas anak saya yang mungkin dapat membuat orang lain terganggu.  Dengan tidak adanya tetangga di depan rumah, maka tentu berkurang rasa khawatir jika tetangga kami merasa kurang nyaman.

Ruang terbuka hijau itu dulunya milik Perumnas, maklum rumah saya termasuk di daerah Perumnas. Sekeliling lapangan dimanfaatkan warga yang rumahnya tepat di pinggir lapangan tersebut untuk berbagai keperluan. Ada warga yang membangun garasi buat mobil mereka, ada yang menjadikannya kebun, taman, dan lain-lain. Saya sendiri memanfaatkan lahan di pinggir lapangan di depan rumah menjadi taman dan kebun kecil untuk menanam bunga serta beberapa tumbuhan lain seperti mangga, pisang, jeruk, dan lain-lain. Selama ini tidak ada larangan untuk memanfaatkan lahan di pinggir lapangan tersebut asalkan bukan bangunan permanen. Daripada menjadi semak-semak dan tempat bersarang nyamuk, maka lebih baik dimanfaatkan. Tapi jika sewaktu-waktu mau di-revitalisasi oleh Pemerintah Kota, maka siap-siap saja semua yang sudah ditanam atau dibangun di sana harus rela dibongkar.

rumah2

Lahan di pinggir lapangan di seberang rumah saya jadkan taman dan kebun

Saya sering duduk-duduk ngadem di depan rumah sambail memandang taman rimbun dan lapangan itu. Sering saya berpikir, mungkin mendapatkan rumah ini sudah diatur oleh Tuhan. Dengan kondisi anak saya yang ABK, rupanya Tuhan memilihkan saya rumah di sini. Membeli rumah itu kata orang sama seperti mencari jodoh. Kalau mendapat yang pas, maka kita pun mencintainya. Itu tandanya saya berjodoh dengan rumah ini.

~~~~~~~~~

Saya melempar kembali ingatan ke masa lalu  tentang kisah mendapatkan rumah  yang saya tempati sekarang, tepatnya pada tahun 2005. Setelah saya menikah, saya menjadi seorang kontraktor. Maksudnya saya selalu mengontrak rumah karena belum mampu membeli rumah sendiri. Saya sudah tiga kali mengontrak rumah, selalu berpindah-pindah ke rumah kontrakan, tapi masih dalam satu kawasan. Satu per satu anak saya lahir dan rumah kontrakan mulai terasa sempit. Bosan juga sering pindah rumah terus, mengangkut barang-barang itu lho, sungguh merepotkan.

Sebagai orang yang selalu hidup hemat, saya rajin menabung. Setiap mendapat penghasilan lebih, saya selalu menabungnya. Kebetulan saya bukan orang yang suka royal, tidak suka menonton bioskop, tidak suka jalan-jalan ke mal, tidak merokok, tidak konsumtif, jadi memang penghasilan sebagai dosen dan penulis hanya untuk makan, transportasi, biaya anak, dan kebutuhan rumah tangga saja.

Setiap akhir pekan saya sering membawa anak-anak yang masih kecil itu jalan-jalan ke kompleks perumahan. Jalan kaki saja. Ada satu rumah yang saya sering lewati. Rumah itu kosong, halamannya cukup luas, namun saya belum terpikir untuk memilikinya. Tabungan saya juga belum cukup. Lagipula, tidak ada tanda-tanda rumah itu mau dijual.

Setiap kali jalan-jalan membawa anak keliling-keliling, saya selalu melewati rumah itu lagi. Suatu hari ada tulisan RUMAH INI DIJUAL. HUBUNGI NOMOR (nomor telpon pemilik). Iseng-iseng saya hubungi nomor yang bersangkutan. Disambut. Lalu saya tanyakan harga rumahnya. Dia menyebutkan sebuah harga. Oh, saya tidak memiliki uang sebanyak yang dia minta. Kemudian saya tawar, apakah bisa sekian harganya. Pemiliknya ternyata menyarankan untuk janjian ketemu di rumah tersebut sambil membicarakan harga.

