Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 6): Di Masjidil Haram, Mekkah

Masjidil Haram, atau sering disingkat Haram (atau Harom) saja, tidak pernah sepi, baik pada musim haji maupun diluar musim haji. Di dalamnya ada “magnet” yang membuat Islam di seluruh dunia selalu ingin mengunjunginya, yaitu Ka’bah, Baitullah, yang menjadi kiblat ummat Islam dalam menunaikan sholat.

Selama musim haji, semakin hari Haram semakin padat dengan calon jamaah haji. Saya sarankan jangan datang ke Haram mendekati waktu sholat, pasti tidak akan mendapat tempat di dalam masjid, paling-paling mendapat tempat di pelataran luar masjid. Ya, Haram sudah penuh setengah jam sebelum waktu sholat. Jadi, kalau mau ke Haram sebaiknya satu jam sebelum waktu sholat tiba. Rata-rata jamaah ingin sholat di plaza (pelataran Ka’bah), tetapi pelataran ini sudah penuh sesak satu jam sebelum sholat. Para askar pun sudah menutup akses ke plaza satu jam sebelum waktu sholat karena sudah penuh dengan jamaah yang tawaf maupun yang menunggu sholat. Jadi, kalau anda ingin sholat di dalam Haram, maka sebaiknya datanglah minimal satu jam sebelum waktu sholat. Dari pemondokan naik bus Shalawat ke Haram satu jam sebelumnya, karena satu jam sebelum waktu sholat tiba bus Shalawat sudah penuh dengan jamaah yang akan ke Haram. Kita harus antri kedatangan bus berikutnya.

Masjidil haram tampak dari depan menara Zamzam. Saat waktu sholat Maghrib dan Isya, pelataran di depan menara ini penuh sesak dengan jamaah yang sholat.

Meskipun waktu sholat masih lama, biasanya jamaah haji mengisi waktu dengan tadarus (membaca Al-Quran). Dari tanah air saya sudah memasang niat akan mengkhatamkan Al-Quran selama di Tanah Suci (Madinah dan Mekkah). Sejak di Madinah saya sudah memulai membaca Quran dari awal lagi, dan  di Mekkah saya melanjutkan hingga alhamdulillah  tamat dua hari sebelum kepulangan ke tanah air. Membaca Quran di Haram terasa lebih berkesan, karena saya membaca Quran sambil menghadap ke Ka’bah. Di depan saya terlihat Ka’bah, meskipun tidak persis dekat di depannya. Sekali-sekali ketika jeda membaca Quran mata saya menatap ke Ka’bah. Oh Ka’bah yang selalu saya rindukan, dan juga dirindukan oleh jutaan ummat Islam di seluruh dunia, sekarang ada di depan mata saya.

Jika saya tidak mendapat tempat di plaza, maka biasanya saya mengambil tempat di lantai dua yang pemandangan menghadap ke ka’bah. Pemandangan dari lantai dua justru sangat menggetarkan hati. Di bawah sana terlihat lautan manusia berputar bersama-sama mengelingi Ka’bah, melaksanakan tawaf secara berlawanan arah jarum jam sebanyak 7 putaran. Saya merekam momen yang menggetarkan hati tersebut dengan kamera ini seperti pada foto di bawah ini.

Plaza tempat Ka’bah berada dipenuhi oleh lautan jamaah haji yang sedang tawaf maupun sholat

Di lantai dua ini (dan juga di lantai tiga) juga terdapat area mataf (area untuk tawaf). Tawaf di lantai dua dan tiga radius lingkarannya lebih panjang daripada di plaza sehingga tawaf membutuhkan waktu satu jam untuk menyelesaikannya, dan bisa lebih lama lagi jika jamaah sangat padat. Tawaf di lantai dua cocok bagi jamaah yang menggunakan kursi roda karena tidak berdesak-desakan seperti di plaza. Kursi roda tersedia secara terbatas dan gratis. Jika keluarga atau kerabat jamaah tidak sanggup mendorongnya, maka banyak tenaga kerja lokal yang bersedia membantu mendorong kursi roda menyelesaikan tawaf tujuh putaran asal bayarannya cocok.

