Rindu dengan Rasulullah

Insya Allah tinggal dua minggu lagi saya akan berangkat menunaikan haji ke Tanah Suci. Berbagai perasaan tentu telah berkecamuk di dalam hati saya menjelang keberangkatan. Antara bahagia, sedih, dan gembira. Bahagia karena saya akan menjadi tamu Allah SWT di Rumah-Nya di Baitulah. Gembira karena saya akan bertemu kembali dengan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan saya akan berada di samping Rasulullah meskipun hanya maqamnya saja. Sedih karena harus meninggalkan keluarga, terutama anak dan istri yang saya sayangi. Tetapi, saya telah memasrahkan diri kepada Allah SWT  sepenuh hati lahir dan batin agar perjalanan haji ini dilancarkan dan berharap mendapat haji yang mabrur.

Meskipun saya telah pernah pergi ke Tanah Suci untuk melaksanakan Umrah tahun 2015, namun haji adalah puncak dari Rukun Islam. Haji itu adalah wukuf di Arafah, demikian kata Rasulullah, maka haji tanpa wukuf di Arah adalah tidak sah. Umrah yang saya lakukan hanya sebatas Thawaf dan Sa’i, maka itu bukanlah ibadah haji.

Orang yang pernah pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah, baik untuk berumrah maupun berbadah haji, maka di dalam dirinya selalu muncul keinginan untuk kembali dan kembali lagi ke Tanah Suci. Tanah Suci Makkah dan Madinah adalah dua tempat yang selalu dirindukan untuk didatangi lagi, berkali-kali jika ada kesempatan (waktu dan biaya). Tidak heran banyak orang umrah berkali-kali meskipun tidak wajib, tetapi perasaan rindu itu telah mengikat batin untuk datang berkali-kali ke sana.

Sebuah tempat yang saya rindukan untuk selalu berada di sisinya adalah maqam Rasulullah. Maqam Rasulullah terdapat di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Saya pernah duduk di samping maqam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW, ketika umrah tiga tahun lalu. Kisah ini saya ceritkan dalam tulisan berjudul Kisah Perjalanan Umrah ke Tanah Suci (Bagian 3): Di dalam Masjid Nabawi. Saya duduk di area Raudhah. Raudhah adalah tempat yang terletak di antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Seperti diketahui, Nabi dimakamkan di dalam rumahnya, dan rumahnya kini sudah menyatu di dalam Masjid Nabawi.

DSC_0511

Jamaah menyesaki Raudhah. Di kejauhan tampak maqam Nabi yang berawarna hijau

Kadang-kadang saya duduk persis di sebelah maqam Nabi. Tidak terbayangkan oleh saya bisa berada sedekat itu dengan Rasulullah meskipun hanya duduk di samping jasadnya yang sudah berada di dalam tanah. Saya bayangkan dulu Nabi bolak-balik pergi melewati tempat saya duduk dari rumahnya menuju mimbar di dalam masjid, dan sekarang saya hanya bisa mengenangnya. Shalawat dan salam ya Rasulullah.

DSC_0525

Maqam Rasulullah di dalam Masjid Nabawi, dahulu adalah rumahnya. Maqam ini ditutup dengan pintu besi berwarna hijau dan menyisakan beberapa lubang untuk melihat ke dalamnya.

Sungguh saya tidak percaya, sedekat itu saya berada di samping Rasulullah, meskipun terpisah oleh waktu selama ribuan tahun. Tetapi saya saat itu duduk di dekatnya. Rasulullah Muhammad SAW, lelaki yang agung yang dicintai oleh ratusan juta ummat Islam di seluruh dunia. Namanya selalu diucapkan setiap hari, seluruh ummat mendambakan syafaatnya pada Hari Akhir nanti.

Ketika saya mendengarkan lagu dari penyanyi Maher Zain yang berjudul Ya Nabi Salam Alaika, tiba-tiba saja kerinduan saya kepada Rasulullah membuncah demikian hebatnya. Tidak terasa mata saya terasa basah, membayangkan lelaki yang telah membawa ummat manusia ke jalan keselamatan.

Lirik lagu Ya Nabi Salam Alaika:

Anta nurullahi fajran
Ji’ta ba’dal usri yusran
Rabbuna ‘alaka qadran
Ya imamal anbiya’i

Anta fil wujdani hayyun
Anta lil ainaini dhoyyun
Anta indal haudhiriyyun
Anta hadun wa shafiyyun
Ya habibi ya Muhammad

Ya nabi salam alaika
Ya rassul salam alaika
Ya habib salam alaika
Shalawatullah alaika

Yartawi bil hubbi qalbi
Hubbi khairi rusli Rabbi
Man bihi abshortu darbi
Ya syafi’i ya Rasulallah

Ayyuhal mukhtaru fina
Zadanal hubbu haniina
Ji’tana bil khairidiina
Ya khitamal mursalina
Ya habibi ya Muhammad

Ya Nabi salam alaika
Ya Rasul salam alaika
Ya Habib salam alaika
Shalawatullah alaika

 

Terjemahan:

Engkaulah cahaya pada waktu fajar
Engkau datang setelah kesulitan (dan menjadikannya) kemudahan
Tuhan kami telah mengangkat derajat atasmu
Wahai pemimpin para nabi

Engkau berada di dalam hati nurani yang hidup
Engkaulah cahaya untuk kedua mataku
Engkaulah aliran air pada sungai
Engkau adalah petunjuk yang sesungguhnya
Wahai kekasihku ya Muhammad

Wahai Nabi keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai Rasul keselamatan (tercurah) atasmu
Wahai kekasih keselamatan (tercurah) atasmu
(semoga) shalawat (rahmat) Allah (tercurah atasmu

Cinta yang tak terpadamkan di dalam hatiku
Cinta(kepada) utusan terbaik dari Tuhanku
Barangsiapa yang bersama kulihat (berada) di jalan (Allah)
Wahai perantaraku wahai Rasululullah

Wahai yang terpilih diantara kami
Cinta kami mendorong rasa rindu kami
Engkau datang kepada kami dengan agamayang terbaik
Wahai penutup orang-orang yang diutus
Wahai kekasihku wahai Muhammad

~~~~~~~~~~~~

Ya Nabi salam ‘alaika shalawat dan salam tercurah untukmu.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Pengalamanku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Rindu dengan Rasulullah

  1. mbegitulah berkata:

    Semoga mabrur hajinya, pak! Dan moga-moga saya segera dapat panggilan untuk menunaikan haji 🙂 Salam kenal!

  2. Rahma balci berkata:

    Semoga jd haji mabrur, doakan kami yg punya mimpi juga bs berhaji

  3. Ping balik: Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 1): Dari Bandung Menuju Embarkasi Haji | Catatanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.