Masjid Salman ITB Tempat yang “Radikal”

Sebagai orang yang pernah aktif di Masjid Salman ITB, saya cukup terhentak dengan tudingan Ketua Umum PBNU K.H Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa Masjid Salman ITB adalah tempat berkembangnya paham radikalisme (Baca: NU: Radikalisme Menyebar ke Kampus, Terutama Masjid Salman ITB). Meski akhirnya Pak Kyai mengaku khilaf dan meminta maaf atas tudingannya itu  (baca: Pengurus Masjid Salman: Kiai Said Aqil Mengaku Khilaf dan Mohon Maaf), namun tuduhan pak Kyai terlanjur menjadi viral di media sosial dan menimbulkan keresahan bagi para alumni ITB yang pernah merasakan kehidupan di Masjid Salman.

masjid-salman

Masjid Salman ITB (Sumber: kabarsalman.com)

Kata radikal saat ini menjadi kata yang banyak dilontarkan terkait situasi politik tanah air yang belum tenang sebagai dampak kasus Ahok. Radikal dipertentangkan dengan Pancasila. Ormas radikal, ormas anti pancasila, radikalisme, kaum radikal, dan seterusnya, itulah kata-kata yang menghiasi media di tanah air. Disematkan kata radikal saja sudah membuat tidak nyaman, apalagi jika dituding sebagai pendukung dan penyebar radikalisme. Seringkali cap radikal disandingkan dengan kata anarkisme, ekstrimisme, intoleran, dan bahkan terorisme.

Padahal kalau membuka kamus bahasa kata radikal itu tidak selalu berarti negatif.  Radikal berasal dari kata radix yang artinya akar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti radikal adalah sbb:

radikal1/ra·di·kal/ a 1 secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip): perubahan yang –; 2 Pol amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); 3 maju dalam berpikir atau bertindak;

Jika dimaksudkan radikal itu adalah kembali ke hal yang mendasar atau prinsipil, maka sudah seharusnya setiap orang demikian. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Kita sering berkata demikian, misalnya harus sesuai dengan prinsip dasar, hal yang mendasar adalah…., dsb, dsb.  Lihatlah arsitektur Masjid Salman sendiri tergolong radikal pada zamannya. Ia tidak mempunyai kubah seperti masjid lain pada umumnya.  Arsitek Masjid Salman, Pak (alm) Ahmad  Nu’man, punya alasan mengapa rancangan masjidnya demikian. Masjid memiliki kata dasar sujud, jadi masjid itu tempat bersujud. Maka, bagi sebuah masjid yang dipentingkan adalah fungsi dasarnya sebagai tempat bersujud (sholat). Bentuk bangunan sendiri tidak ditekankan seperti apa, pakai kubah atau tidak. Lihatlah Masjidil Haram, tidak ada kubah di sana. Kubah masjid baru ada pada zaman Kerajaan Ottoman Turki. Kubah tidak identik dengan Islam, kubah juga terdapat pada bangunan gereja-gereja di Eropa.

Arti kata radikal yang ketiga adalah maju dalam berpikir dan bertindak. Ya, memang, dalam hal ini Masjid Salman tergolong radikal. Pengelolaan masjid dilakukan secara profesional oleh pengurus masjid yang kebanyakan adalah dosen-dosen ITB. Berbagai teknologi sudah diterapkan Masjid Salman untuk membuat masjid ini semakin nyaman untuk beribadah, termasuk untuk pemberdayaan ekonomi dan kegiatan yang bertujuan sosial (baca juga: ATM Beras dari Masjid Salman ITB). Berbagai kajian dan diskusi yang mencerahkan pikiran diadakan silih berganti untuk menambah wawasan jamaah. Berbagai tokoh politik, tokoh agama, ilmuwan, dan tokoh masyarakat telah banyak mengisi kajian berupa seminar, telaah buku, diskusi kontemporer, semuanya untuk menghidupkan fungsi masjid lebih dari sekedar tempat sholat, tetapi masjid adalah pusat peradaban masyarakat.

Arti kata radikal yang kedua adalah amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan). Jika ini yang dimaksudkan, maka sangat jauh panggang dari api. Jamaah Salman yang umumnya kaum intelektual (mahasiswa, dosen) bukanlah bertipe demikian, apalagi jika dihubungkan dengan perilaku kekerasan.  Saya belum pernah membaca atau mendengar ada kegiatan makar atau penggulingan Pemerintahan yang sah yang dilakukan oleh jamaah Salman, apalagi melakukan tindak anarkis. Di Salman tidak ada kaderisasi politik. Jika alumninya aktif dalam politik praktis, maka itu bukan karena Salman-nya, tetapi adalah pilihan pribadinya.

Siapapun yang pernah berkunjung, sholat, maupun aktif berkegiatan di Masjid Salman ITB, pasti mengetahui bahwa Masjid Salman ITB adalah masjid yang terbuka. Siapapun boleh datang, ikut kajian, ikut mendengarkan ceramah, ikut mengaji, ikut memakmurkan masjid, ikut berbagai kegiatan yang dilakukan oleh remaja masjid, dan sebagainya. Walikota Bandung, Ridwan Kamil, adalah alumni Masjid Salman juga.

emil dan bimbel

Emil (sedang dipeluk di belakang) dan para murid Bimbel Salman berfoto dengan para pengajar di tangga Masjid Salman, tahun 1990 usai malam tafakkur menjelang UMPTN 1990. Saya berada di depannya pada baris kedua, di sebelah murid perempuan.

Karena sifatnya yang terbuka, maka siapapun bisa beraktivitas di sana. Ketika ramai kasus NII di Bandung, masjid Salman ikut kena imbas karena aktivis NII melakukan perekrutan anggota melalui masjid, tak terkecuali mungkin mereka diam-diam menggunakan Masjid Salman sebagai base. Tapi, sekali lagi itu bukan kegiatan masjid, tetapi orang-orang yang memanfaatkan masjid untuk tujuan kelompoknya.

Tulisan ini bukan pembelaan diri. Tetapi demikianlah adanya bahwa masjid Salman itu memang masjid yang radikal dalam tanda kutip.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pengalamanku, Seputar ITB. Tandai permalink.

3 Balasan ke Masjid Salman ITB Tempat yang “Radikal”

  1. Amateur Writer berkata:

    pak,apakah membuka lowongan guest bloger?sy tertarik menulis d blognya karena tertarik tema yg bapak bahas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s