Obrolan dengan Supir Go-Jek Sepanjang Jalan

Akhir-akhir ini saya jadi sering menggunakan Go-Jek dari rumah ke Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Biasanya saya naik taksi dari rumah, atau bawa motor lalu dititip parkir di Bandara selama semalam dua malam, tapi saya merasa lebih praktis naik ojek saja.

Nah, apakah naik ojek pangkalan atau naik ojek berbasis aplikasi semacam Go-Jek? Dua-duanya saya gunakan, tapi kalau ke Bandara saya pilih naik Go-jek saja.  Go-Jek bisa dipesan dari rumah melalui aplikasinya, lima menit kemudian supir Go-Jek nya datang.  Praktis dan lebih murah. Namun saya tetap menghargai ojek pangkalan, kalau untuk jarak dekat ya saya naik ojek biasa.

Saya ini orang yang tipenya suka mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Tidak hanya supir Go-Jek saja, tapi saya juga suka mengajak ngobrol supir angkot, supir taksi, atau supir travel. Kebetulan saya mendapat supir-supir Go-Jek yang ramah dan mau diajak bercerita. Saya suka menanyakan pengalaman mereka selama menjadi supir Go-Jek. Naluri jurnalistik saya muncul begitu saja, siapa tahu ada bahan untuk tulisan, he..he. Sambil mendengarkan obrolannya, saya sekaligus menyelami kehidupan mereka. Banyak saja cerita-cerita supir Go-Jek yang dapat dijadikan pelajaran kehidupan maupun sumber inspirasi. Sambil ngobrol mereka tetap awas menjalankan motornya lho.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Cerita Supir Go-Jek 1

Saya naik Go-Jek dari rumah di Antapani ke Bandara Husein S. Tarifnya terpampang di layar aplikasi cuma 24 ribu saja. Sebagai perbandingan, jika memakai taksi dari rumah saya minimal 50 ribu rupiah. Sepanjang perjalanan supir gojeknya enak diajak mengobrol.  Saya tanya-tanyalah dia, berapa dapat penghasilan dari bonus go-ride, go-food, go-mart, dan aneka go lainnya.  Setiap hari dia mendapat bonus minimal 20 poin, itu setara 100 ribu rupiah, minimal lho itu.  Bonus uang itu ditransfer ke rekeningnya setiap hari. Sebulan berarti minimal tiga juta rupiah. Itu belum termasuk bayaran cash dan bonus lebih bayar dari penumpang.

Jam kerjanya fleksibel, Go-Jek ini cuma kerja tambahan saja.  Dia hanya Go-Jek dari pagi sampai pukul 9.00, lalu sesudah itu dia bekerja mengantar surat tagihan kartu kredit dari berbagai bank ke alamat nasabah. Tugas mengantar tagihan kartu kredit sampai jam 15.00, sesudah itu dia kembali nge-gojek lagi sampai jam 10 malam. Kalau surat tagihan yang diantar tidak banyak, dia nge-go-jek lagi, tidak harus dari jam 15.00.

Dengan penghasilan meng-gojek saja minimal mendapat penghasilan per bulan minimal tiga juta diluar cash dan bonus penumpang. Itu penghasilan di atas UMK. Jika ditambah dengan penghasilan mengantarkan surat tagihan kartu kredit dari bank tentu lebih besar lagi. Makanya banyak orang yang keluar dari pekerjaan formalnya dan beralih menjadi supir Go-Jek karena terbayang penghasilan yang menggiurkan.

Tapi supir Go-Jek di Bandung masih belum berani show of force menampakkan diri dengan seragam Go-Jek serta helm hijaunya itu, seperti yang kita lihat di Jakarta atau di kota lain. Mereka masih melapisi seragam Go-Jek dengan jaket penutup agar tidak terlihat oleh supir ojek pangkalan, yang masih menolak kehadiran Go-Jek. Itu cara supir Go-Jek di Bandung menyamar. Namun sekarang kondisinya sedikit lebih lunak. Supir Go-Jek boleh mengantarkan penumpang ke daerah yang dikuasai ojek pangkalan, tapi mereka terlarang menarik penumpang baru dari daerah itu. Itu win-win solution dengan supir ojek pangkalan, demikian cerita supir Go-Jek tadi.

