Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

Sebagai orang Islam, saya merasa cukup sedih ketika umat Islam dituding intoleran, radikal, anti-kebhinnekaan, anti-NKRI, anarkis, dan sebagainya. Sebutan-sebutan negatif itu berlangsung selama Pilkada hingga Ahok divonis bersalah dan dihukum dua tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara baru-baru ini.

Pilkada DKI memang kental dengan nuansa SARA. Puncaknya ketika Ahok dianggap menistakan Al-Quran dengan kasus Al-Maidah 51 yang sama-sama kita ketahui. Pro kontra terhadap ucapan Ahok itu telah membangkitkan sentimen keagamaan yang meluas di  seluruh tanah air. Aksi-aksi demo yang bertubi-tubi yang diikuti oleh ratusan ribu hingga jutaan umat Islam di Jakarta,  demo di mana-mana di seluruh negeri, dan perang kata-kata di media sosial, telah membuat situasi negara ini menjadi tambah panas. Hampir-hampir saja negara ini diambang perpecahan. Peserta demo-demo itu dituding anti-kebhinnekaan, radikal, intoleran, dan anti NKRI. Saya tidak mengerti kenapa disebut demikian, mungkin karena yang demo itu memakai sorban, peci, berbaju putih-putih, menggemakan takbir, dan sasaran demo adalah Ahok yang kebetulan non-muslim dan beretnik Tionghoa. Padahal yang diperjuangkan oleh peserta demo adalah tindakan hukum, bukan agama orang lain atau etnik.

Setelah Pilkada diketahui hasilnya, yang ternyata Ahok kalah, maka media asing pun ramai memberitakannya. Media asing menulis bahwa kemenangan Anis-Sandi adalah kemenangan kaum radikal dan menunjukkan meningkatnya intoleransi di Indonesia. Publik di dalam negeri yang Pro Ahok ikut-ikutan mengamini tudingan media luar negeri tersebut. Naon? Apa hubungannya kemenangan Anies-Sandi dengan radikalisme dan intoleransi?  Apakah tidak memilih Ahok maka disebut intoleran dan anti kebhinnekaan? Bagaimana dengan kelompok pemilih dari non-muslim atau pemilih beretnik Tionghoa yang kompak 99% memilih Ahok, apakah mereka juga disebut anti-kebhinnekaan?

Jika kemenangan Anies-Sandi dianggap kemenangan kaum radikal, itu artinya 58% pemilih DKI yang memilih Anies-Sandi (sekitar 3,2  juta pemilih) seluruhnya dianggap kaum radikal dan intoleran, sedangkan 42% yang memilih Ahok dianggap toleran dan tidak radikal. Kesimpulan yang sama sekali absurd dan gegabah, sebab, meski ada yang memilih karena alasan agama, lebih banyak lagi warga DKI tidak memilih Ahok bukan karena pertimbangan agama, tetapi karena faktor attitude Ahok dan serangkaian peristiwa yang terjadi pada masa tenang yang telah menggerus elektabilitasnya. Peristiwa-peristiwa itu seperti pembagian sembako, kasus Steven yang mendiskreditkan pribumi, dan iklan kampanye Ahok yang kontroversial.

Pasca Pilkada, saya kira suasana kebatinan di tanah air sudah mulai reda, ternyata saya salah. Kegaduhan di dalam negeri belum usai. Sidang Ahok berakhir klimaks dengan vonis hukuman penjara dua tahun yang dijatuhkan oleh hakim. Yang lebih mengejutkan, hakim memerintahkan Ahok ditahan. Media luar negeri pun kembali nyinyir dengan menyebut hukuman kepada Ahok sebagai bukti intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Mereka menyebut vonis tersebut adalah hasil tekanan massa. Itu artinya media luar negeri meragukan independensi hakim Indonesia.

Para pendukung Ahok yang belum bisa move on tidak terima Ahok dipenjara, padahal sebelumnya mereka mengatakan siap menerima apapun keputusan hakim. Mereka melakukan unjuk rasa dan menuntut Ahok dibebaskan. Pendukung Ahok menyatakan keadilan telah mati di Indonesia. Indonesia mundur ke belekang. Dalam aksi unjuk rasanya mereka kembali menghina ulama dan menyebut vonis ini adalah akibat kaum radikal yang anarkis dan intoleran dan anti-NKRI.

