Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 8): Jalan-jalan di Seputaran Kota Mekkah

Menghitung hari, demikian judul sebuah lagu pop. Begitulah, jamaah haji Gelombang 1 berada di Mekkah sambil menghitung hari menuju waktu puncak haji, yaitu saat wukuf di Arafah. Sambil menunggu datangnya waktu wukuf, mungkin tidak ada salahnya jalan-jalan di seputaran kota Mekkah, mengunjungi beberapa sudut kota, dan yang paling penting mengunjungi beberapa situs bersejarah seperti Gua Hira, Jabal Rahmah, Masjid Jin, dan sebagainya.

Seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, kota Mekkah adalah kota jasa dan perdagangan. Sebagai kota jasa, kota Mekah dipenuhi dengan hotel-hotel untuk menampung jamaah haji pada musim haji dan jamah umrah yang selalu datang setiap hari dari seluruh dunia. Bangunan apapun yang kita temui di Mekkah, kalau tidak hotel ya toko atau restoran. Penduduk Mekkah sendiri tinggal di pinggiran kota, di rumah-rumah yang beratap beton, atau di aprtemen. Rumah dan apartemen di sana tidak memiliki atap, karena hujan sangat jarang turun. Jangan bayangkan ada talang air atau selokan di kota ini.

Sesudut kota Mekkah

Beberapa hari setelah berada di Mekkah, rombongan KBIH kami mengadakan city tour di kota Mekkah. Kunjungan pertama adalah pergi ke pasar kambing Al Kakiyah di kota Mekah. Di pasar ini ada tempat pemotongan hewan (TPH). Jamaah haji akan menyaksikan pemotongan hewan qurban sebagai denda (dam) karena jamaah haji Indonesia umumnya melaksanakan Haji Tamatu‘ (melaksanakan umrah pada musim haji sebelum melaksanakan haji) . Dendanya adalah satu ekor kambing. Biayanya diambil dari living cost 500 riyal yang telah dibagikan di embarkasi.

Sebenarnya membeli dan menyaksikan sendiri pemotongan hewan dam bukan keharusan. Ada cara yang lebih praktis. Pemerintah Saudi sudah menunjuk Bank Al-Rajhi sebagai perwakilan. Jamaah haji tinggal mentranfer uang pembelian kambing ke bank al Rajhi dan pemotongan hewan dam dilakukan oleh Pemerintah Saudi. Namun KBIH kami memilih untuk membeli dan menyaksikan sendiri pemotongan hewan dam. Di dalam buku manasik haji dan umrah dari Kemenag disebutkan pada halaman 239 bahwa bagi haji Tamatu’ hewan dam boleh disembelih setelah selesai melaksanakan umrah. Jadi, apa yang dipandukan oleh ustad Pembimbing kami saya kira sudah sesuai dgn tuntunan karena kami melakukannya setelah umrah.

Pasar kambing di kota Mekkah

Kambing-kambing dam yang akan disembelih telah dibeli oleh perwakilan KBIH di Mekkah, jamaah tinggal menyaksikan pemotongan saja. Walah, baru saja sampai di pasar kambing ini tercium bau yang khas. Wuihhhh…baunya sangat menyengat, wajib pakai masker. Masuklah kami ke TPH. Kambing-kambing yang akan disembelih terlihat berbaris. Mereka terlihat begitu tenang seakan ikhlas dan pasrah untuk dijadikan hewan qurban. Kelak daging hewan qurban tsb dibagikan ke fakir miskin baik di Arab Saudi maupun ke negara lain sebagai daging beku.

Kambing-kambing yang siap dijual

Tukang jagal yang orang Arab itu melakukan penyembelihan begitu cepat. Setiap nama jamaah haji sebutkan namanya, lalu tidak sampai dua detik untuk menyembelih seekor kambing. Kalau di negara kita untuk menyembelih kambing saat hari raya Idul Adha maka si kambing harus diikat kakinya terlebih dahulu, digulingkan, baru disembelih. Nah, di sini keempat kakinya cukup dipegang, lalu diletakkan di lantai dan cresss…pisau yang sangat tajam begitu cepat menyembelih lehernya.

Berbaris dengan pasrah menuju penyembelihan.

Saya yang sejak dulu tidak tega dan tidak berani melihat ayam dipotong saja, apalagi kambing dan sapi, hanya memalingkan muka ketika kambing dam saya disembelih.