Jamaah yang menggunakan kursi roda tawaf di lantai dua mataf

Selain untuk melaksanakan sholat fardhu, jamaah haji datang ke Haram untuk melaksanakan tawaf. Tawaf dapat dilakukan kapan saja, baik pagi, siang atau malam. Selagi masih punya tenaga dan mumpung berada di Mekkah, maka kenapa tidak memanfaatkan waktu untuk melaksanakan tawaf berkali-kali. Namun, semakin hari jamaah haji semakin hari semakin banyak saja berdatangan ke kota Mekkah dari seluruh penjuru dunia sehingga Masjidil Haram semakin bertambah padat. Untuk tawaf di plaza di depan Ka’bah semakin sulit, sangat padat dan berdesak-desakan.

Baik di lantai atas  maupun di lantai bawah, jamaah yang melakukan tawaf mengalir tiada henti. Merinding melihatnya. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia. Semuanya bertasbih memuji-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, berdoa meminta ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Tawaf bukanlah sekedar mengelilingi kiblat ummat Islam itu. Tetapi, tawaf hakekatnya adalah mengelilingi Sang Empunya Ka’bah, yaitu Allah SWT. Selain itu, tawaf juga menghormati orang yang pertama kali membangun Ka’bah, yaitu Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Di depan Ka’bah terdapat maqam Ibrahim, yaitu bekas tempat berdiri Nabi Ibrahim. Saya belum berhasil sholat persis di belakang maqam itu karena sungguh padatnya manusia.

Tawaf juga merefleksikan pergerakan alam semesta. Planet-planet berputar mengelilingi matahari, elektron-elektron di dalam atom berputar mengelilingi inti atom. Sungguh semua itu terdapat pelajaran dan hikmah bagi manusia.

Waktu favorit jamaah untuk melaksanakan tawaf adalah pada malam hari setelah sholat Isya, dinihari sebelum subuh, dan pagi hari setelah matahari terbit. Saat itu suhu udara cukup sejuk, tidak panas menyengat seperti siang hari. Selain itu, setelah sholat Isya dan setelah sholat Subuh biasanya jamaah pulang ke hotel masing-masing untuk beristirahat sehingga Haram tidak terlalu padat dan kita bisa tawaf agak leluasa di plaza. Jamaah yang  hotelnya jauh dari Haram sudah siap-siap berangkat ke Haram pukul dua atau pukul tiga dinihari dengan niat untuk tawaf sembari menunggu waktu sholat Subuh di Haram. Bus Shalawat yang mengangkut jamaah selalu tersedia jam berapa saja, jadi mau pergi ke Haram bisa kapan saja.

Namun, tawaf pada siang hari bolong yang sangat terik tetap saja banyak jamaah yang melakukannya meskipun sangat beresiko terkena stroke panas (heat stroke). Jamaah haji Indonesia sudah diingatkan agar tidak mengambil resiko berada di luar ruangan tanpa pelindung kepala. Suhu di Mekkah saat musim haji tahun 2018 adalah 44 – 50 derajat Celcius. Teman saya bercerita, dia melihat dari lantai dua  ada beberapa orang yang digotong dari lautan manusia yang sedang melaksanakan tawaf, mungkin pingsan atau wafat terkena serangan heat stroke. Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiun.

Setiap hari banyak jamaah haji yang wafat di Mekkah. Seperti halnya di Masjid Nabawi, setelah usai sholat lima waktu selalu ada pelaksanaan sholat jenazah. Begitu juga di Masjidil Haram di Mekah. Jenazah-jenazah ditaruh di sisi lantai mataf, selanjutnya dibawa ke sisi Ka’bah untuk disholatkan, disholatkan oleh ratusan ribu jamaah haji. Jamaah haji yang wafat di Mekkah dimakamkan di pemakaman Ma’la (jika di Madinah di pemakaman Baqi). Di Ma’la juga terbaring jasad Siti Khodijah, istri Rasulullah.

