Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

Hari ini saya naik angkot dari Jalan Riau ke kampus ITB. Penumpangnya hanya saya sendiri di belakang. Sepi. Meski sepi, Pak Supir angkot tetap menjalankan angkotnya mencari penumpang yang masih setia menunggu angkot di pinggir jalan. Dari sisi ekonomi sebetulnya dia merugi karena menjalankan angkot menyusuri jalanan kota tetapi hanya membawa segelintir penumpang. Pendapatan yang masuk dari mengangkot tentu tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkannya (bensin, makan, perawatan, tips buat preman, dsb). Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mencari pekerjaan saat ini tidak mudah.

Zaman telah berubah. Pengguna transportasi sudah beralih ke sepeda motor dan transportasi daring (online). Sepeda motor lebih praktis karena dapat menembus kemacetan. Berbeda dengan angkot yang sering berhenti dan ngetem lama menunggu penumpang, memakai sepeda motor jauh lebih bebas dan sesuka hati pemiliknya mau pergi ke mana saja.

Untuk alasan kedua, transportasi daring, sekarang sudah menjadi pilihan penting bagi masyarakat. Transportasi daring seperti ojek daring dan taxi daring dari tiga perusahaan utama  (Gojek, Grab, dan Uber) telah menjadi andalan masyarakat yang enggan naik angkutan umum.  Tidak perlu capek-capek ke jalan raya mencari angkutan umum. Tinggal pesan via ponsel, taxi daring atau ojek daring datang ke rumah atau tempat kita memesan untuk menjemput. Selain efisien, ongkosnya murah lagi karena masih disubsidi oleh perusahaannya yang rajin “membakar duit” investor.

Pengemudi (driver) transportasi daring bisa siapa saja. Mahasiswa, karyawan, PNS, ibu rumah tangga, guru, satpam, dan lain-lain bisa menjadi driver asalkan memiliki kendaraan sendiri. Iming-iming bonus dari perusahaan transportasi daring telah membuat banyak orang tertarik ikut menjadi driver.

Saya sendiri adalah pengguna yang sering menggunakan transporatsi daring, khususnya taxi daring, selain ojek daring tentunya. Mobil yang saya naiki bermacam-macam merek dan tahun keluaran. Minggu lalu saya memesan taxi daring dari sebuah rumah sakit menuju rumah. Baru beberapa detik memesan via ponsel, order saya langsung ada yang menerima. Pengemudinya adalah seorang mahasiswa Unpad tingkat akhir yang baru saja selesai ujian skripsi. Mobil yang dibawanya adalah mobilnya sendiri (mungkin mobil yang dibelikan oleh orangtuanya), mobil terbaru dan jenis terbaru keluaran Honda (ups, sebut merek 🙂

Iseng-iseng saya tanya berapa bonus yang dia terima dengan me-go-car (saya pakai aplikasi Go-car). Katanya, sehari, kalau mendapat order mengangkut penumpang 17 kali, dia mendapat bonus Rp390.000 pada hari biasa (weekday), atau Rp450.000 pada akhir pekan (weekend). Itu diluar ongkos dari penumpang dan sejumlah tips. Dia tidak perlu keliling-keliling mencari penumpang seperti halnya taxi konvensional atau angkot, cukup mangkal di suatu tempat keramaian (stasiun, pangkalan travel, mal, pasar, dsb), tunggu order yang masuk ke aplikasi, maka dia sudah mendapat penumpang.  Kerjanya cukup dari jam 8 pagi hingga jam 10 malam saja, suka-suka dia saja.

Saya berhitung-hitung, jika sehari katakanlah dia mendapat pendapatan (bonus + ongkos dan tips dari penumpang) sebesar Rp500.000, maka sepuluh hari saja dia mendapat 5 juta, sebulan dia mendapat 15 juta rupiah (sebelum dikurangi bensin,  makan, dan perawatan mobil). Itu penghasilan yang sangat besar dan menggiurkan bagi anak muda seperti dia.

Bandingkan dengan nasib supir angkot di atas. Dengan penumpang yang sepi, setiap hari paling banter dia hanya mendapat 100 – 150 ribu rupiah saja. Jika dikurangi makan dan setoran, paling banter dia mendapat hanya 50 ribu rupiah saja, itu yang bisa dibawanya  pulang. Nasib yang sama juga dialami oleh supir taxi konvensional yang jumlah penumpangnya semakin menyusut. Orang lebih senang menggunakan taxi daring daripada taxi konvensional karena ongkosnya murah.

Dengan ketimpangan seperti itu, maka tidak heran sering terjadi bentrokan antara pengemudi transporatsi daring dengan pengemudi transportasi konvensional. Di Bandung perseteruan keduanya sangat sengit dan cenderung anarkis. Pengemudi taxi daring dicegat, dipukul, mobilnya dirusak. Kalau sudah menyangkut urusan perut, maka logika dan nalar tidak jalan lagi. Golongan menengah (yang direpresentasikan oleh mahasiswa tadi) telah mengambil lahan golongan lemah. Sungguh persaingan yang tidak sehat dan tidak seimbang.

Tentu kita tidak dapat menyalahkan sepenuhnya pilihan masyarakat yang beralih ke taxi daring ketimbang angkot atau taxi konvensional. Dengan kebiasaan angkot yang sering ngetem, sering berhenti, dan melalui jalur yang tidak shortetst path, maka pilihan dengan taxi daring adalah alternatif yang tidak terelakkan. Jika ditambah dengan kondisi mobil angkot yang sudah reot, tidak nyaman, panas, bersempit-sempit dengan peumpang lain, maka alasan memilih taxi daring semakin kuat. Dengan kata lain, masyarakat terbantu dengan kehadiran sarana transportasi daring.

Di sisi lain, pemerintah pun gamang dengan kondisi ini. Perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak diikuti dengan kebijakan yang adil. Terkesan pemerintah daerah cuci tangan. Transportasi konvensional dibiarkan hidup segan mati tak mau, tetapi melarang transportasi daring juga tidak ada dasar hukumnya. Pemerintah seperti membiarkan konflik horizontal di tengah masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan demo-demo pengemudi transportasi daring vs pengemudi transportasi konvensional akan terus berlangsung.

Supaya persaingan ini fair, salah satu solusinya adalah pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan semua transportasi umum. Artinya semua angkot itu dimiliki Pemda, supirmya digaji, pelayanannya diperbaiki, jalurnya dibebaskan seperti taxi daring, jadwalnya tepat waktu, dan lain-lain. Jika ini dlakukan, maka persaingan antara kedua jenis transportasi akan berlangsung sehat. Masyarakat mempunyai banyak pilihan. Tapi, ini mungkin cuma mimpi.

Pos ini dipublikasikan di Romantika kehidupan, Seputar Bandung. Tandai permalink.

2 Balasan ke Angkot dan Taxi Daring, Dua Sisi Kehidupan Berbeda

  1. bms berkata:

    Pak, mention Pak RK. Semoga beliau tanggapi

  2. Verdidi berkata:

    Solusi yang diusulkan Pak Rinaldi sangat masuk akal dan realistis, semoga ada pihak yang menindaklanjuti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s