Tidak terasa sampailah saya di Bandara Husein, hendak terbang ke Lampung mengajar di ITERA. Supir Go-Jek menurunkan saya di dekat pangkalan taksi bandara. Ongkos Go-Jek 24 ribu saya lebihkan, bonus buat supir Go-Jek itu, serta memberi nilai bintang  5  di aplikasi Go-Jek.

Olala, saya lupa mengambil foto supir Go-Jek tadi agar tidak dibilang “no pic = hoax“. He..he..

Cerita Supir Gojek 2

Kali ini saya ke bandara Husein lagi dengan Go-Jek. Supir gojek yang membawa saya sungguh keren pengalaman hidupnya. Inspiratif. Namanya Pak Saiful, orang Madura. Dia bukan supir Go-Jek dengan pengalaman hidup biasa-biasa saja, tapi luar biasa. Selama bertahun-tahun sebelum menjadi supir Go-Jek, Pak Saiful  telah melanglangbuana di berbagai negara bekerja sebagai sarjana teknik mesin. Pak Saiful pernah bekerja di Belanda, Belgia, Australia, dan terakhir di Arab Saudi sebelum akhirnya pulang ke tanah air.

Putra Pak Saiful adalah lulusan S2 bidang komputer di Korea dan sekarang bekerja di empat perusahaan masakapai asing sebagai ahli IT. Meskipun sudah mencapai gelar Master, Pak Saiful tetap mendorong anaknya untuk meneruskan S3 ke luar negeri. Putranya itu sebenarnya sudah diterima S3 di  Jepang tapi tidak jadi diambilnya karena memakai program ikatan dinas dan setelah lulus harus bekerja selama 10 tahun di sana. Mungkin S3 di Jerman saja, katanya. Keren ya…

Sekarang sesudah pensiun pak Saiful sekali-sekali masih menjadi konsultan permesinan, minggu lalu baru pulang proyek di Kendari. Lha, udah hidup mapan begini kok masih mau kerja Go-Jek, Pak, tanya saya. He…he, ternyata me-gojek itu buat mengusir rasa jenuh saja karena sehari-hari dia di depan komputer memantau pekerjaan.

Pak Saiful juga bercerita tentang kucing-kucingan supir Go-Jek menghindari bentrokan dengan ojek pangkalan. Meski tidak memakai atribut Go-Jek, tapi supir ojek pangkalan mampu mendeteksi supir Go-Jek yang masuk kawasannya. Antapani yang padat berbagai kompleks perumahan itu sebenarnya pasar basah Go-Jek, namun supir Go-Jek sering takut masuk Antapani.

Setelah sampai di Bandara Husein, saya minta mengambil gambarnya buat berbagi cerita yang menarik ini. Ini Pak Saiful, tidak memakai seragam Go-Jek, seperti halnya supir Go-Jek lain di Bandung.

gojek

Hmmmm…saya membayangkan masa pensiun yang indah seperti Pak Saiful ini, yang telah berhasil mendidik anak-anaknya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Semoga tetap sehat terus, Pak…

Pos ini dipublikasikan di Kisah Hikmah. Tandai permalink.

3 Balasan ke Obrolan dengan Supir Go-Jek Sepanjang Jalan

  1. adhyasahib berkata:

    Sulit juga ya mau jadi supir go-jek disana tapi belum boleh pake atribut seragamnya, harus sembunyi2 gitu, kenapa gak si ojek pangkalan ikutan gabung aja jdi go-jek kan lebih bagus,hehe

  2. Tufiddin berkata:

    di Jogja, di dekat stasiun lempuyangan juga terpampang tulisan bahwa ojek online dilarang menurunkan atau menjemput penumpang..

  3. Awang Anggriawan berkata:

    Masyarakat harus mau menerima kemajuan teknologi. Karena kemajuan teknologi memang banyak profesi-profesi yang mulai ditinggalkan seperti supir angkot dan loper koran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s