Saya Indonesia, Saya Pancasila, tapi…

Beberapa bulan terakhir ini saya seringkali membaca slogan dari orang-orang di media sosial dengan tulisan seperti pada judul di atas. Saya Indonesia, atau Saya Pancasila. Ada juga yang ditambah dengan kata-kata, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. Di satu sisi slogan ini tujuannya baik, sebab ingin menegaskan bahwa dirinya adalah orang Indonesia tulen yang mencintai bangsa dan negaranya serta meneguhkan Pancasila sebagai falsafah negaranya.

Namun, di sisi lain slogan tersebut seringkali ditujukan untuk menyindir (atau malah menyerang) orang atau kelompok orang yang berbeda pandangan dengan dirinya. Dengan menyatakan dirinya Saya Indonesia, Saya Pancasila, maka  orang atau kelompok lain yang berbeda pandangannya dengannya dianggap tidak Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, dan sebagainya. Dengan gampangnya mereka merasa berhak untuk mencap orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya atau kelompoknya.

Klaim-klaim semacam ini  terjadi pasca Pilpres 2014, lalu diikuti Pilkada DKI 2017. Seperti kita ketahui Pilpres 2014 telah membuat bangsa ini terbelah. Pasca Pilpres polarisasi ini bukannya semakin lebur, tetapi semakin tajam, apalagi ditambah dengan Pilkada DKI 2017 yang merupakan Pilkada terpanas sepanjang sejarah. Sejak dua pemilu tersebut maka muncullah berbagai demo besar berjilid-jilid. Berita hoax, berita adu domba, ujaran kebencian, fitnah, dan sebagainya merajalela, yang membuat bangsa Indonesia ini berada di jurang perpecahan. Sejak itulah kata-kata seperti intoleran, radikal, anti kebhinnekaan, anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya berseliweran di dunia maya maupun di dunia nyata. Maka, untuk membedakan diri atau kelompoknya dengan orang atau kelompok lain yang berbeda pandangan, maka dimunculkanlah slogan-slogan seperti di atas.

Kondisi ini tentu saja sangat menyedihkan dan berbahaya. Menyedihkan  karena menimbulkan permusuhan sesama anak bangsa. Berbahaya karena setiap orang atau kelompok memiliki tafsir sepihak untuk menilai orang lain atau kelompok lain anti Pancasila, anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, intoleran, radikal, dan sebagainya. Kita semua sepakat Pancasila sudah final menjadi dasar negara, tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi. Tetapi, jika merasa berhak untuk menilai orang lain tidak lebih Pancasila dibandingkan dirinya itu saya kira sangat fatal.

Baru-baru ini seorang ustad mengalami persekusi ketika akan berceramah di Bali. Dia ditolak dan diancam untuk diusir  oleh beberapa ormas di sana karena dianggap radikal, anti NKRI, intoleran, anti Pancasila. Sang ustad dipaksa untuk berikrar, mencium bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sebagainya. Padahal ormas-ormas itu tidak punya legalitas untuk memaksa orang lain berikrar, apalagi menuduh seseorang anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa ulama yang ditolak ditolak berceramah oleh sebuah ormas keagamaan di Jawa Timur dan Jawa Barat hanya karena ulama-ulama itu dianggap anti bhinneka tunggal ika, anti NKRI, dan sebagainya.

Ormas-ormas yang mengaku paling Pancasila dan paling NKRI itu sebenarnya secara tidak sadar telah menunjukkan sikap intoleran dan anti Pancasila. Menolak orang lain mengunjungi suatu daerah di tanah air adalah melanggar undang-undang, karena setiap warga negara Indonesia berhak pergi ke mana saja di seluruh wilayah tanah air. Melarang orang lain melakukan dakwah atau beribadah, apapun agamanya, melanggar sila pertama Pancasila dan Pasal 29 UUD 1945. Melakukan persekusi (penghakiman secara sepihak) kepada orang lain adalah perbuatan melanggar undang-undang.

Biasanya persekusi dimulai dari provokasi seseorang di akun media sosialnya ( FB, Twitter, Instagram, dll) lalu postingan tersebut menyebar secara masif dan cepat di media sosial. Sentimen keagamaan atau kedaerahan membuat orang awam yang tidak paham masalah jadi ikut-ikutan ikut terpancing dan tersulut emosi. Dengan cepat massa berkumpul di suatu tempat, dan tanpa tahu siapa yang memberi komando mereka bergerak melakukan aksi persekusi terhadap orang yang disasar. Sang provokator tidak ikut di lapangan, tetapi dia puas tujuannya telah tercapai dengan menggerakkan massa untuk melakukan persekusi.  Senjata tajam pun ikut berkeliaran tetapi aparat penegak hukum seperti tidak berdaya untuk bertindak karena kalah jumlah dengan massa.

