Antri Membeli Sate Jando di Jalan Cimandiri

Hari masih pukul 9 pagi ketika saya melewati Jalan Cimandiri di belakang Gedung Sate Bandung, tetapi belasan orang sudah antre di depan jongko pedagang sate di seberang gedung Program Magister Ekonomi UNPAD. Mereka antri untuk mendapatkan seporsi sate yang terkenal dengan nama sate jando. Nanti saya ceritakan apa arti “jando” itu. Saya yang setiap hari lewat di jalan itu ketika menuju kampus ITB cukup penasaran apa yang membuat orang begitu rela antri hanya untuk mendapatkan sate.

Saya pun  ikut antri untuk mencoba satenya itu. Seorang ibu dibantu beberapa “karyawannya” sedang melayani para pembeli yang antri. Ia menggelar dagangan sate di atas trotoar. Sate dibakar langsung di sana dan pembeli makan di situ juga, duduk di atas kursi plastik atau sambil jongkok di dekat selokan yang membatasi trotoar dengan pagar gedung. Pembeli sate banyak juga orang yang membawa mobil dan sengaja parkir di situ hanya untuk makan sate jando.

Ada tiga macam sate yang dijual Bu Sri Rezeki, demikian namanya. Sate ayam, sate sapi, dan sate jando. Nama yang terakhir ini terdengar aneh, tetapi istilah jando adalah sebutan pembeli untuk sate dari gajih yang diambil dari lemak payudara sapi. Seporsi sate dihidangkan di dalam pincuk daun pisang, ditambah lontong, dan disiram bumbu kuah kacang. Seporsi sate ayam harganya Rp22.000, sedangkan sate sapi atau sate jando Rp24.000.

Rasanya? Lumayan enak. Saya nilai 8 lah. Soal rasa memang relatif bagi setiap orang. Bumbunya gurih, bisa ditambah sambal supaya lebih pedas. Sate ini menjadi terkenal karena cerita dari mulut ke mulut lalu dari medsos ke medsos. Nama “jando” memang unik dan memancing penasaran banyak orang, termasuk wisatawan yang ke Bandung. Begitu terkenalnya sate jando ini sehingga ia sudah beberapa kali dimuat di media massa seperti di dalam artikel ini, ini, dan ini, serta beberapa situs kuliner.

Setiap hari sate jando hadir di trotoar Jalan Cimandiri. Keberadaannya menimbulkan simbiosa mutualisme dengan pedagang kaki lima lain di sebelahnya. Pedagang lain yang ikut mangkal di sana adalah pedagang minuman, sop buah, dan baso tahu. Tukang parkir pun menikmati kehadiran pembeli yang menepi memarkir motor dan mobil mereka.

Namun bukan berarti pedagang sate jando ini selalu aman berjualan di sana. Karena mereka berjualan di atas trotoar jalan yang dianggap mengganggu hak pejalan kaki, maka kehadiran Satpol PP yang melakukan razia adalah persoalan klasik yang selalu dihadapi pedagang kaki lima.

Suatu kali saya hendak membeli sate jando, tiba-tiba datanglah Satpol PP. Buyar deh rencana saya membeli sate.  Namun untungnya petugas Satpol PP nya masih “baik”, dagangan Bu Sri Rezeki tidak diangkut, hanya diambil KTP saja lalu dagangannya difoto. Entah ada deal atau apa :-). Hanya sebentar saja, dan bussiness as usual. Kembali seperti biasa dan pembeli pun antri kembali.

Petugas Satpol PP merazia pedagang sate jando

Begitulah sejumput keramaian di sebuah ruas jalan Cimandiri. Jalan Cimandiri yang rindang di belakang Gedung Sate memang menjadi tujuan orang yang hendak mencoba mencicipi sate jando yang terkenal itu.

Jalan Cimandiri

Pos ini dipublikasikan di Makanan enak, Seputar Bandung. Tandai permalink.

2 Balasan ke Antri Membeli Sate Jando di Jalan Cimandiri

  1. layangseta berkata:

    Alamak… panjang banget antriannya. Untuk makan sate aja.

  2. wildan husni berkata:

    Woww keren mas artikel Nya sy suka….eh mampir juga ya ke situs ku….salam kenal kpn2 kita ngopi bareng…hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.