Berkunjung ke Ho Chi Minh City, Vietnam

Setelah menghadiri konferensi internasional ICEEI 2017 di Langkawi, Malaysia, beberapa hari kemudian saya harus berangkat lagi ke Ho Chi Minh City, Vietnam, guna mengikuti konferensi RCCIE 2017. Konferensi ini  diselenggarakan di Ho Chi Minh City University of Technology (HCMUT).

Ini pengalaman pertama kali bagi saya berkunjung ke negara Vietnam. Jika disebut Vietnam maka yang terbayang bagi kita adalah Perang Vietnam, film Rambo, manusia perahu (yang mengungsi dan ditampung di Pulau Galang, dekat Batam), dan sebagainya. Tapi itu dulu, sekarang Vietnam tumbuh sebagai negara yang paling pesat pertumbuhan ekonominya. Vietnam  mampu mengejar ketertinggalannya setelah porak poranda akibat perang saudara dan intervensi Amerika.

Ibukota negara Vietnam adalah Hanoi, tetapi kota terbesar di negara itu adalah Ho Chi Minh City.  Dulu Vietnam terpecah menjadi dua negara, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan. Vietnam Utara yang berhaluan komunis beribukota di Hanoi, sedangkan Vietnam Selatan ibukotannya Saigon (sekarang berganti nama menjadi Ho Chi Minh City). Ho Chi Minh adalah nama pemimpin Vietnam dulu yang menjadi father of Vietnam.

Dari Bandung tidak ada penerbangan langsung ke Ho Chi Minh City. Jadi, saya naik pesawat Malindo Air dulu dari Bandung, kemudian transit di Kuala Lumpur (KLIA) selama empat jam. Dari Kuala Lumpur banyak pilihan maskapai ke Ho Chi Minh City, bisa menggunakan Vietnam Airlines, Malaysia Airlines, Malindo Air, dan sebagainya. Saya  naik Malaysia Airlines karena untuk mengikuti konferensi ini saya mendapat sponsorship dari AUN-SEED/Net, dan pesawat yang dipilihkan adalah Malaysia Airlines.

Bandara Ho Chi Minh City

Jadwa konferensi yang padat dari pagi sampai sore tidak memungkinkan saya untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat yang menarik di kota Ho Chi Minh City.  Meski bukan ibukota Vietnam, Ho Chi Minh City adalah kota metropolitan yang besar dan padat penduduk. Gedung-gedung pencakar langit bertebaran di mana-mana. Menurut guide orang Vietnam, penduduk kota Ho Chi Minh sekitar 10 juta jiwa. Hmmm…sepadat kota Jakarta ya.

Sesudut kota Ho Chi Minh City dari lantai sembilan Hotel Athena, tempat saya menginap.

Berada tiga hari di kota ini saya menyimpulkan kota Ho Chi Minh adalah kota dengan lalu lintas yang sangat semrawut. Jalan-jalan dikuasai oleh ribuan sepeda motor. Mobil dan kendaraan roda empat tidak terlalu banyak jumlahnya dibandingkan sepeda motor. Para biker (pengemudi sepeda  motor) tidak mempedulikan kedisiplinan berkendara. Mereka dengan seenaknya menyalip kendaraan lain tanpa bersalah, menyerobot,  mengemudikan motor dengan kencang, dan mengambil jalur yang berlawanan dengan cueknya. Tidak ada polisi yang terlihat mengatur lalu lintas. Sangat ngeri menyeberang jalan di kota Ho Chi Minh City, kalau tidak hati-hati bisa-bisa kita dilindas sepeda motor yang melaju kencang.