Selepas dari pasar kambing, rombongan jamaah haji selanjutnya mengunjungi padang Arafah dan Mina untuk melihat tempat wukuf dan tenda-tenda tempat mabit. Jadi, istilahnya jmaah haji mengenal medan terlebih dahulu. Padang Arafah tidak lagi gersang, banyak pepohonan yang tumbuh di sana. Kami ditunjukkan tempat wukuf jamaah haji Indonesia.

Di tengah Padang Arafah terdapat sbuah bukit batu yang tidak terlalu tinggi, dan selalu menjadi sasaran jamaah untuk mendakinya meskipun tidak ada sunnahnya. Bukit itu bernama Jabal Rahmah. Jabal Rahmah adalah bukit batu tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah terpisah selama jangka waktu yang sangat lama. FYI, Adam dan Hawa diusir dari surga dan diturunkan ke bumi pada dua tempat berbeda setelah mereka tergoda oleh iblis untuk memakan buah larangan. Mereka bertemu kembali di bukit ini.

Saya berfoto dengan latar belakang Jabal Rahmah

Pemandangan dari atas Jabal Rahmah

Pemerintah Saudi membangun tugu di atas bukit ini. Untuk mendaki bukit ini tidak sulit. Ada tangga batu yang disediakan. Bukitnya tidak terlalu tinggi. Tapi lihatlah apa yang dilakukan beberapa jamaah di atas bukit ini. Mereka sholat dan berdoa menghadap ke arah tugu, padahal seharusnya ke arah kiblat. Aksi vandalisme pun tak luput dilakukan sebagian jamaah. Tulisan grafiti pada batu dan tugu merusak lingkungan Jabal Rahmah. Suasana yang ramai dimanfaatkan pula oleh PKL dan pengemis untuk mencari rezeki.

Tugu di puncak Jabal Rahmah

Aksi vandalisme di Jabal Rahmah

Di mana ada keramaian, dis situ ada PKL, termasuk di Jabal Rahmah sekalipun

Pengemis di Jabal Rahmah

Dari Arafah, perjalanan dilanjutkan menuju Mina. Mina adalah perkampungan tenda. Nanti setelah wukuf di Arafah, jamaah haji melontar jumrah di Mina. Saat kami kunjungi Mina sangat sepi. Hanya tenda-tenda yang tegak membisu. Sesekali kereta LRT yang berwarna melintas dari Mudzdalifah ke Mina. Oh Mina, tunggulah kedatangan kami tanggal 10 Zulhijjah nanti.

Kereta komuter mlintasi Mina

Salah satu situs bersejarah yang patut dikunjungi jamaah haji di Mekkah adalah bukit batu bernama Jabal Nur. Di puncak Jabal Nur inilah terdapat Gua Hira, gua di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk pertama kali, yaitu surat Al-Alaq. Setiap hari Jabal Nur ramai didaki oleh jamaah haji. Mengunjungi Jabal Nur tidak disunnahkan dan bukan bagian dari ibadah haji. Tetapi, mumpung masih berada di Mekkah kapan lagi ke sana, mungkin demikian di dalam pikiran jamaah haji. Kata ustad pembimbing, untuk mendaki jabal Nur ini hingga ke Gua Hira dibutuhkan fisik yang kuat karena bukitnya terjal (kemiringan 60 derajat). Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncaknya. Insya Allah saya sanggup mendaki Jabal Nur.

Dari pemondokan haji kami di Syisyah jarak ke Jabal Nur kira-kira 5 km saja, jadi tidak perlu naik taksi ke sana. Pagi hari setelah sarapan, saya dan beberapa jamaah di KBIH berjalan kaki dari hotel menuju Jabal Nur. Cuaca cukup adem pada pagi hari. Dalam waktu satu jam saja kami sudah dapat melihat Jabal Nur dari dekat. Dari kejauan tampak garis putih berherak-gerak, itulah jamaah haji yang sedang mendaki ke puncaknuya.

Jabal Nur

Kemiringan Jabal Nur adalah 45 sampai 60 derajat. Mendaki Jabal Nur membuat nafas saya ngos-ngosan. Untunglah jalurnya sudah dibuat bertangga batu. Tiap berjalan 5 meter saya berhenti dulu buat istirahat untuk atur pernapasan. Hampir saja saya menyerah ketika sudah sampai 2/3 perjalanan. Tidak kuat. Maklum saya sudah tidak muda lagi, padahal dulu saya cukup rajin mendaki gunung. Tetapi seorang bapak dari Madura berkata kapan lagi ke sini, mumpung sedang haji. Saya jadi bersemangat lagi, masa saya harus menyerah, padahal sduah dua pertiga jalan. Akhirnya dengan menahan haus yang amat sangat (saya hanya membawa satu botol aiar mineral), sampai jua saya ke puncak bukit. Alhamdulillah. Perlu waktu satu jam lebih untuk sampai ke puncak bukit Jabal Nur. Di puncak itulah terdapat Gua Hira, tempat pertama kali wahyu diturunkan dengan perantaraan Malaikat Jibril (Surat Al-alaq ayat 1-5).

