Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 4): Masjid Nabawi dan Sekitarnya

Masjid Nabawi sangatlah besar dan interior di dalamnya sangat indah. Barangsiapa yang masuk ke dalamnya pasti akan merasa terkaum-kagum melihat keindahannya. Lengkung-lengkung di dalamnya dipengaruhi gaya masjid di Turki dan Cordoba (Spanyol). Karpet merah terbentang hampir di seluruh lantainya. Lampu-lampu kristal bergelantungan di langit-langit.  Pintu-pintunya sangat banyak. Jamaah haji harus mengingat di pintu mana ia masuk agar tahu kalau nanti kalau keluar supaya tidak tersesat.

Interior yang cantik di dalam Masjid Nabawi

Di dalam masjid Nabawi jamaah haji dari berbagai bangsa berkumpul untuk melaksanakan sholat maupun mengaji Al-Quran. Jika ingin mendapatkan shaf di dalam masjid, maka datanglah setengah jam sebelum sholat dimulai. Jika datang pas mendekati waktu sholat, maka mungkin jamah mendapat shaf paling belakang atau di luar masjid. Selama di Madinah jamaah haji memperbanyak sholat di Madjid Nabawi, karena sholat di Masjid Nabawi 1000 kali pahalanya dibandingkan sholat di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram.

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.” (HR. Ahmad 3/343 dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.).

Duduk-duduk di dalam masjid membuat kita betah dan tidak ingin untuk pulang. Udara yang sejuk di dalam masjid yang berasal dari pendingin udara membuat mata terkantuk-kantuk. Memang banyak jamaah haji menunggu waktu sholat berikutnya di dalam masjid. Setelah sholat maghrib, sebagian jamaah haji tetap berada di dalam Masjid Nabawi menunggu sholat Isya. Begitu juga setelah sholat Dhuhur, tetap berada di dalam masjid sambil menunggu waktu sholat Ashar.

Sambil menunggu waktu sholat berikutnya, sebagian jamaah menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Quran. Kitab Al-Quran tersebar di berbagai rak yang bertebaran di dalam masjid. Sebagian lagi saya lihat banyak jamaah haji tidur-tiduran di dalam masjid. Ternyata tidak di Indonesia saja jamaah tidur di dalam masjiid, di Saudi juga sama ya. Nah, kalau anda tidur di dalam masjid Nabawi, sebaiknya perhatikan  etika ini. Jangan tidur dengan menjulurkan kaki anda ke arah kiblat atau ke arah maqam Nabi (maqam nabi berada di bagian depan Masjid Nabawi). Jadi, kepala anda berada di sebelah barat dan kaki anda ke arah timur. Saya pernah ditegur oleh jamaah haji dari Bangladesh karena kaki saya menghadap ke arah maqam Nabi. Tidak menghormati Nabi, katanya.

Setiap hari Senin dan Kamis sore menjelang sholat Maghrib saya melihat  pemandangan yang unik.  Di atas karpet tempat sholat terbentang kain putih. Di atasnya ditata hidangan seperti roti Arab, kurma, dan air zam-zam (kadang-kadang yoghurt). Di ujung kain putih seorang pemuda Madinah  memohon-mohon kepada jamaah yang lewat di dalam di masjid Nabawi untuk singgah mencicipi hidangan yang mereka sediakan secara gratis. Halal, halal, katanya. Kalau kita tidak singgah mereka sedikit kecewa.  Hidangan ini sebenarnya ditujukan bagi jamaah yang akan berbuka puasa sunat, tetapi jamaah yang tidak puasa juga boleh makan.

Pemuda ini menawarkan hidangan kepada setiap jamaah yang lewat.

Sampai kenyang perut saya karena makan hidangan tsb di dekat pintu masuk, tapi ketika berjalan ke arah depan semakin banyak saja yang menawarkan dan sudah tidak sanggup lagi saya. Syukran, syukran, kata saya.