Yang saya khawatirkan dan takutkan adalah aksi persekusi itu dapat menimbulkan reaksi balasan di tempat lain. Aksi balas dendam. Itu sudah terjadi pada beberapa kasus di tanah air. Menurutku, Pasca Pilpres 2014 dan Pasca Pilkada DKI bangsa Indonesia saat ini adalah bangsa yang sakit. Gagal move on dan selalu memendam bara api kebencian kepada orang yang sudah mengalahkannya. Menyedihkan!

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Saya Indonesia, Saya Pancasila, tapi…

  1. Tufiddin berkata:

    Saya setuju dengan Pak Rinaldi. Alhamdulillah sy bergabung dengan organisasi yang aktif mengadakan pengajian untuk mahasiswa dan pelajar. Sejak 2014, situasi jadi kurang kondusif. Tema kajian dan ustadznya pun harus benar-benar dipikirkan agar tidak dianggap anti NKRI.

  2. Lintang_fajar berkata:

    Makin banyak orang yang “menyombongkan” simbol ya pak ? Seolah – olah dengan berkata itu pasti dirinya begitu.

  3. Rivandra berkata:

    Sama saja Pak, group yg ini tagline-nya anti kebhinekaan, anti NKRI, intoleran, group yg onoh beda lagi taglinenya, penista agama (ampe Bu Risma aja kena), sesat, memusuhi Islam, antek aseng, kok yg disinggung yg versi satu group saja (tanya kenapa ??)

  4. yusufajiwibowo berkata:

    Persis dengan pikiran saya selama ini pak.

    Ormas-ormas yang mengaku paling Pancasila dan paling NKRI itu sebenarnya secara tidak sadar telah menunjukkan sikap intoleran dan anti Pancasila.

  5. AGRA berkata:

    Apa bedanya dengan kelompok yang selalu bilang liberal, kafir, syiah, komunis, cebong, munafik terhadap yang berbeda dengan mereka ?

    Jangan cuma lihat satu sisi, di sisi lainnya lebih PARAAAH dari yang bapak bahas.

    • rinaldimunir berkata:

      Sama saja. Selama suatu kelompok melakukan kekerasan verbal maupun kekerasan fisik, maka semuanya bertentangan dengan sila-sila Pancasila, apalagi ajaran agama. Saya tdk membahas hal itu karena topik saya adalah tentang orang dan kelompok yang sering berkoar-koar “Saya Pancasila dan Saya Indonesia” namun bertolak belakang dengan tindakannya yang melakukan hujatan dan persekusi kepada pihak lain.

  6. Rs berkata:

    Tulisan Pak Rin tendesius sekali. Padahal apa bedanya dengan kelompol sebelah yang selalu merasa paling islami dan selalu mengkafirkan sesama muslim yang berseberangan. Apakah anda tidak tahu kelompol mereka bahkan selalu mencaci maki ulama2 seperti gusdur, quraish shihab, buya syafii, gusmus karena berseberangan dengan mereka.

    Penolakan UAS wajar walaupun tidak dibenarkan, apa salahnya kita membela negara dari rongrongan HTI yang berusaha mengganti Pancasila. Bahkan di negara timur tengah seperti arab keberadaan HT itu dilarang.

  7. arief berkata:

    ya benar pak..seperti komentar di atas saya ini…bahwasanya ustad abdul somad ini adalah salah satu pengurus HTI (bisa di search), dimana tidak menyetujui pancasila dan mengatakan sistem demokrasi adalah sistem yg bobrok dan harus diganti dengan khilafah (ini adalah pemikiran ulama luar, buka ulama indonesia). lebih dari itu, ustad abdul somad ini juga mengomentari dengan tidak baik ke salah satu artis yg lepas jilbab kemaren ini…ustad abdul somad bilang kalau dia tidak kenal artis tersebut karena wajahnya jelek. sy kaget juga ada juru dakwah yang menghina fisik seseorang. dakwah itu tidak begitu. ini sekedar opini sy pribadi. mohon maaf kalau tidak berkenan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s