Tanah yang Tak Kulupa

Sebagai orang rantau, kerinduan apakah yang kadang-kadang membayang di dalam pikiran? Tentu saja tanah kampung halaman. Apalagi jika di tanah itu anda pernah dilahirkan, dibesarkan, lalu ketika beranjak dewasa pergi meninggalkannya. Jika masih punya orangtua di sana, maka keinginan untuk pulang selalu ada. Tapi jika sudah tidak punya orangtua lagi, dua-duanya sudah almarhum, maka apakah tanah kampung halaman itu masih akan Anda kunjungi lagi?

Jawabnya ya, teutama bagi saya sendiri. Meskipun kedua orang ibu-bapa saya sudah meninggalkan dunia fana ini, tetapi keinginan untuk pulang selalu tetap ada. Minimal menengok rumah warisan orangtua, tempat di mana saya dulu dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang. Dua kali setahun saya pasti akan pulang, sekali sebelum bulan puasa untuk berziarah ke makam orangtua, kedua kali pada awal tahun. Rasanya tanah kelahiran selalu memanggil untuk pulang dan pulang.

Setiap kali meninggalkan kota Padang menggunakan pesawat, saya selalu mengambil duduk pada sisi pesawat sebelah kiri. Tujuannya satu: menatap dari atas udara tanah kota yang telah membesarkan saya. Kota ini berhalaman lautan yang terbantang luas di sebelah barat, yaitu Samudera Hindia. Kawasan pinggir pantai sangat padat dengan pemukiman, gedung-gedung, dan perkantoran. Dari udara semua pemandangan itu terlihat dengan jelas selepas pesawat take-off dari Bandara Minangkabau.

padang2

Lihatlah daratan bagian bawah, tampaklah tanah yang berbentuk kepala burung. Diujungnya teronggok Gunung Padang yang seakan duduk termenung di pinggir laut. Tanah yang berbentuk kepala dan badan burung itu adalah bagian dari perbukitan yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Salah satu bukit itu diberi nama Bukit Siti Nurbaya karena di sinilah kisah Siti Nurbaya bermula. Sebuah sungai yang bernama Batang Arau memisahkan kawasan perbukitan dengan dataran kota. Ujung sungai itu bernama Muara. Di sepanjang sungai itulah terletak kawasan kota lama yang dibangun sejak zaman Hindia-Belanda.

padang1

Teruslah mengarahkan pandangan menyusuri perbukitan itu ke arah tenggara, maka sampailah ke kompleks pemakaman orang kampung saya. Di sana, di atas tanah bukit yang curam, terletak makam ibu dan ayah saya.  Tidak tampak dari atas pesawat, tapi saya bisa membayangkannya dari atas pesawat dengan perasaan sedih. Semoga Allah SWT menerima amal sholehmu wahai ayah dan ibu, dan menempatkamu di tempat yang layak di sisi-Nya, amin.

Lamat-lamat pesawat semakin menjauh dari tanah kota Padang, terbang ke selatan menuju tanah Jawa. Tanah yang telah memberikan kenangan kepada saya pun hilang dari pandangan. Tanah itu tidak akan pernah kulupa.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan, Cerita Ranah Minang. Tandai permalink.

4 Balasan ke Tanah yang Tak Kulupa

  1. aldiprima berkata:

    Sedih pak kalau udah taragak jo kampuang, sebagai perantau sering terbersit keinginan menghabiskan waktu sampai hari tua bersama keluarga besar di kampung halaman, namun apa daya, pariuak nasi awak di nagari urang.

  2. mardianis berkata:

    ondeh tanah kelahiran indak ka pernah dilupokan pak Renaldi .ambo sendiri nan lahir dan besar di ranah minang. marasokan sahdunyo suasana kampuang , di umua satanggah abat kini kenagan itu selalu datang ,rasonyo indah sekali,, kalo baru menapak di jakarta meniti karir dengan semangat muda dan ingin prestasi baik, jarang kenangan itu hadir kini setelah semua didapatkan ,,, kenangan indah itu menjadi hiburan.
    salam

  3. adhyasahib berkata:

    Kampung halaman memang selalu memanggil2 untuk pulang 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s