Kebiasaan menjamu jamaah biasanya saya dengar pada saat bulan Ramadhan. Saat itu banyak penduduk Makkah dan Madinah berlomba-lomba menyediakan hidangan gratis bagi orang yang berpuasa, mereka memohon agar orang yang lewat mencicipi takjil untuk berbuka puasa. Setelah Ramadhan, kata pemuda itu menjelaskan dengan bahasa Inggris yang patah-patah, kebiasaan itu berlanjut setiap hari Senin dan Kamis.

Jamaah sedang mencicipi hidangan dari penduduk Madinah yang dermawan.

Saat musim haji seperti sekarang sekitar 2 juta jamaah datang dari berbagai penjuru dunia memenuhi kota Madinah. Tentu penduduk kota Madinah akan semakin berlomba meraih pahala dengan menjamu jamaah haji yang menjadi tamu-tamu Allah itu. Penduduk Madinah memang orang yang ramah, jadi teringat ketika Rasulullah dan kaum Muhajirin disambut dengan suka cita oleh kaum Anshar di Madinah. Allahumma shalli ala Muhammad.

Pemandangan lain yang saya lihat di dalam Masjid Nabawi adalah pemuda dan anak-anak kota Madinah sedang setor hafalan ayat Al-Quran kepada gurunya usai sholat Ashar. Mereka menghadap ke guru, lalu membacakan hafalan. Jika bacaannya salah maka dikoreksi oleh guru. Metode ini mirip dengan metode tahfidz di tanah air kita, atau mungkin yang metode di tanah air mengadopsi sistem di Madinah.

Anak-anak sedang setor hafalan Al-Quran

Seorang pemuda sedang setor hafalan Quran. Gurunya mendengarkan dengan seksama.

Di dalam Masjid Nabawi ada sebiuah tempat yang selalu menjadi incaran jamaah, apalagi kalau bukan Raudhah. Raudhah adalah sebuah area yan luasnya 100 meter persegi yang terletak di antara maqam Nabi dan mimbar Nabi. Dahulunya Raudhah adalah tempat yang terletak antara rumah Nabi dan mimbar Nabi. Masjid Nabawi dulu kecil adanya, sedangkan rumah Rasululllah terletak di luarnya. Rasulullah berkata:

Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman surga.” (HR. Bukhari, no. 1196 dan Muslim, no. 1391)

Ummat Islam meyakini bahwa Raudhah adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Tempat itu menyebabkan masuk surga dan bahwa doa serta shalat di dalamnya layak mendapatkan balasan seperi itu, demikan tafsir para ulama.

Sholat di Raudhah. Dibalik teralis berwarna hijau itulah terdapat makam Rasulullah, Abu Bakar Siddiq, dan Umar bin Khatab

Untuk bisa memasuki Raudhah perjuangannya sangat luar biasa. Ribuan orang berdesak-desakan antri untuk memasuki Raudhah. Untuk jamaah wanita disediakan jalur khusus dan hanya dibuka setelah sholat Subuh dan Ashar, sedangkan untuk jamaah laki-laki dapat ke Raudhah waktu kapan saja.

Setiap usai sholat lima waktu jamaah haji berlomba mendekati Raudhah. Para askar dan petugas cleaning service sudah membuat barikade dengan memblok jalur ke Raudhah. Mereka mengatur jamaah yang berdesak-desakan untuk memasuki Raudhah. Setiap kali masuk Raudhah dibatasi sekitar seratus orang. Jamaah yang tidak tahan terjepit biasanya keluar dari antrian. Untuk bisa memasuki Raudhah diperlukan waktu sekitar satu jam, yang penting sabar  saja. Sebaiknya jamah membekali dirinya dengan air minum karena antri di dalam keumunan yang sangat padat dan berdesak-desakan memerlukan stamina kuat. Waktu terbaik ke Raudhah adalah siang hari jam 10 pagi dan malam hari setelah jam 22.00. Saat itu antrian tidak terlalu padat karena jamaah sudah banyak yang pulang ke pemondokan.