Kawan. Umat Islam Indonesia sangat cinta NKRI. Kemerdekaan Indonesia ini diperjuangan dengan darah para syuhada dan ulama. Mana mungkin umat Islam mengkhianati hasil perjuangannya sendiri dengan mengancam NKRI yang sudah susah payah diperjuangkannya?

Umat Islam tidak anti Pancasila. Sila-sila di dalam Pancasila itu adalah perwujudan ajaran Islam. Umat Islam tidak menuntut negara Islam. Soal dasar negara ini sudah selesai ketika para tokoh Islam pada tahun 1945 berbesar hati menghilangkan tujuh kata di dalam Piagam Jakarta untuk menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemisahan oleh saudara sebangsa di kawasan Indonesia Timur.

Umat Islam tidak anti kebhinnekaan. Sudah lama umat Islam hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama berbeda. Di Indonesia tidak hanya hari penting agama Islam saja yang dijadikan hari libur nasional, semua agama mendapat hari libur untuk hari rayanya. Bahkan hari Jumat tidak dijadikan hari libur, justru hari Minggu yang menjadi hari libur. Kita hampir tidak menemukan libur nasional untuk hari raya umat Islam di Amerika, Inggris, Jerman maupun Perancis, padahal mereka adalah negara-negara yang dianggap mbah-nya demokrasi.

Umat Islam bukanlah orang radikal, ekstrimis, teroris. Perilaku radikal sekelompok orang tidak dapat digeneralisasi bahwa semua orang Islam adalah radikal, ekstrimis, dan teroris. Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik  lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tertib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.

Kawan. Jangan kau benturkan Islam dengan label-label yang menyesatkan itu.  Indonesia bukan hanya soal Ahok. Indonesia adalah negara besar. Terlalu habis energi bangasa kita ini hanya mengurus masalah satu orang, padahal masih banyak persoalan bangsa ini yang menuntut perhatian.

Yang dapat kita lakukan saat ini adalah menghormati keputusan hakim. Terpidana masih punya hak untuk menuntuk keadilan dengan melakukan upaya banding, kasasi, dan PK.  Jalan masih panjang, keputusan belum inkracht.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

11 Balasan ke Ketika Islam Dibenturkan dengan Kebhinnekaan dan NKRI

  1. caklacikli berkata:

    Saya senang membaca tulisan2 Bapak, terutama kategori agama. Menambah wawasan dan sudut pandang saya. Kalau saya pribadi, keprihatinan saya akan beberapa peristiwa yang mengaitkan anggapan “intoleransi dari umat islam” akhir2 ini justru memacu saya untuk lebih mengenal dan mendalami tentang islam, tidak hanya menjalani sekedarnya, lalu ikut2an berkomentar tanpa dasar. Saya semakin ingin mengerti seperti apa sih agama saya ini, sehingga menjauhkan fikiran negatif saya yg kadang2 terpengaruh “apa iya kami kurang toleran?”. Semoga dgn niatan belajar, bisa lebih mengerti pesan islam sebagai agama pembawa perdamaian. Terimakasih artikelnya pak. Salam kenal.

  2. Tufiddin berkata:

    Reblogged this on TUFIDDINBLOG and commented:
    Sebagai seorang muslim, pendapat saya terwakili oleh tulisan Pak Rinaldi Munir dalam blog pribadinya.

    Hendaknya setiap orang menjaga lisannya dari perkataan yang buruk, tak terkecuali di jejaring sosial. Karena tulisan mengambil hukum perkataan.

  3. ahmad berkata:

    Pak Rin yang baik,

    1. 5 kali sekolompok muslim DI/TII memberontak pd republik Indonesia. Mereka bukan hanya keturunan pejuang 45, bahkan mereka sebagian adalah pejuang 45. Tapi ketika mereka ingin berganti haluan negara, kita harus menumpasnya (tentu sebagian besar penumpas adalah muslim juga). Apakah saat itu ada yg termehek-mehek, wah orang islam adalah pembrontak dan ditumpas? Tidak karena kita tahu, tidak semua orang Islam indonesia setuju DI/TII.

