“Tembok Ratapan” di Kampus ITB

Di Kampus ITB ada sebuah tembok (dinding) bangunan yang menjadi kenangan tak terlupakan bagi para mahasiswa dan alumni. Itulah tembok yang terdapat di Gedung Prodi Fisika FMIPA ITB. Gedung Fisika ini berusia sangat tua, setua Aula Barat dan Aula Timur. Ketika ITB (dulu Technische Hoogeschool) dibangun pada tahun 1920, ada empat gedung yang dibangun oleh Belanda, yaitu Aula Barat, Aula Timur, Gedung Teknik Sipil, dan Gedung Fisika ini (lihat foto pada tulisan terdahulu: Foto-Foto Kampus ITB Tempo Doeloe (1920 – 1930)). Gedung Fisika masih terawat dengan baik, lantai marmernya masih sama seperti dibangun tahun 1920-an. Sudah sulit mencari marmer seperti ini sekarang. Motif pada marmer ini sangat unik, jika anda berjalan sambil mata memandang marmer ini, maka kepala menjadi pusing melihat motif garis-garisnya seperti tidak berakhir. Lantai serasa bergoyang karena pusing.

Entah siapa yang memulai memberi nama, mahasiswa ITB mengenal dinding Gedung Prodi Fisika sebagai “tembok ratapan”, mungkin mengambil nama tembok ratapan yang ditangisi oleh orang Yahudi di Yerussalem.

tembok ratapan 1

Lorong Fisika yang sepi, ditinggal para mahasiswa yang mudik. Sebelah kanan adalah “tembok ratapan” mahasiswa TPB. Lantai marmernya yang membuat jalan bergoyang masih terjaga keasliannya sejak tahun 1920.

Kenapa disebut “tembok ratapan”, karena di sepanjang dinding gedung ini terdapat papan pengumuman nilai-nilai dan hasil ujian fisika, salah satunya mata kuliah Fisika Dasar. Fisika Dasar adalah salah satu mata kuliah wajib bagi mahasiwa Tingkat Pertama Bersama (TPB) alias mahasiwa tingkat 1. Seluruh mahasiswa TPB ITB, kecuali mahasiswa FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) dan SBM (Sekolah Bisnis dan Manajemen),  mendapat mata kuliah yang sama, yaitu Fisika Dasar 1 dan 2, Kalkulus 1 dan 2, dan Kimia Dasar 1 dan 2. Ini tiga mata kuliah dasar yang penting, tetapi di antara ketiganya kuliah Fisika Dasarlah (bobot total 8 SKS) yang diangap paling sulit. Untuk mendapat nilai A saja susah, dapat C saja sudah bersyukur. Sejak dulu sampai sekarang batas nilai A tidak pernah berubah, yaitu 75 ke atas. Nah, untuk memperoleh nilai 75 itu perjuangangannya luar biasa. Saya mengalami sendiri dulu ketika TPB, cara pendekatan materi fisikanya sangat berbeda dengan pelajaran Fisika di SMA. Semua rumus yang memiliki arah diturunkan dengan notasi vektor. Entah kenapa cara belajar fisika saya di SMA menjadi buyar ketika mengambil kuliah Fisika Dasar di ITB. Soal-soal latihan dan ujian fisika dasar terbilang sulit untuk diselesaikan (bagi saya waktu itu :-)). Tapi ahamdulilah lulus juga meskipun tidak A.

Setiap kali selesai UTS dan UAS, di papan pengumuman di dinding ini ditempel solusi ujian, dan tentu saja nilai-nilai ujian mahasiswa. Setiap kali beredar kabar bahwa nilai fsika dasar telah diumumkan, para mahasiswa TPB bergerombol di tembok ini. Mereka merubungi papan pengumuman. Bahkan malam haripun mereka datang melihat sambil menyoroti kertas pengumuman dengan senter. Ada yang senang, bersorak kegirangan, tapi lebih banyak lagi yang sedih berduka melihat nilainya. Di akhir semester, ketika nilai akhir diumumkan, saat itulah puncak emosi dan perasaan mahasiswa. Bagi yang lulus dan tidak ikut ujian reevaluasi tentu bersyukur, meskipun C sudah gembira. Tapi bagi yang mendapat nilai D atau E dan terkena ujian reevaluasi (yang jumlahnya lumayan banyak), maka kecewalah ia sambil meratapi nasibnya. Uuuuu….uuuuu… sedih sekali. Tembok itu menjadi saksi bisu kesedihan para mahasiswa TPB yang meratapi nasib malangnya, maka sejak itu dikenal sebagai “tembok ratapan”.

tembok ratapan 2

Bagi para alumni ITB, lorong di gedung Fisika ini menyimpan kenangan yang mendalam. Ketika saya memasang dua foto di atas di laman Fesbuk, foto-foto terebut beredar dengan cepat di media sosial.  Berbagai testimoni dan cerita mereka lontarkan mengenang zaman dulu ketika berada di lorong ini. Sekarang, setelah waktu berlalu sedemikian lama, semuanya menjadi indah untuk dikenang. Lorong tembok ratapan ini ini selalu dirindukan untuk didatangi kembali.

Pos ini dipublikasikan di Seputar ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke “Tembok Ratapan” di Kampus ITB

  1. Wah bapak juga mengalami ya pak sulitnya mipa dasar saat tpb 😂 betul sekali pak hehe jd nostalgia masa tpb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s