Area Raudhah ditandai dengan karpet berwarna hijau

Sholat dan berdoa di Raudah tidak bisa berlama-lama, karena jamaah yang lain juga antri untuk masuk ke dalamnya. Para askar meemberi waktu kira-kira 10 menit kepada jamaah berada di dalam Raudhah, lalu menyuruh jamaah segera keluar. Askar tidak berani mengusir jamaah yang sedang sholat di Raudhah, tetapi mereka “mengusir” jamaah yang terlalu lama berdoa. Padahal, setiap jamaah yang memasuki Raudhah sudah memiliki rencana sejumlah doa dan permohonan yang akan disampaikan di Raudhah. Jika dilakukan dalam keadaan terburu-buru karena kasip waktu tentu tidak akan kesampaian semua doa tersebut. Satu tips agar bisa berdoa agak sedikit lama di Raudhah adalah jangan berdoa sambil duduk menengadahkan kedua tangan sebegaimana kita berdoa pada umumnya, tetapi berdoalah sambil bersujud. Maksudnya, anda mengambil posisi sujud lalu berdoalah dalam keadaan sujud tersebut, askar menyangka anda sedang melaksanakan sholat. Seperti yang saya katakan tadi, askar tidak akan berani mengusir jamaah yang sedang sholat,  he..he..

Di Raudhah perasaan saya pun mellow-mellow. Saya hampir tidak percaya bisa duduk sebegitu dekat dengan Rasulullah, di sebelah maqamnya. Yang memisahkan saya dengan Rasulullah hanyalah waktu sejarak 1500 tahun. Lima belas abad yang lalu lelaki mulia itu tinggal dan dimakamkan di sini. Sekarang saya ada di sampingnya, jarak kami berdua hanya beberapa meter saja. Meski hanya berada disamping jasadnya yang sudah di dalam tanah, itu sudah membuat saya merasa terharu. Saya bayangkan dulu beliau bolak-balik dari rumahnya (yang sekarang menjadi maqamnya) ke mimbarnya melewati tempat yang saya duduki ini.

Ya Nabi salam alayka, ya Rasul salam alayka. ya habib salam alayka, shalawatullah alayka. Shalawat dan salam tercurah untukmu. Begitu besar kecintaan kaum muslimin dan muslimat di seluruh dunia kepadamu. Namamu selalu disebut setiap sholat, shalawat dan salam selalu dikirim kepadamu. Hanya engkau yang bisa memberi syafaat kepada umat di Hari Akhir nanti. Sekarang saya datang berziarah ke maqammu.

Selama di Madinah saya sudah beberapa kali bisa berhasil memasuki Raudhah. Beberapa kali gagal karena saking padatnya antrian yang berdesak-desakan. Pada hari terakhir saya meninggalkan Madinah sebelum berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan umrah, saya sempatkan datang ke Raudhah lagi sekitar jam 10 pagi. Saya akan “berpamitan” dengan Rasulullah. Disitulah saya sholat sunnah dua kali, dan pada shalat sunnat yang terakhir saya menangis sejadi-jadinya. Teringat perjuangan Rasulullah Muhammad SAW, teringat anak saya yang saya tinggalkan,teringat dosa-dosa saya. Saya berdoa dalam keadaan sujud, dan saya menangis lagi tidak terbendung.

Selesai sholat di Raudhah, jamaah keluar masjid dan melewati melalui maqam Rasulullah dan para sahabatnya (Abubakar Siddiq dan Umar bin Khatab). Di sini kita melakukan ziarah ke maqam Rasulullah. Jamaah biasanya berjalan pelan sambil mengintip ke dalam melalui celah-celah yang agak terbuka. Saya melihat ke dalam seperti ada cungkup yang ditutupi dengan kain hijau. Mungkin itulah maqam Rasulullah atau sahabatnya. Saya melihat berbagai kelakuan jamaah di depan maqam Nabi. Ada jamaah yang mengusap-ngusapkan tangannya ke pintu maqam, mengibas-ngibaskan kain atau pecinya ke pintu maqam, mungkin mereka ngalap berkah. Askar yang berjaga di sana selalu memperingatkan jamaah agar tidak melakukan perbuatan yang dianggap syirik atau bidáh. Hajj..haj..la..la, kata akar memperingatkan jamaah.