Yang mengherankan saya, meskipun para pemotor itu suka menyerobot dan menyalip kendaran roda empat dengan tiba-tiba, tidak ada yang marah-marah. Supir bis kami terlihat tenang saja ketika sebuah motor menyalip dari arah belakang atau arah depan  dengan tiba-tiba sehingga hampir saja tertabrak. Tidak keluar umpatan dari mulutnya karena disalip motor dengan tiba-tiba. Kalau kejadian tersebut di negara kita pasti sudah terdengar umpatan dan sumpah serapah dari mulut supir kendaraan roda empat  yang disalip tiba-tiba. Sepertinya kejadian salip menyalip dan serobot menyerobot itu sudah biasa di Ho Chi Minh City. Saya yang menyaksikan motor-motor salip-menyalip secara tiba-tiba tidak dapat menahan sport jantung. Supir mobil di Ho Chi Minh City sudah lihai tampaknya.

Universitas Teknologi Ho Chi Minh City (HCMUT) adalah universitas papan atas di Vietnam. HCMUT sudah berusia 64 tahun. Kampusnya resik dan banyak pepohonanan sehingga terasa adem berada di sini di tengah cuaca kota Ho Chi Minh yang panas.

Gerbang kampus HCMUT

Pepohonan yang rindang di dalam kampus

Narsis di HCMUT

Latar belakang adalah gambar pemimpin Vietnam masa lalu, Ho Chi Minh

Bangku-bangku sepanjang jalan untuk duduk-duduk atau belajar

Seperti halnya kampus-kampus di Indonesia, di luar kampus banyak bertebaran tempat usaha foto copy dan pedagang kaki lima yang berjualan makanan. Rasanya saya sedang tidak berada di Vietnam, tetapi serasa berada di Indonesia saja.

Tempat usaha foto copy di luar kampus HCMUT

Pedagang kaki lima di sekitar kampus

Serasa bukan di Vietnam

OK, hanya segitu pengalaman saya di kota Ho Chi Minh City.  Seperti yang saya bilang tadi, saya tidak sempat mengunjungi tempat-tempat menarik di kota ini. Hanya pada malam hari saja kami menuju pusat kota untuk makan malam. Oh iya, bagi muslim harap berhati-hati makan di Vietnam karena sebagian besar makanan di sini tidak halal, banyak mengandung daging babi. Baik di hotel atau di restoran saya hanya berani makan ikan dan telur saja. Makan nasi goreng di hotel juga harus berani bertanya ke pelayan campurannya apa saja. Jika campurannya sayuran dan telur saya berani makan, tetapi jika ditambah dengan daging maka saya pun mundur, he..he.

Mata uang Vietnam adalah Dong. Satu Dong Vietnam nilainya setara dengan 0,6 rupiah. Jadi jangan kaget jika daftar harga di Vietnam mempunyai banyak angka nol. Nilai uang di Vietnam sangat rendah, lebih rendah dari mata uang rupiah kita. Sebagai contoh misalnya, harga sebotol Coca-cola di hotel 26.000 dong. Ketika menginap di hotel, petugas hotel meminta uang deposit sebesar 2.000.000 dong atau setara 100 dolar. Jadi, tidak hanya negara kita saja yang memiliki uang dngan nilai rendah dan banyak angka nol, Vietnam lebih parah lagi, he..he.

Vietnam adalah negara komunis. Delapan puluh persen penduduknya tidak memiliki agama atau memiliki kepercayaan lokal yang dipengaruhi oleh konfusianisme dan taoisme dari Cina (Sumber dari sini). Hanya 20% saja yang mengidentifikasikan dirinya dengan agama. Dari 20% itu agama yang terbesar adalah Budha, lalu Kristen dan Katolik, Hindu, dan Islam. Penganut Islam hanya sekitar 100 ribu yang kebanyakan dari etnis Cham di barat daya Vietnam (Sumber dari sini). Terdapat beberapa masjid di Ho Chi Minh City tetapi saya belum berhsil menemukannya. Menurut teman saya peserta konferensi dari Malaysia, di Ho Chi Minh City terdapat sebuah kampung yang bernama kampung Melayu. Di kampung ini ada masjid dan rumah makan yang menjual makanan halal. Sayang sekali saya tidak sempat ke sana karena pulang sudah malam.

