Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya

Beberapa waktu yang lalu saya ke kampus Ganesha naik Go-Jek (karena motor saya masih kena tilang di kantor polisi). Ketika mengorder Go-Jek, pengemudi yang menerima order ternyata perempuan. Wah, saya kaget! Susi namanya, begitu yang tertera di layar aplikasi. Waduh, bagimana ya, asa gimana gitu diboncengi tukang ojeg perempuan. Belum pernah sih. Tapi karena sudah terlanjur pesan, saya merasa nggak enak juga membatalkannya.

Setelah dia datang, benar, ternyata ada rasa canggung juga bagi saya naik motornya. Risih.

“Nggak apa-apa nih, saya laki-laki”, tanya saya.

“Nggak apa-apa pak, sudah biasa”, katanya.

Ya sudah, saya pun naik motor gojeknya dengan tetap menjaga jarak di atas boncengan. Dari Antapani tujuan saya ke kampus ITB naik Go-Jek dengan pengemudinya bernama Teteh Susi. šŸ™‚

Seperti biasa saya selalu mengajak ngobrol supir Go-Jek sepanjang perjalanan. Kata Teh Susi, dia biasanya berjualan buah lokal di Antapani. Tetapi sekarang jualan buah sedang sepi, musim hujan yg berkepanjangan membuat buah2an jarang ada. Akhirnya Teh Susi banting stir jadi pengemudi Go-Jek.

Bagi Teh Susi, kerja meng-gojek merupakan pekerjaan sampingan untuk membantu suaminya. Suami Teh Susi bekerja di sebuah bengkel motor di daerah Ujungberung. Bosnya orang Tionghoa. Baik. Suami Teh Susi meminjam uang kepada bosnya untuk membangun rumah di Pasir Impun. Cara pengembalian pinjaman adalah dengan memotong gaji suaminya. Kata Teh Susi, gaji suaminya di bengkel itu Rp3 juta per bulan. Tiap bulan dipotong 50% untuk membayar cicilan pinjaman. Suami Teh Susi meminjam Rp 100 juta kepada bosnya. Alhamdulilah, rumah yang dibangun di atas tanah seluas 5 tumbak (70 m2) sudah selesai dibangun, tinggal melunasi penjaman uang setiap bulan.

Untuk membantu melunasi pinjaman suaminya, Teh Susi bekerja menjadi supir Go-Jek dari jam 7 pagi sampai sore. Dia mangkal di kios buahnya di Jl. Indramayu yang kosong (tidak ada buah yang dijual). Anaknya dua orang masih kecil-kecil, dititipkan di rumah ibunya. Dari bekerja sebagai supir Go-Jek, Teh Susi bisa mendapat bonus (dari go-ride, go-food, go-send, dll) sampai 20 poin sehari, itu setara dengan Rp100.000. Kadang-kadang cuma dapat Rp50.000. Lumayan, alhamdullah.

Sampailah saya di Jl. Ganesha. Ongkos Go-Jek 15.000 saya lebihkan saja menjadi 20.000. Lima ribunya buat teh Susi saja, kata saya, buat wanita yang bekerja dengan ikhlas membantu suaminya.

Teteh, saya foto dulu ya..

teh susi

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya

  1. @nurulrahma berkata:

    Warbiyasak semoa berkah berkaaahh

  2. Aditya berkata:

    Sy juga pernah ngalamin hehe. Malahan sy tawarin biar sy aja yg bawa motornya, eh si ibunya gak mau.

  3. Ping balik: Tukang Ojek Perempuan yang Ikhlas Membantu Suaminya | Pegawai Negeri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s