Semua jamaah haji yang wafat di tanah suci biasanya dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi untuk diketahui penyebab wafatnya. Selanjutnya jenazah dimandikan, dikafani, dan dibawa ke Masjidil Haram. Sebagian jamah haji mungkin ada menginginkan wafat di Tanah Suci. Walahu alam. Kita memang tidak pernah tahu di bumi mana kita dilahirkan dan di bumi mana kita diwafatkan.

Jenazah jamaah haji yang wafat siap untuk disholatkan di depan Ka’bah

Saat di Mekkah, kloter kami JKS 07 berduka. Salah seorang jamaah dari KBIH Ar-Rahmah, seorang ibu, wafat di hotel 215 di pemondokan Syisyah 2. Tinggallah suaminya sendiri duduk menatap jenazah almarhumah istri tercintanya. Dari 402 jamaah haji kloter JKS 7 sekarang berkurang menjadi 401 orang. Umur dan ajal memang di Tangan Allah SWT. Inna lillaahi wa Inna ilaihi raajiun.

Selesai tawaf di Ka’bah, sambil menunggu waktu sholat fardhu berikutnya, sebagian   jamaah haji berpindah melakukan  “tawaf” di Zamzam Tower, he..he. Menara zamzam sudah menjadi landmark kota Mekah. Di menara ini terdapat puluhan hotel berbintang dan mal/pusat perbelanjaan. Jamaah haji khusus (plus) biasanya menginap di hotel-hotel di menara ini.

Bubaran sholat jalan-jalan ke Zamzam Tower

Mal di Menara Zamzam diisi oleh toko-toko dan supermarket (Bin Dawood) yang berjualan barang bermerek. Mal kelas elitlah. Berbagai jamaah haji dari berbagai penjuru dunia ramai mendatangi mal ini sekedar cuci mata atau memang untuk berbelanja. Puluhan  restoran baik restoran waralaba barat maupun restoran dengan menu lokal berjejer di setiap lantai. Menariknya, setiap waktu sholat tiba, seluruh toko di mal ini tutup. Para pegawai toko dan pengunjung yang terjebak  di dalam mal (tidak bisa keluar mal karena pelataran di depan Menara Zamzam sudah penuh dengan jamaah yang akan sholat) menjadikan lantai mal menjadi shaf-shaf untuk sholat. Mal pun berubah menjadi mushola besar saat waktu sholat tiba. Sungguh pemandangan yang mengharukan, hanya bisa kita temukan di sini saja.

Mal di Menara zamzam

Bin Dawood mungkin merupakan jaringan supermarket terkenal dan terbesar di Saudi. Sejak di Madinah dan di Mekah hanya menemukan supermarket ini saja.

Untuk mencari makanan di sekitar Masjidil Haram tidaklah sulit. Selain di Menara Zamzam, puluhan restoran di sekitar Haram bertebaran menawarkan menu nasi kebuli, nasi mandhi, kebab, shawarma, martabak, ayam bakar (broast chicken), dan lain-lain. Saya sempat membeli nasi kebuli Arab, yang kemudian saya ketahui bernama nasi bukhori,  di luar Haram. Ini pertama kali saya makan nasi kebuli. Ya ampun, dikasih nasi porsinya segede gaban, ayamnya juga besar. Bagaimana menghabiskannya ya? Biasanya saya makan separo dan sisanya buat sarapan pagi besok. Nasinya enak, banyak mengandung rempah. Ada cengkeh, pala, jinten, dll di dalam nasi. Nasi bukhori dengan ayam panggang harganya 20 riyal. Kalau nasinya saja harganya 10 riyal. Martabak dan shawarma juga 5 riyal.

Restoran di luar Haram

Ayam panggang yang menggoda.

Nasi bukhori. Lalapannya adalah cabe hijau besar.

Tidak jauh dari Haram, yaitu di dekat bukit batu, tidak jauh dari terminal Syib Amir, ada sebuah perpustakaan yang dulunya tempat ini adalah tempat bersejarah. Ya, di lokasi tempat perpustakaan inilah dulunya terdapat rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad. Banyak jamaah haji yang mengunjungi tempat ini, ada juga jamaah yang saya lihat sholat di sini meskipun sudah ada larangan untuk tidak sholat di sana. Pemerimtah Saudi memang banyak menghancurkan  situs-situs bersejarah, misalnya rumah Siti Khadijah sekarang menjadi lokasi toilet, rumah kelahiran Nabi menjadi gedung perpustakaan. Mungkin maksudnya supaya jamaah tidak melakukan bid’ah, yaitu melakukan perbuatan yang mengarah syirik dengan melakukan ritual-ritual yang tidak diajarkan oleh agama. Hal ini mungkin debatable.

