Melakukan Perjalanan dalam Bulan Puasa

Latepost !

Melakukan perjalanan ke luar kota saat bulan Ramadhan ini rasanya sesuatu banget bagi saya. Kalau tidak terlalu penting sama sekali saya lebih baik tidak pergi saja. Bagi saya sendiri, berkumpul bersama anak dan istri di rumah, menyiapkan buka puasa dan makan sahur bersama, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan materi.  Acara-acara buka bersama (bukber) jarang saya ikuti, ya karena alasan itu tadi, saya lebih suka bersama anak-anak saya di rumah. Tetapi demi memudahkan urusan orang lain di kota yang saya kunjungi, maka saya tidak kuasa menolaknya, saya ikhlaskan hati pergi meninggalkan rumah selama bulan  puasa  ini.

Bandara Husein Sastranegara Bandung dengan latar belakang Gunung Tangkubanperahu.

Mendarat di kota tujuan saat adzan maghrib berkumandang ibalah hati. Terbayang anak-anak dan istri di rumah buka puasa tanpa kehadiran saya, sementara saya masih on the way dari bandara menuju hotel. Memang pihak hotel menyediakan kurma dan teh hangat untuk berbuka puasa, tetapi tetap saja  lebih afdhal sama anak-anakku di rumah.

Pihak pengundang menyediakan akomodasi hotel dengan paket makan malam untuk buka puasa dan makan sahur sebagai pengganti breakfast. Saat memasuki restoran hotel untuk buka puasa,  betapa kagetnya saya melihat restoran ini penuh dengan manusia yang menyerbu berbagai makanan yang terhidang. Semua kursi penuh di-booking. Agaknya mereka tidak semuanya tamu hotel, tetapi pengunjung biasa yang memanfaatkan promosi hotel yang menyediakan paket berbuka puasa all you can eat dengan harga miring.   Apalagi hotel ini bersatu  dengan mal, jadi tidak heran pengunjungnya mungkin adalah pengunjung mal juga.

Seperti diketahui, saat bulan puasa adalah low season bagi kebanyakan industri hotel. Tamu hotel turun sangat drastis karena orang-orang menahan diri tidak melakukan perjalanan selama bulan puasa.  Kegiatan-kegiatan bisnis dan pertemuan di hotel banyak “dipepetkan” selesai sebelum bulan Ramadhan, akibatnya selama bulan Ramadhan hotel benar-benar sepi tamu. Maka, salah satu strategi hotel untuk tetap “hidup” adalah mengadakan paket buka puasa di restoran mereka dengan harga miring, all you can eat. Strategi ini tampaknya berhasil, nyatanya hampir semua rumah makan, kafe, termasuk restoran di hotel, pengunjungnya membludak saat buka puasa tiba. Kursi-kursi sudah di-booking, orang-orang sudah ramai duduk di kursinya satu jam sebelum beduk maghrib berbunyi. Maka, saya tidak heran melihat restoran hotek penuh sesak seperti yang saya saksikan.

Saya kehilangan selera makan melihat suasana ramai seperti itu.  Apalagi hampir semua makanan yang tersaji ludes, saya hanya mendapat sisa-sisa saja.  Lagi-lagi saya teringat dengan keluarga di rumah, kami makan dengan tenang. Seusai makan pembatal puasa, saya menemani anak shalat maghrib dulu, barulah makan makanan berat.

Saat makan sahur di hotel, saya merasa “aneh” saja makan sahur sendirian di hotel ini. Biasanya jam 3.20 dinihari  segini saya dan istri sudah bangun untuk menyiapkan makan sahur buat semua. Sekarang saya menikmati sahur yang disediakan hotel sebagai pengganti breakfast. Menginap di hotel ini sekalian dengan paket berbuka puasa dan sahur. Jika saat buka puasa restoran hotel penuh sesak dengan pengunjung sehingga makanan yang tersaji cepat habis, maka saat makan sahur boleh dihitung pengunjungnya dengan jari, yang umumnya tamu hotel itu sendiri.

Sahur sendirian di hotel

Nasi goreng hotel. Hanya sedikit saya bisa makan.

Kembali ke Bandung dengan pesawat siang, hanya ada 20 orang penumpang Wings Air hari itu dari kapasitas 80 penumpang, itupan sudah digabung dengan penumpang Lion Air jadwal sorenya. Waktu berangkat dari Bandung pun demikian, seharusnya saya terbang dengan Lion Air sore, tetapi karena penumpang sore sangat sedikit, maka mereka digabung dengan penumpang pesawat siang, pesawat sore dibatalkan.

Sepi penumpang

Seperti halnya hotel, industri penerbangan pun mengalami low season saat bulan puasa, tetapi itu hanya sebentar, sawat memang Benar2 sepi. Seperti sudah diduga, selama bulan puasa orang enggan melakukan perjalanan. Namun periode sepi itu hanya sebentar, menjelang lebaran Idul Fitri penumpang pesawat  melonjak tajam dan mencapai peak season tertingginya dalam satu tahun, sampai-sampai maskapai menambah frekuensi penerbangan (extra flight). Begitu juga hotel-hotel full booked selama musim liburan Idul Fitri. Begitulah, Allah SWT Maha Adil, rezeki-Nya tidak pernah kurang. Selalu saja ada.

Pos ini dipublikasikan di Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.