Setelah Pilkada DKI Berlalu

Pilkada putaran kedua di DKI Jakarta baru saja selesai. Kita pun sama-sama sudah mengetahui hasilnya. Melalui hasil hitung cepat, pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil mengalahkan pasangan petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat dengan angka yang cukup telak, yaitu 58% banding 42%. Hasil real count dari KPU tidak akan jauh berbeda dari hasil hitung cepat, yang ketika tulisan ini dibuat ternyata rekapitulasi hasilnya sudah diumumkan (Baca: Rekapitulasi Suara TPS di KPU DKI Jakarta Selesai, Ini Hasilnya).

Inilah Pilkada yang paling menegangkan dan paling panas dalam sejarah Pilkada. Pilkadanya di DKI Jakarta, tetapi menyedot perhatian seluruh rakyat Indonesia. Jadi, tidak heran ada yang mengatakan ini Pilkada rasa Pilpres.

Saya sebut Pilkada yang panas dan menegangkan karena Pilkada DKI melibatkan sisi emosional orang banyak. Sentimen SARA sudah mencuat jauh sebelum kampanye Pilkada dimulai. Faktornya adalah sang petahana, Ahok. Banyak orang menilai bahwa Ahok tidak disukai karena etnik dan agamanya. Betulkah begitu? Menurut saya penilaian itu tidak tepat. Orang Indonesia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan etnik dan penganut agama yang berbeda. Tidak ada masalah yang serius. Seperti yang pernah saya nyatakan dalam tulisan sebelumnya, Ahok sebenarnya memiliki kinerja yang bagus, jadi seharusnya dia bisa memenangkan pertandingan ini apabila  didasarkan pada hasil kerja nyatanya. Komitmennya menegakkan pemerintahan yang bersih dan anti korupsi juga sangat diapresiasi. Bahkan, hasil-hasil survey juga menunjukkan bahwa warga Jakarta mayoritas puas dengan kinerjanya. Namun ternyata mereka tidak memilih Ahok. Apa sebabnya?

Rupanya, kinerja dan prestasi saja tidak cukup. Orang juga melihat dari sisi yang lain, yaitu attitude. Inilah yang kurang dimiliki Ahok. Ahok tidak bisa menjaga bicaranya. Dia berbicara apa saja, mengomentari hal-hal yang bukan wilayahnya, menunjukkan sikap dan perilaku yang kurang santun, yang mana bagi masyarakat timur sikap dan perilaku masih sangat dijunjung tinggi. Apalagi seorang gubernur tidak hanya pemimpin administrasi pemerintahan, tetapi juga pemberi keteladanan. Apalah artinya kinerja yang bagus namun tertutup oleh attitude yang kurang pas.

Perilaku Ahok yang tidak bisa menjaga bicaranya menimbulkan ketersinggungan, khususnya umat Islam. Puncaknya adalah kasus Al-Maidah 51 yang terkenal itu yang sama-sama kita ketahui masalahnya. Karena sudah masuk ke ranah agama, sesuatu yang sangat esensial dan primordial bagi orang  Indonesia, maka mau tidak mau Pilkada DKI akhirnya “menyeret” partisisipasi hampir seluruh bangsa Indonesia untuk ikut-ikutan berkomentar. Dari semula berkomentar berubah menjadi sikap pro dan kontra.  Bangsa ini akhirnya terbelah dua dalam menyikapi Ahok.  Akibatnya sungguh menyedihkan. Hubungan pertemanan menjadi rusak hanya gara-gara berbeda sikap dan pandangan tentang Ahok. Keharmonisan hubungan antra umat beragama menjadi terganggu. Bangsa Indonesia berada diambang perpecahan. Media sosial memiliki peran besar dalam polarisasi bangsa ini, karena posting-an tentang kubu-kubuan ini beredar dengan cepat dan masif secara personal. Berita fintah dan hoax berseliweran setiap waktu yang membuat kebatinan bangsa ini semakin panas dan tegang.

Sekarang pesta sudah usai. Ahok kalah. Kekalahan itu menurut para pengamat tidak hanya karena faktor sentimen SARA semata, tetapi juga akibat beberapa kejadian  menjelang hari pemungutan suara, yang membuat pemilih rasional mengalihkan suaranya ke pasangan lain. Tiga kejadian yang menonjol adalah, pertama pembagian sembako secara masif pada masa tenang kepada rakyat miskin, yang dinilai sebagai bentuk politik uang dan dianggap menciderai demokrasi yang bersih. Kedua adalah konten video kampanye Ahok-Djarot yang memberi stigma negatif kepada kaum pribumi dan umat Islam. Ketiga adalah kasus penghinaan Steven kepada Gubernur NTB di Bandara Changi, Singapura. Ketiga kejadian ini beredar dengan cepat dan deras melalui media sosial, akibatnya sungguh tak terduga, pemilih rasional menjauhi Ahok.

Syukurlah Ahok menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Media sosial pun tiba-tiba berubah menjadi lebih sejuk dan lebih tenang. Suasana yang tadinya panas berubah menjadi dingin. Ada “untungnya” juga Anies-Sandi yang menang, sebab jika Ahok yang menang maka saya khawatir polarisasi bangsa ini akan terus berlanjut hingga Pilpres 2019 dan sesudahnya. Rupanya Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri sehingga bangsa Indonesia luput dari perpecahan yang mengancam.

Sekarang yang  diperlukan adalah rekonsiliasi bangsa Indonesia yang terpecah akibat Pilkada DKI.  Sudahi permusuhan dan penebaran kebencian kepada masing-masing kelompok. Tidak ada gunanya.  Kita ini bangsa yang satu, yaitu Bangsa Indonesia.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Setelah Pilkada DKI Berlalu

  1. Andrew berkata:

    Seandainya Ahok beragama Islam pasti hasilnya akan berbeda. Sebaiknya Ahok mencoba mendaftar menjadi cagub di provinsi nonmuslim saja supaya tidak menjadi masalah SARA lagi.

  2. Bayu berkata:

    Setelah Ahok kalah pilkada kenapa kasus hukumnya tidak ramai lagi? Sepertinya mereka yang mengkriminalisasikan Ahok sudah merasa puas dengan kekalahan Ahok.

  3. Silvie Amelia berkata:

    Semoga saja berjalan dengan lancar tanpa ada keributan..makasih ka sahringnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s