Jalur yang masih landai. Tiap berjalan lima menit saya berhenti sejenak.

Terbayang ya, bagaimana dulu Siti Khadijah naik turun bukit ini mengantarkan makanan setiap hari kepada suaminya, Muhammad, yang mengasingkan diri ke Gua Hira. Dulu tentu tidak ada jalur tangga batu seperti sekarang.

Untuk mencapai lokasi Gua Hira, kita harus melewati celah sempit yang diapit oleh batu-batu besar. Menurut perkiraan saya hanay orang yang berbadan kurus yang bisa melewatinya. Namun ajaibnya, orang-orang India dan Turi yang berbadan gemuk pun bisa melintir masuk ke dalam celah tersebut.

Celah batu sempit menuju lokasi Gua Hira

Setelah berjuang melewati celah sempit, ahirnya sampailah saya di depan pintu Gua Hira. Masya Allah, banyak sekali orang antri untuk masuk ke dala,nya. Gua Hira itu ukurannya kecil, untuk masuk ke dalamnya orang harus merunduk. Yang menyedihkan adalah aksi vandalisme (coret-coretan grafiti) di bukit ini, termasuk di pintu gua Hira. Sampah botol plastik bertebaran sepanjang jalur pendakian. Pengunjung tidak mengamalkan hadis bahwa kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Surprise ternyata banyak babon (monyet tak berekor) di dekat gua Hira. Kalau tidak hati-hati mereka merebut tas kita, dikira isinya makanan.

Massa menyemut untuk masuk ke dalam Gua Hira

Pintu Gua Hira. Tulisan grafiti pada batu merusak situs sejarah.

Orang-orang salin dorong ingin masuk ke dalam Gu Hira. Ada yang terjepit dan berteriak kesakitan. Saya teringat perjuangan untuk mencium Hajar Aswad, kira-kira perjuangannya sama dengan rebutan untuk masuk ke Gua Hira ini. Saya mengurungkan niat untuk masuk ke dalam Gua Hirta. Saya merasa sudah cukup puas bisa sampai ke lokasi Gua Hira. Terbayang oleh saya dulu Rasulullah berkhalwat di gua ini. Kaum kafir Quraisy melewati gua ini. Namun mereka tidak yakin ada orang di dalamnya, pasalnya mulut gua tertutup oleh jaring laba-laba. Seekor burung pun sedang mengerami telur di mulut gua, mana mungkinlah ada orang yang masuk ke dalamnya. Demikianlah pertolongan Allah SWT sehingga Rasulullah selamat dari kejaran kaum Quraisy. Di Gua inilah Malaikat Jibril datang menemui Nabi Muhammad dan menyampiakn wahyu pertama ari Allah SWT.

Saya melihat ke sekeliling. Pemandangan dari atas Jabal Nur luar biasa. Tampaklah dari kejauhan Menara Zamzam, kota Mekah, dan pemukiman penduduk. Semua bangunan di Mekah setipe yaitu berbentuk kotak dan tanpa atap miring (genteng atau seng), karena jarang turun hujan sehingga tidak perlu atap dan talang air.

Pemandangan Kota Mekkah dari puncak Jabal Nur.

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Pemandangan dari puncak Jabal Nur

Semua pemandangan terlihat tandus. Di tengahnya berdiri bukit2 batu yang gersang. Tidak ada satupun pepohonan di bukit2 itu. Bagaimana mau tumbuh pohon karena semua bukit adalah batu, tidak ada tanahnya. Justru di daerah tandus yang keras inilah Tuhan mengutus Nabi Muhammad ke tengah bangsa Quraisy yang jahiliyah. (BERSAMBUNG)

Pos ini dipublikasikan di Agama, Cerita perjalanan. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Catatan Perjalanan Haji 2018 (Bagian 8): Jalan-jalan di Seputaran Kota Mekkah

  1. konon katanya tanah tandus itu mulai berangsur menyubur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.