Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang

Dulu orangtua sering khawatir dengan anak perempuannya, khawatir dengan pergaulan bebas yang dapat merusak masa depannya. Anak perempuan dijaga betul bergaul dengan laki-laki, khawatir kenapa-kenapa, misalnya mengalami pelecehan seksual, perkosaan, hamil diluar nikah, dsb. Berbagai aturan pun dibuat orangtua untuk menjaga keselamatan anak gadis mereka, misalnya tidak boleh pulang malam, tidak boleh berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahram, dan sederet wanti-wanti agar anak perempuan mereka tidak mudah tergoda bujuk rayu lelaki. Pokoknya cerewetlah kepada anak perempuan dibandingkan kepada anak laki-laki.  Sementara anak laki-laki diberi kebebasan di luar rumah.

Tetapi pada zaman sekarang mempunyai anak laki-laki juga sama khawatirnya dengan anak perempuan. Banyak kejahatan seksual mengintai anak laki-laki, baik yang masih anak-anak maupun yang sudah remaja. Kaum yang mengalami penyimpangan seksual mencari mangsa tidak hanya anak perempuan di bawah umur, tetapi juga anak laki-laki. Pedofilia namanya, pelakunya disebut pedofili. Orang dewasa  mencari anak laki-laki untuk memuaskan hasratnya. Kejahatan pedofilia sudah sering kita baca beritanya di media massa. Anak-anak yang menjadi korban pedofilia akan mengalami trauma berat, dan bila dewasa mereka kemungkinan akan menjadi pedofili juga atau penyuka sesama jenis.

Baru-baru ini di Bandung kita digegerkan dengan peristiwa pembuatan video porno yang melibatkan anak-anak. Beberapa anak laki-laki yang berusia 9 sampai 11 tahun disuruh melakukan adegan mesum dengan perempuan dewasa, adegan itu direkam menjadi sebuah video, lalu video tersebut dijual kepada pemesannya (kaum pedofili) dari luar ngeri. Sungguh mengerikan dan menjijikkan, dan yang lebih bejad lagi ibu dari anak itu sendiri yang mengatur adegan tersebut di kamar hotel dan memerintahkan anaknya untuk patuh mengikuti arahan sutradara video.

Jika pada anak laki-laki kejahatan yang mengincar adalah pedofilia, maka pada remaja  atau anak muda laki-laki ancaman yang sangat mengkhawatrikan akhir-akhir ini adalah perilaku LGBT, khususnya perilaku homoseksual (gay dan lesbianisme). Menurut yang saya baca di media, kaum LGBT saat ini berkembang sedemikian pesat, jumlahnya semakin hari semakin bertambah saja. LGBT merupakan perilaku yang dapat menular. LGBT menyasar remaja dan mahasiswa yang masih labil pola pikirnya. Sudah banyak kasus anak-anak muda yang normal berubah menjadi homoseksual karena diajak masuk atau terjebak ke dalam  pergaulan kaum LGBT. Media sosial sangat berperan menyuburkan pertumbuhan LGBT. Coba saja ketikkan kata “gay bandung ” , “gay depok”, “gay bekasi” atau nama lokasi lainnya pada akun Facebook anda, maka akan muncul banyak  sekali grup kaum homoseksual dengan jumlah anggota fantastis, ribuan jumlahnya. Bulan lalu polisi menggerebek pesta seks kaum gay di sebuah villa di Cianjur, dan yang mengagetkan salah satu pesertanya adalah remaja yang masih SMA.

Anak saya yang ingin ikut fitness di sebuah tempat gym saya larang, karena saya sering mendengar pusat kebugaran disinyalir tempat berkumpulnya LGBT. Tentu tidak semua pusat kebugaran tubuh demikian, tetapi sudah bukan rahasia lagi di tempat mengolah kebugaran tubuh itu sering dijadikan ajang perkenalan kaum gay. Gay menyukai pria yang berotot dengan badan six-pack. Pria-pria yang bertubuh six-pack terlihat macho, tetapi sebagian diantaranya ternyata penyuka sesama jenis. Mereka mungkin semula masih normal tetapi akhirnya terjerat menjadi gay karena salah pergaulan.

Semua agama menolak perilaku LGBT. LGBT bertentangan dengan ajaran agama. Menurut saya Indonesia saat ini sudah darurat LGBT karena pertumbuhannya sudah mengkhawatirkan. Tapi tampaknya para pemimpin kita masih belum aware dengan keresahan ini. Perbuatan LGBT belum dianggap perbuatan pidana. Jika kepedulian tentang LGBT ini tidak ditindaklanjuti oleh para pemimpin kita, maka jangan kaget jika nanti  makin banyak anak-anak kita nanti memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Marilah kita jaga anak-anak kita dari pergaulan yang dapat menjerumuskan mereka kepada perbuatan yang dilarang agama. Lingkungan pergaulan anak laki-laki maupun perempuan saat ini semakin berat saja tantangannya. Semoga Allah SWT menyelamatkan bangsa kita dari perbuatan yang dilarang agama.

