Kapan Hukuman Pembunuhan adalah Dibunuh?

Judul tulisan saya di atas mungkin menyeramkan. Menyebut kata “dibunuh” saja sudah membuat mulut bergetar, apalagi bila tangan melakukannya. Tapi, jika membaca berita di bawah ini, masihkah kita bertoleransi kepada pembunuh?

“Jangan bunuh saya. Kalau mau ambil uang, mobil dan harta ambillah. Tetapi tolong jangan bunuh saya. Saya masih ada anak dan istri,” kata Tyas menirukan perkataan terakhir korban saat dalam kondisi dijerat.

Try Widyantoro adalah seorang supir Go-Car di Palembang. Dia mendapat order dari empat pemuda, salah seorang diantaranya adalah mahasiswa bernama Tyas.  Keempatnya sudah merencanakan untuk menggasak mobil korban. Ketika sedang membawa keempat pemuda tadi, lehernya dijerat dengan tali dari belakang. Dia masih sempat melawan, tapi jeratan tali sangatlah erat. Saat sudah tidak berdaya lagi, dia memohon belas kasihan kepada keempat penjahat tadi agar jangan membunuhnya. Silakan ambil mobil dan uangnya, tapi jangan bunuh dirinya, sebab dia masih punya anak dan istri, katanya,  seperti penggalan kalimat yang saya tulis di atas. Tetapi ucapan memohon belas kasihan dari dirinya tidak mampu meluluhkan hati kempat penjahat tadi. Nyawanya lepas dari badannya, lalu tubuhnya dibuang ke rawa. Jenazahnya yang sudah membusuk baru ditemukan 40 hari kemudian. Perilaku mereka tidak sampai disitu, mobil hasil rampokan dipakai untuk bersenang-senang dan pacaran. Sungguh keji dan tidak beradab. Baca beritanya di sini:  Saat Sopir Go-Car Dihabisi Tyas Dkk: Jangan Bunuh Saya.

Astaghfirullah. Sungguh sadis pembunuhan tersebut. Insya Allah korban mati dalam keaadaan syahid karena ia mati ketika sedang mencari nafkah buat anak istrinya. Pembunuhnya sudah membuat seorang anak menjadi yatim dan istri menjadi janda.

Apa hukuman yang pantas bagi keempat pembunuh tadi? Jawabnya adalah hukuman mati. Mereka harus mendapat balasan yang setimpal. Nyawa harus dibalas dengan nyawa pula. Kalau sudah begitu, saya rindu dengan hukum Islam, sebab di dalam hukum Islam pembunuh harus mendapat hukuman yang sama, yaitu harus dimatikan juga.

Sayangnya hukum di negara kita bukan hukum Islam, meskipun mayoritas rakyatnya beragama Islam. Negara kita memakai hukum positif peninggalan Belanda. Di dalam hukum positif yang berlaku sekarang, hukuman bagi pelaku pembunuhan paling tinggi adalah hukuman mati, tetapi itu paling tinggi. Kenyataannya tidaklah demikian, hukuman bagi pelaku pembunuhan biasanya beberapa tahun sampai belasan tahun. Hanya kasus pembunuhan yang sangat berat saja yang mendapat hukuman mati, itupun tidak langsung dilaksanakan, tetapi ditunda beberapa tahun hingga puluhan. Pelaku pembunuhan mendekam dulu di dalam penjara. Eksekusi sering ditunda karena berbagai alasan, lalu yang terjadilah adalah sikap mendua dan akhirnya menjadi pro kontra di tengah masyarakat.

Sebagian orang, termasuk pegiat HAM, beranggapan hukuman mati melanggar HAM. Janganlah menambah korban baru lagi dengan melakukan hukuman mati, katanya. Mereka tidak memikirkan HAM orang yang mati dan keluarganya. Bagaimana jika pembunuhan itu terjadi pada dirinya atau keluarganya? Apakah mereka akan memikirkan HAM juga?

Pada kasus-kasus pembunuhan yang berlangsung di pengadilan, sering kita baca atau lihat di TV  keluarga korban tidak kuasa menahan amarahnya melihat pelaku pembunuhan dihadirkan di ruang pengadilan. Mereka merangsek maju untuk melakukan pembalasan yang setimpal  kepada pelaku. Kalau perlu pelaku pembunuhan itu dibunuh saat itu juga. Jika pelampiasan amarah itu tidak berhasil dilakukan, keluarga korban berteriak-teriak kepada hakim untuk menjatuhkan hukuman mati kepada pelaku.

Yang paling merasakan duka kehilangan akibat pembunuhan adalah keluarga korban. Kita yang bukan bagian dari keluarga itu mungkin bersikap biasa saja karena kita tidak merasakan kepedihan mereka. Nyawa keluarga mereka yang menjadi korban tidak bisa diganti lagi. Rasa kasihan kepada pelaku, kasihan jika dihukum mati, tidak mampu menggantikan nyawa korban.

Hukum Islam tentang pembunuhan sungguh adil. Pelaku pembunuhan tidak langsung dijatuhi hukuman mati. Mereka menjalani sidang pengadilan terlebih dahulu. Jika dari proses pengadilan memang terbukti pelaku melakukan pembunuhan, maka hukumannya adalah hukuman mati (entah dengan cara ditembak, dipancung, atau dihukum gantung). Tujuannya adalah untuk membuat efek jera. Namun, ada kemungkinan pelaku bisa lolos dari jerat hukuman mati. Jika keluarga korban memaafkan pelaku, maka pupuslah hukuman mati. Pelaku pembunuhan cukup membayar diyat (atau uang denda) kepada keluarga korban yang besarnya ditentukan oleh keluarga korban.

Kembali ke kasus pembunuhan supir Go-Car di atas, dapatkah anda mengerti kenapa hukuman bagi pelaku pembunuh Try seharusnya juga dihukum mati dengan mengesampingkan perasaan belas kasihan?

Semoga hukum Islam tentang pembunuhan diadopsi menjadi hukum positif di negara kita supaya memenuhi rasa keadilan.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kapan Hukuman Pembunuhan adalah Dibunuh?

  1. Ryu berkata:

    Setuju sekali Pak, saya juga terkadang merindukan hukum islam. Apalagi ditengah keadaan yang seperti sekarang ini, dimana rasa amanah dan jujur susah didapatkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.