TKI vs TKA

Hari ini hari buruh. Persoalan tenaga kerja adalah persoalan yang tidak pernah selesai di negara kita. Hari buruh tahun ini diwarnai isu banjir Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia. TKA, terutama dari Tiongkok, hampir setiap hari berdatangan ke daerah-daerah tertentu di tanah air. Ombudsman melaporkan salah satu temuannya bahwa penerbangan Jakarta – Kendari 70%-80% penumpangnya adalah TKA.  Banyak dari TKA itu yang bekerja sebagai buruh kasar hingga supir. Gaji mereka pun tiga kali lipat dari gaji tenaga kerja lokal.

Apakah kita perlu merasa khawatir dengan banjirnya TKA ke Indonesia? Jawabannya bergantung pada jenis TKA itu. Selama TKA yang kerja di Indonesia adalah TKA terdidik atau mempunyai kualifikasi pendidikan formal, maka tidak ada masalah, hal itu sebagai efek globalisasi. Sama seperti para alumni perguruan tinggi Indonesia yang bekerja di luar negeri, why not, boleh-boleh saja.

Nah, kalau TKA yang bekerja adalah pekerja di sektor informal (buruh kasar, tukang, supir dll) barulah hal itu menjadi masalah karena di sini stok tenaga kerja seperti itu melimpah, banyak yang mengganggur, dan sulit mencari pekerjaan.

Pemerintah, dan sebagian orang yang asal bunyi, selalu mebandingkan masalah TKA dengan jutaan TKI yang bekerja di luar negeri, misalnya di Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, dan lain-lain. Kenapa kita protes keberadaan TKA tetapi TKI kita bekerja di negara lain tidak ada yang protes. Menurut saya ini perbandingan yang tidak relevan. Kondisinya berbeda. Negara-negara tujuan TKI tersebut memang membutuhkan TKI  sektor informal seperti itu. Para TKI umumnya dari sektor informal seperti menjadi PRT, buruh perkebunan, supir, tukang, dll.  Penduduk negara tujuan TKI sudah makmur, mereka enggan bekerja untuk pekerjaan kasar, atau penduduknya sedikit. Mereka mengimpor tenaga kerja dari luar untuk pekerjaan informal seperti di atas.

Negara kita tidak membutuhkan TKA untuk pekerjaan kasar dengan alasan yang saya sebutkan di atas. Pemerintah perlu membenahi lagi berbagai penyimpangan masuknya TKA yang merebut pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masyarakat kita sendiri. Jika tidak dibenahi, keberadaan TKA di sektor buruh kasar hal ini dapat menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari.

Selamat Hari Buruh!

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.