Kembali ke Jakarta saya menggunakan Vietnam Airlines dari bandara Ho Chi Minh City. Maskapai ini tergabung dengan Skyteam sehingga kartu miles Garuda kita bisa dipakai di sini. Bandara Ho Chi Minh City sangat padat hari itu. Cukup lama kami antri di imigrasi. Setelah dari imigrasi kita harus antri lagi menuju ruang tunggu. Pemeriksaan di X-ray terakahir agat ketat. Kita sampai perlu membuka sepatu dan sandal lalu ditaruh di atas baki. Baru kali ini saya diminta melepas sepatu, padahal biasanya cukup ikat pinggang, dompet, jam tangan dan HP.

Antri check-in di konter Vietnam Airlines

Bandara Ho Chi Minh City sangat megah, mirip dengan Terminal 3 Soekarno-Hatta. Saya menghabiskan persediaan uang Dong dengan berbelanja di toko-toko di ruang tunggu penumpang. Saya hanya membeli mainan tempel magnetik kulkas dan durian kering. Harganya semua dalam dolar.

Ruang tunggu penumpang

Vietnam Airlines

Yang menarik di bandara ini adalah tersedia kamar-kamar tidur (sleep zone) bagi calon penumpang yang ingin beristirahat. Saya tidak tahu apakah kamar tidur ini gratis atau bayar.

Kamar-kamar tidur di bandara

Kapan-kapan saya ingin ke Vietnam lagi, tetapi bukan ke Ho Chi Minh City, melainkan ke Hanoi. Di dekat Hanoi ini ada tempat wisata yang terkenal yaiu Halong Bay. OK, suatu saat nanti jika ada kesempatan.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Berkunjung ke Ho Chi Minh City, Vietnam

  1. arief berkata:

    Salam Pak…tahun 2014 sy berkesempatan ke hanoi…di sana hawa nya sejuk dan dingin…hanoi adalah kota yg ramah terhadap turis dan kesan sy kota nya aman…penginapan hotel dan hostel ada banyak…harganya pun murah….kamar dan servis nya bagus…hal ini tidak bisa didapatkan di indonesia…vietnam nampaknya serius mengelola pariwisata nya, sehingga dapat menarik minat wisatawan mancanegara…tidak heran vietnam mendapat banyak devisa untuk pertumbuhan ekonomi nya…dan dari keuntungan ekonomi nya tersebut vietnam ambisius membangun kekuatan militer nya untuk menggertak china…karena posisi negara vietnam yang langsung berhadapan dengan laut tiongkok selatan…kembali ke hostel, kok indonesia gak bisa ya mengikuti jejak vietnam? sy pernah menginap di penginapan biasa di dekat candi borobudur seharga 300rb per malam hanya mendapat kamar double bed (tempat tidur biasa) hanya pake ac dan kamar mandi nya biasa….sedangkan waktu di hanoi, dengan 300rb per malam bisa mendapat kamar luas 2 tempat tidur besar, lantai kayu, kamar mandi bathtub air panas, tv layar besar, kulkas, lemari pakaian, kursi meja tamu, dan sarapan gratis sekenyangnya (nasi goreng mi goreng telur ceplok roti isi selai/ham, juice jeruk)….ini sekelas hostel yg di tripadvisor cuman mendapat nilai 5 (apalagi hostel yg mendapat nilai 8 ke atas)….tidak heran vietnam bisa melaju pesat…insya Allah di Hanoi nanti pak Rin akan puas…jangan lupa untuk ngopi2 Pak di hanoi

  2. otidh berkata:

    Saya jadi penasaran, kalau saya perhatikan, di Ho Chi Minh ini jarang sekali terlihat mobil pribadi. Yang tampak sepeda motor ramai di mana-mana. Apa karena kebijakan dari Vietnam sebagai negara komunis ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.