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku, Pendidikan. Tandai permalink.

9 Balasan ke Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang

  1. anisfa berkata:

    Bnr sekali. Saya kbetulan salah satu member ditempat fitness. Dua kali ganti tempat dan kbykan memang lelaki tampan n berotot sukanya lelaki juga😀😀

    • Rachmat berkata:

      Jadi niatnya mau fitness atau mau cari jodoh nih. hehehe.

      Saya dulu pernah fitness, karena kerja sangat sibuk, jadi butuh olah raga yang cuma setengah jam. Saya lihat memang banyak yang gay, awal risih dan agak jijik, cuma biasanya di tempat fitness itu individual, kaga akan ada yang perduli dengan orang sekitar. Jadi ya cuek aja.

      Yang saya lihat dan bikin merinding itu banyak cowok2 badan bagus yang suka foto telanjang dada, apalagi hanya pakai celana pendek, itu kemungkinan gay, karena cewek kebanyakan tidak suka dengan yang badannya seperti itu. hehehe. Istri saya ngga perduli perut saya buncit, dan malah takut lihat cowok berotot.

      Btw, belakangan ini terkenal banget banyak yang membicarakan LGBT, apakah memang semakin banyak? apakah mereka bergerak tersembunyi? karena yang saya lihat malah saat ini LGBT itu jadi sedikit, saat dulu tahun 90an, di setiap mall pasti banyak gerombolan banci, dan disekolah saya juga banyak banci, namun saat ini sangat jarang saya melihat di mall ada banci2, dan dulu di kampus juga dari ribuan mahasiswa, tidak ada satu pun banci.

      Yang pasti LGBT tidak mungkin di legalkan, karena agama apapun tidak ada yang menyetujui, apalagi di negara Pancasila, lawan LGBT adalah 5 agama.
      Kalau dilihat, di negara yang melegalkan LGBT, mereka itu negara yang tidak berlandaskan keTuhanan, namun negara yang berlandaskan kebebasan, maka banyak orang yang atheis, inilah yang di mata saya membuka jalan untuk kaum LGBT. Untuk negara keTuhanan tidak mungkin jadi legal.

      • anisfa berkata:

        Hahaha…niatku emang olahraga buat ilangin stress juga om.

        Mnrtku malah skrg lgbt makin terbuka. Cuma mreka lbh individual dan ga bergerombol kayak dulu taun 90an.
        Ditaun itu seperti ada komunitasnya gitu. Kalo sekarang udah ga kyk gitu.
        Saya liatnya klo cwe sm cwe tuh biasa klo cwo sm cwo koq jijik yaa😀😀.

  2. Rahmad berkata:

    Reblogged this on Kokobure.

  3. Fery Ferlangga berkata:

    menurut saya indonesia, dunia semakin maju semakin merunduk saja 🙂

  4. rahmabalcı berkata:

    trus kabar tentang aliran dana ke dewan itu benar ga ya, buat uU ttg lgbt:0

  5. Michael berkata:

    Ini adalah mimpi buruk saya. Di Indonesia (Jakarta tepatnya) menurut saya malah lebih PARAH daripada negara super liberal Perancis, dimana saya tinggal dulu.

    Di Indonesia kaum LGBTnya sangat demonstratif dan terang-terangan terutama di tempat-tempat fitnes dan beberapa tempat nongkrong. Di Perancis dulu, saya merasa aman fitnes dan berenang dimanapun, karena disana kebanyakan fitnes ya isinya cowok-cowok normal. Dan disana mungkin karena banyak orang Arab Maghrebi, gay tidak berani terlalu demonstratif, kecuali mau digebuki oleh orang Arab dan Afrika yang bertubuh besar-besar.
    Ini juga saya tidak setuju.

    Gay bukan untuk digebuki… Tapi ditendangi…

    Eh jangan juga…. Mereka manusia makhluk Allah SWT… Sudah sepantasnya kita juga mengasihani mereka.

    Tapi di Indonesia, audzubillah, Gay-nya keterlaluan.

    Mau Gay silakan, tapi dipendam sendiri saja, tidak usah terlalu vulgar, apalagi sampai menarik-narik orang yang normal.

    Saya pun menghormati kaum LGBT, tapi kaum LGBT yang sampai berani menarik-narik manusia normal ke komunitas mereka, mengadakan aktivitas komunitas secara terang-terangan menurut saya keterlaluan dan tidak menghormati negara Indonesa yang berlandaskan ketuhanan dan pancasila.

  6. anak tetangga berkata:

    Ngeri banget memang sekarang…
    Menurut mereka bahwa LGBT itu tidak menular..
    Tapi kenapa korban robot gedek juga menjadi atau mengikuti kebiasaan pelaku..
    Klo tidak LGBT ada narkoba.. mau jadi apa negara kita..

    Baru kali ini saya bersukur saya terlahir tidak tampan 😂

  7. Ping balik: Lingkungan Berat Anak Zaman Sekarang – Kokobure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.