Perpustakaan Mekkah Al-Mukaramah. Di lokasi inilah dulu terdapat rumah tempat kelahiran Nabi Muhammad.

Seperti halnya di Masjid Nabawi, di setiap sudut Masjidil Haram terdapat banyak gentong yang berisi air zam-zam. Jamaah haji dapat minum air zamzam sepuasnya atau membawanya pulang. Biasanya jamaah haji sudah membawa botol-botol air mineral  dari pemondokan. Ketika pulang dari Haram, mereka mengisi botol-botol itu dengan air zamzam untuk diminum di hotel. Di luar Masjidil Haram juga terdapat keran-keran air zamzam. Jamaah dari India, Afghanistan, Mesir, dan lain-lain biasanya mengisi air zamzam ke dalam jerigen-jerigen.

Depot air zamzam di luar Haram.

Satu keinginan saya yang belum pernah berhasil diwujudkan di Haram adalah mencium hajarul aswad di sudut ka’bah. Waktu saya umrah tahun 2015 dulu pun juga tidak berhasil.  Perjuangan untuk mencium hajarul aswad sungguh luar biasa, bisa-bisa nyawa taruhannya karena tergencet, terinjak, atau sesak napas karena terjepit. Orang-orang berdesak-desakan saling mendorong untuk mendekati hajarul aswad. Jamaah haji yang bertubuh besar seperti dari Mesir, Turki, India, Afghanistan, dan Afrika sangat mendominasi di depan hajarul aswad. Orang Indonesia yang bertubuh kecil terjepit di tengahnya. Mencium hajarul aswad adalah sunnah saja, bukan keharusan. Hanya karena Nabi pernah menciumnya, maka jamaah haji pun berusaha untuk menciumnya.

Meskipun saya tidak berhasil mencium hajarul aswad, namun saya sudah puas bisa berdoa di Multazam. Multazam adalah area di depan Ka’bah yang terletak antara hajarul aswad dan pintu Ka’bah. Saya berdoa di sana, mencurahkan segala isi hati, memohon kepada Allah segala permohonan, hingga saya pun menangis. Multazam adalah tempat yang mustajab untuk berdoa. Semoga seluruh doa yang saya panjatkan di sana di-ijabah oleh Allah SWT, entah sekarang, entah nanti.  Amiin ya rabbal alamin.

Selain kepuasan berdoa di Multazam, saya juga bersyukur bisa sholat di Hijir Ismai. Hijir Ismail adalah area kecil di depan Ka’bah yang dibatasi oleh tembok melengkung. Untuk masuk ke dalam Hijir Ismail ini perjuangannya juga tak kalah hebatnya dengan perjuangan mencium hajarul aswad. Para askar membatasi jamaah masuk ke dalam Hijir Ismail supaya tidak ada yang celaka. Di Hijir Ismail kita tidak bisa leluasa sholat karena di depan kita punggung jamaah haji lainnya. Untuk sujud pun sangat sulit. Alhamdulillah saya bisa beberapa kali bisa sholat di Hijir Ismail. Triknya adalah setelah selesai tawaf, maka pada putaran terakhir saya merangsek maju ke dekat Ka’bah. Setelah berdoa di Multazam, mencium Ka’bah, mencium kiswah, saya berjalan mendekati Hijir Ismail. Ketika ada tempat lowong dan askar membolehkan, saya pun masuk ke dalamnya dan sholat sunnat dua rakaat, diakhir dengan minum air zam-zam yang tersedia di sana.

Masjidil Haram di Mekkah memang selalu membuat rindu dan selalu dirindukan. (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 6): Di Masjidil Haram, Mekkah

  1. Doakan saya bisa juga berangkat ke Tanah Suci mas. Semoga Allah SWT memudahkan aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.