Pada hari yang dijanjikan, kami bertemu dengan pemilik rumah. Saya melihat-lihat ke dalam, ternyata halaman belakangnya masih cukup luas. Keinginan saya sejak dulu adalah memiliki rumah yang punya halaman belakang sehingga dapat menjadi tempat leyeh-leyeh atau tempat anak-anak bermain. Ini rumah masih bangunan asli dari developer, belum direnovasi atau ditambah-tambahi. Rumah-rumah tetangga di sebelahnya juga memiliki bentuk yang sama. Saya langsung jatuh hati dengan rumah tersebut.

Kebetulan saya membawa anak yang masih kecil-kecil. Melihat anak-anak saya itu, pemilik itu merasa simpati. Dia minta sebuah harga yang bulat, sedikit lebih rendah dari yang dia tawarkan, sementara untuk biaya balik nama, pajak, dan biaya notaris ditanggung berdua (saya dan pemilik rumah). Akhirnya deal. Setelah melalui proses di  notaris selama sebulan, rumah tersebut akhirnya menjadi milik saya. Saya seperti hampir tidak percaya bisa memiliki rumah sendiri. Uang yang saya tabung selama bertahun-tahun sejak saya belum menikah, sedikit demi sedikit, akhirnya membuahkan sebuah rumah. Tak apalah rumah second, nanti bila ada rezeki saya bisa merenovasinya.

Rumah itu memiliki nomor yang bagus, yaitu nomor sembilan, meskipun saya tidak  percaya soal angka keberuntungan. Airnya dari PDAM, selalu lancar dan bersih. Rumah-rumah yang terletak di jalan lain di seberang lapangan seringkali kekurangan air, maka air di rumah saya selalu mengalir. Kami tidak pernah kekurangan air.  Alhamdulillah. Saya ingat pesan orangtua jika membeli rumah: perhatikan airnya apakah lancar. Itu nomor satu. Nomor dua adalah lingkungan. Lingkungan di sekitar rumah saya yang asri, sejuk, segar, lapang, hijau, dan tetangga yang baik adalah nilai tambah lainnya, sebagaimana yang saya ceritakan di atas.

Setelah merenung-renung kembali, maka saya pun mulai mengerti sekarang, rupanya inilah rumah yang dipilihkan Allah SWT untuk kami. Rahasia Allah kita tidak pernah tahu.

Pos ini dipublikasikan di Pengalamanku. Tandai permalink.

4 Balasan ke Rumah di Pinggir Lapangan

  1. Hafidh Frian berkata:

    Sangat menginspirasi bagi pemuda seperti saya yg berumur 22th. Yg dlm pikirannya adalah menikah, berkeluarga, membimbing keluarga, memiliki rumah, dan mencukupi kebutuhan keluarga. Beli rumah cash itu keren. Titik. Terima kasih mas.

  2. michael berkata:

    Alhamdulillah bisa puya rumah sendiri. Sangat inspiratif pak, Mungkin kapan-kapan bisa dibagi tipsnya bagaimana mengatur keuangan, mengingat sekarang kebutuhan sekolah untuk anak saja sudah tinggi sekali, belum lagi kesehatan, hiburan dan lain-lain.

    Ilmu pengaturan keuangan ini yang belum banyak dimiliki generasi muda maupun generasi tua. Banyak orang berpenghasilan tinggi, sebagai direktur dan sebagainya tapi di masa tuanya tidak memiliki apa-apa.

  3. aldiprima berkata:

    Maaf pak Rinaldi. Sebagai dosen ITB bukannya diberikan fasilitas perumahan atau kavling untuk dosen gitu, kenapa bapak tidak ambil yang di situ aja?

    • rinaldimunir berkata:

      Tidak pernah ada kavling lagi buat dosen baru sejak tahun 90-an. Semua dosen harus mengusahakan rumah sendiri-sendiri, menabung dan selalu menabung agar bisa punya rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s