Berziarah ke maqam Rasulullah

Selama di Madinah jamah haji memaksimalkan sholat lima waktu di Masjid Nabawi. Pemerintah Indonesia memberikan waktu sembilan hari (termasuk hari kedatangan dan hari meninggalkan Madinah) kepada jamaah haji berada di Madinah untuk melakukan arbain, yaitu sholat wajib sebanyak 40 kali di Masjid Nabawi. Alhamdulillah, saya bisa melaksanakan arbain di Masjid Nabawi. Kalau saya hitung sejak waktu kedatangan di Madinah dan pergi meninggalkan Madinah, memang pas melaksanakan sholat wajib sebanyak 40 kali (kira-kira 8 hari, yaitu 8 x 5) di Masjid Nabawi. Kami sampai di Madinah pada waktu sore hari menjelang Ashar, dan pergi dari Madinah setelah sholat Ashar.

Sholat di Masjid Nabawi maupun mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Madinah tidaklah termasuk Rukun dan Wajib Haji. Jadi, sebenarnya tidak ada keharusan bagi jamaah haji untuk ke Madinah. Haji itu adalah wukuf d Arafah. Namun, jamaah haji berada di Madinah tujuannya adalah untuk berziarah dan tentu saja menikmati sholat di Masjid Nabawi.

Setelah dua hari berada di Madinah, Panitia Haji Indonesia memfasilitasi jamaah haji untuk mengunjungi dua tempat bersejarah, yaitu Masjid Quba dan Bukit (Jabal) Uhud, serta agenda tambahan mengunjungi kebun kurma. Masjid Quba adalah masjid yang pertama dibanun oleh Rasulullah, letaknya di luar kota Madinah. Jabal Uhud adalah tempat lokasi peperangan antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan nama Perang Uhud.

Pemerintah RI menyediakan 10 bis untuk setiap kloter melakukan ziarah ke sana. Pagi hari setelah sholat Subuh jamaah haji sudah bersiap menunggu di depan hotel untuk berangkat tur. Kunjungan pertama adalah ke Masjid Quba. Di sini jamaah haji melakukan sholat sunnah. Hanya sebentar di sini, karena masih ada kunjungan ke tempat lainnya.  Tur harus selesai sebelum waktu Dhuhur agar jamaah bisa sholat wajib di Masjid Nawabi.

Masjid Quba tampak dari luar

Mihrab Masjid Quba

Menara Masjid Quba

Setelah berfoto-foto di sini, dari Masjid Quba tur dilanjutkan ke Bukit Uhud. Pada siang hari Bukit Uhud tampak berwarna kemerah-merahan. Kita bisa membayangkan disinilah Rasulullah dan kaum muslimin Madinah berperang dengan kaum Quraisy. Pada Perang Uhud ini kaum muslimin menderita kekalahan akibat tidak mau menuruti perintah Rasulullah, mereka lebih tergoda dengan harta pampasan perang yang ditinggalkan kaum Quraisy.

Bukit Uhud

Bukit Uhud yang berwarna merah

Di kompleks Bukit Uhud ini terdapat makam para syuhada yang gugur dalam peperangan, termasuk Hamzah, Paman Nabi Muhammad, yang juga gugur. Kita dapat melihat kompleks pemakaman itu, tetapi karena ditutup dengan plastik putih sehingga kurang terlihat dengan jelas. Tidak terlihat seperti kuburan, tidak ada batu-batu nisan seperti makam di Tanah Air, karena begitulah kebiasaan di Arab Saudi dalam menguburkan jenazah.