    2. Ketika ISIS, menggunakan nama islam untuk berbuat kekejian, apakah semua orang islam bekata, wah orang islam keji dan harus diperangi? Tidak, karena kita tahu, sebagian besar orang islam anti ISIS.

    3. Ketika politisi muslim dipenjara karena korupsi, apakah semua politisi muslim koruptor? Tidak sama sekali.

    4. Nah, ketika ada sekelompok orang islam yang intoleran, anti bhineka tunggal ika dan anti pancasila (ini fakta, tidak perlu diperdebatkan ada tidaknya). Apakah kita patut termehek-mehek, Wah orang islam jangan semuanya anti toleransi, bhineka tunggal ika dan pancasila? Jawaban pasti, TIDAK. Karena mayoritas orang islam tidak setuju terhadap perilaku sekelompok orang islam tsb (lihat contoh 1-3 diatas).

    Oleh karena itu, sebaiknya tidak menggunakan kata “ketika islam dibenturkan dengan kebhinekaan dan nkri”, karena faktanya tidak semua orang islam merasa seperti itu.

    Oh ya, satu lagi, kapan Pak Rin menulis tentang HTI yang dibubarkan pemerintah? kabarnya di kampus2 banyak simpatisannya, kita pengin tahu bagaimana pengamatan dan pendapat Pak Rin di ITB.

  4. Agra berkata:

    Sepertinya anda simpatisan FPI, HTI, dan islam radikal ya ?
    Tulisan anda seperti FPI saja yang selalu mengatasnamakan umat muslim dan Islam ?
    Siapa bilang islam dibenturkan dengan NKRI ?
    Buktinya islam moderat baik-baik saja kok, malah mendukung pembubaran ormas2 islam radikal tersebut.

  5. fadhil berkata:

    agra, saya belum paham coba sebut apa defenisi islam radikal?kenapa dan apa sebabnya efek radikal itu muncul?
    islam moderat???apakah islam pada masa rasul itu islam moderat??kalau ada coba tunjukkan satu dalil aja
    islam tidak ada kotak-kotak bung, islam itu, islam inilahh, islam itu satu
    coba sebutkan fakta bahwa fpi, hti atau ormas lainnya itu radikal?

    • aldiprima berkata:

      Dalam pandangan saya istilah Islam radikal hanyalah istilah yang diciptakan pihak2 anti Islam untuk memberangus eksistensi Islam terutama dalam pemerintahan.

  6. aldiprima berkata:

    Betul, sudah banyak energi negeri bangsa terkuras hanya karena satu kasus ini, saatnya menatap ke depan demi kemajuan negara yang kita cintai ini sebagaimana ajakan para pendukung jokowi (yang notabene masih sama dgn pendukung ahok di pilkada 2017) kepada pendukung prabowo pasca pilpres 2014.

  7. mario berkata:

    “Mereka yang demo-demo kemarin itu dalam rangka membela agama dan kitab sucinya, sama sekali bukan menyerang agama lain dan etnik lain. Demo-demo itu bahkan berlangsung tertib dan damai, jauh sekali dari kesan anarkis yang dilabelkan oleh kelompok yang tidak suka.”

    Pak Rin, dalam demo kemarin tidak dapat dikatakan tertib dan damai juga. Kalimat-kalimat kasar seperti gantung, bakar, dan rasisme terhadap satu kaum dilontarkan. Saya berharap dosen favorit saya dapat menulis dengan lebih netral. Untuk pendapat anda terhadap kelompok yang membela Ahok, saya juga tidak memungkiri bahwa pendapat anda ada benarnya (matinya keadilan cukup berlebihan, harus menerima keputusan hakim). Tetapi jangan terus mengungkit kesalahan satu kelompok dan melupakan kesalahan kelompok lainnya.

    Salam.

  8. bhara berkata:

    yg penting anies-sandi menang, ahok dipenjara.. 2019 prabowo presiden..

  9. arin berkata:

    Aku tunggu-tunggu pak rinaldi menulis tt kelompok radikal (kalau ada lho ya) atau HTI di kampus ganesha tercinta (kalau ada lho ya), atau para simpatisannya, mahasiswa dan dosen (sekali lagi kalau ada lho ya..). Hallo Pak Rin, kami menunggu cerita Anda soal ini… Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s