Mempermasalahkan Istilah “Kafir”

Bahtsul Masail hasil Konferensi Alim Ulama dan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (NU) di Banjar, Jawa Barat minggu lalu merekomendasikan untuk mengganti istilah “kafir” bagi wargawarga non-muslim.  Sebagai gantinya, NU lebih memilih untuk mengajukan istilah “Muwathinun” yang berarti warga negara sebagai gantinya. Menurut kyai di NU, istilah “kafir” dianggap mengandung unsur kekerasan teologis. Dikutip dari sini,  NU dan Usul Penghapusan Label Kafir untuk Nonmuslim, “Abdul Moqsith Ghazali yang jadi pimpinan sidang Komisi Bahtsul Masail Maudluiyah mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia.”

“Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Alquran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.”

Saya agak heran dengan rekomendasi NU ini. Bukan saya anti, tetapi sebenarnya di mana masalahnya? Dalam konteks muamalah, atau hubungan sesama manusia, orang Islam tidak pernah terbiasa dan tidak pernah dibiasakan untuk menyebut kafir kepada non-Muslim di ruang publik.  Bangsa kita juga mempunyai adab dan sopan santun, mereka tidak pernah memanggil saudaranya yang berbeda iman dengan sebutan “hai, kafir”, “hai para kafirin”, dan sebagainya.  Tidak pernah, saya rasa. Sejak dulu sampai sekarang. Lalu masalahnya apa?

Sebutan kafir hanya kita dengar dalam ceramah-ceramah agama pada konteks teologis, untuk membedakan orang yang beriman kepada Allah SWT dengan orang yang kufur nikmat, yang disebut kafir. Di dalam surat Al-Kafirun Allah sudah dengan tegas menyebut dengan kalimat “ya ayyuhal kaafirun”.  Jadi, bukan dalam konteks muamalah seperti yang disebutkan oleh para kyai.

Setahu saya, orang-orang non-muslim pun tidak keberatan mereka disebut kafir (dalam konteks teologis), karena mereka tahu sebutan kafir itu dalam sudut pandang Islam, bukan dalam pemahaman mereka (Baca: Soal Sebutan Kafir Hilang, Walubi: Urusan Mereka Panggil Kami Apa). Dalam sudut pandang agama non-Islam, orang Islam pun tentu dianggap “kafir” dari sudut pandang ajaran mereka, mungkin dengan istilah yang tidak sama tetapi maksudnya kurang lebih sama. Misalnya, sebagai contoh saja, CMIIW (mohon maaf kalau saya  salah memahami), menolak mengimani Kristus sebagai juru selamat tentu dianggap “kafir” dalam pandangan Kristen, atau istilahnya “domba-domba yang tersesat”. Biasa saja bagi orang Islam disebut demikian, dan biasa juga bagi orang non-muslim jika dianggap kafir dalam pemahaman orang Islam.

Saya sependapat dengan penjelasan Prof. Din Syamsudin tentang istilah kafir. Dikutip dari sini, “Maka dari sudut keyakinan Islam, orang kafir adalah penganut keyakinan selain atau di luar Islam. Tidak ada maksud “kekerasan teologis” di dalam istilah kafir. Menurut Din, sesungguhnya istilah tentang “orang luar” ini biasa di dalam setiap agama.

Orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut dianggap sebagai orang luar (outsiders) atau orang lain (the others). Masalah baru muncul ketika istilah kafir dipakai dengan nada labelisasi-negatif atau pejoratif yang bertujuan menghina atau menista. Kata kafir itu sendiri tidak mengandung masalah di dalam dirinya.

“Semua agama, seperti Yahudi, Kristen, Hindu, atau Buddha, memiliki istilah atau konsep ttg ‘orang luar’ dan ‘orang lain’ ini, dan itu termaktub dalam Kitab Suci. Istilah semacam ini bersifat datar saja dan tidak menimbulkan keberatan dari pihak lain, baik karena memakluminya maupun karena memang mereka merasa bukan ‘orang dalam’ lingkaran keyakinan tersebut,” papar Din.

Baiklah. Ilmu saya tentu tidak sedalam ilmu para kyai di NU. Pemahaman saya yang sederhana ini tentang kafir memang seperti demikian, saya rasa banyak orang Islam pun sama pemahaman dengan saya. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada masalah dengan istilah kafir, lalu mengapa tiba-tiba menjadi masalah saat ini? Saya tidak mengerti.

Pos ini dipublikasikan di Agama, Indonesiaku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.