Kompleks makam para syhada

Dari Bukit Uhud, tur dilanjutkan ke kebun kurma. Di kebun kurma ini terdapat toko yang menjual bermacam-macam jenis kurma dari yang berwarna kuning, merah, hingga hitam, salah satunya kurma ajwa, yang disebut juga kurma Rasul, karena Rasulullah menyunnahkan makan kurma ini. Kurma ajwa adalah kurma favorit dan selalu menjadi buruan jamaah haji. Menurut saya harga kurma di kebun kurma mahal-mahal, saya tidak menganjurkan jamaah membeli kurma buat oleh-oleh di sini. Lebih baik membeli kurma di Pasar Kurma di Madinah (Pasar Kurma terletak setelah Gate 7 dari Masjid Nabawi). Sebagai perbandingan, satu kg kurma ajwa di kebun kurma dijual 60 riyal, sedangkan di Pasar Kurma dengan kualitas yang sama harganya 40 hingga 50 riyal, bahkan bisa 30 riyal asal pandai menawar. Jamaah haji umumnya membeli kurma dalam jumlah yang banyak, mereka mengirimkannya melalui cargo ke tanah air, sebab ada batasan membawa barang ke dalam pesawat ketika pulang (hanya boleh membawa satu koper besar, satu ts tenteng, dan satu tas paspor).

Selesai tur, jamaah haji kembali ke hotel untuk mengejar sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Nabawi.

Sebenarnya ada satu tempat lain yang juga menjadi keinginan jamah haji untuk mengunjunginyam di luar kota Madinah yaitu jabal magnit. Disebut demikian karena tempat ini dianggap memiliki pengauh medan magnet. Mobil dapat melaju kencang dalam posisi netral, bahkan bisa mencapai kecepatan 120km/jam padahal mobil lumayan besar 3500 cc. Supir bus kami membawa mobil dalam posisi kopling netral. Mobil melaju kencang namun mesin tetap hidup dan rem tetap dipakai sebagai pengendali.

Jabal magnet

Kawasan jabal manet

Jabal magnet tidak termasuk ke dalam paket tur yang saya ceritakan di atas. Jika berminat ke sana, jamaah haji dapat urunan menyewa bus. Rombongan KBIH kami menyewa satu bus ke sana, setiap kami urunan 30 riyal.

Ada beberapa masjid yang bisa diziarahi di sekitar Masjid Nabawi, yaitu tiga buah masjid bersejarah. Masjid pertama adalah Masjid Ali bin Abi Thalib, masjid kedua adalah Masjid Abu Bakar, dan masjid ketiga adalah Masjid Ghamammah. Sesuai namanya, Masjid Ali dan Masjid Abu Bakar memang dibangun oleh kedua khalifah tersebut. Masjid Ghamammah adalah masjid di mana Nabi melakukan sholat istisqa‘untuk meminta turun hujan.

Ketiga masjid tersebut tidak jauh dari Masjid Nabawi, namun tidak digunakan lagi untuk sholat. Pintu masjid terlihat dalam keadaan tertutup. Namun saya perhatikan banyak juga jamaah haji yang melakukan sholat sunnat di luar masjid tersebut, padahal sudah ada larangan untuk tidak melakukan sholat di sana.

Masjid Ali

Masjid Abu Bakar

Masjid Ghamammah

Seperti yang saya tulis di atas, rangkaian kegiatan di Madinah memang tidak masuk ke dalam Rukun Haji. Selama 9 hari jamaah haji Indonesia gelombang satu tinggal di Madinah sebelum bertolak menunaikan rukun haji di Mekah. Selama di Madinah jamaah sholat arbain di Masjid Nabawi dan berziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Bukit Uhud, masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan tiga madjid di atas. Masih ada lagi yang ingin dikunjungi yaitupercetakan Al-Qur’an, tetapi karena tidak punay waktu yang cukup maka kunjungan ke percetakan Al-Quran tidak jadi dilakukan. (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.