Kejutan PKS dan PSI pada Pemilu 2019

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 membawa berbagai kejutan. Beberapa partai naik suaranya (Nasdem, PKS, Gerindra), beberapa partai lagi turun (PPP, Demokrat), demikian menurut hasil hitung cepat (quick count). Satu kejutan yang masih menjadi perbincangan pengamat politik adalah naiknya perolehan suara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan tidak lolosnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ke Senayan. Padahal PKS diprediksi oleh lembaga-lembaga survey tidak akan lolos ambang batas 4% akibat konflik internal dan berbagai kasus miring yang mendera kadernya. Sebaliknya, PSI dianggap oleh banyak orang sebagai partai harapan baru karena berisi anak-anak muda millenial sehingga punya kans besar untuk meraih suara dari kalangan anak muda.

Kenyataannya tidaklah demikian. PKS malah melejit raihan suaranya, dari semula sekitar 6% pada Pemilu 2014 menjadi sekitar 8% hingga 9% pada Pemilu tahun ini. Sebaliknya PSI malah hanya mendapat sekitar 2% suara nasional sehingga sangat sulit untuk lolos ke DPR.

Apa yang membuat kejutan ini terjadi? Saya akan membuat analisis amatiran di bawah ini.

PKS dan PSI dapat dianggap dua partai yang berbeda ideologi dan arah politik. PKS adalah partai Islam, tergabung ke dalam koalisi Capres-cawapres Prabowo-Sandi. PSI adalah partai nasionalis dan tergabung ke dalam koalisi Jokowi-Amin. Selama kampanye Pemilu sangat terihat kedua partai ini berbeda secara diametral. PSI sangat sering menyerang PKS terkait ideologinya itu. Bahkan dalam berbagai kesempatan petinggi partainya pernah mengatakan “haram” berkoalisi dengan PKS baik di legislatif maupun di Pilkada kelak. Para petinggi PKS menanggapi serangan itu dengan kalem saja, mereka menyatakan buktikan dulu PSI masuk ke Senayan baru kemudian bermanuver.

Sebenarnya publik menaruh harapan kepada PSI sebagai pendatang baru. Ada harapan partai ini membawa angin segar di tengah kejenuhan terhadap partai-partai lama yang sering dililit kasus-kasus korupsi dan asusila. PSI diisi oleh anak-anak muda. Para calegnya bersih dari kasus korupsi. Anak-anak muda generasi milenial adalah kaum terpelajar, rasional, melek internet, dan aktif di media sosial. Merekalah pangsa potensial pemilih PSI.

Namun sayang seribu sayang, partai ini membuat posisitioning yang menimbulkan resistensi dari mayoritas muslim di tanah air. Dalam berbagai kesempatan partai ini mewacanakan akan melarang poligami di Indonesia dengan alasan poligami lebih sering merugikan kau  perempuan. Harapannyaa kaum perempuan akan simpati dengan wacana ini sehingga akan memilih PSI. Namun, partai ini lupa jika mereka hidup di Indonesia yang masih menjunjung tinggi ajaran agama. Publik pun mengaitkan larangan poligami dengan ajaran Islam. Di dalam agama Islam poligami itu dibolehkan tetapi dengan syarat-syarat yang ketat. Meskipun tidak semua laki-laki muslim setuju poligami, tetapi mewacanakan penentangan terhadap poligami dianggap menentang syariat Islam. Hal ini dipandang sebagai persoalan serius karena menyentuh ajaran agama yang dipeluk mayoritas rakyat Indonesia. Sudah dapat diduga publik pun mulai menentang partai baru ini.

Belum berhenti dengan isu poligami, PSI terus membuat  blunder dengan  mewacanakans isu sensitif lainnya seperti menolak perda-perda yang mereka sebut Perda Syariah. Perda syariah dituding oleh PSI melahirkan diskriminasi terhadap kelompok minoritas. Meskipun soal diskriminasi ini masih dapat diperdebatkan, namun Perda-Perda yang dinilai berbau syariah itu sebenarnya adalah kearifan lokal di masyarakat setempat yang dijadikan undang-undang. Misalnya Perda yang mengatur penutupan rumah makan selama siang hari pada bulan puasa, Perda yang mengatur penggunaan busana muslimah bagi perempuan muslim di Aceh, dan sebagainya. Hal ini mirip seperti Perda di Bali yang melarang keluar rumah  selama Hari Raya Nyepi.

Namun, sikap penolakan PSI terhadap Perda Syariah itu diartikan oleh publik yang mayoritas muslim sebagai penolakan terhadap syariat Islam. PSI dipersepsikan sebagai partai anti-syariah, partai anti Islam, dan sebagainya. Cap sebagai partai anti-syariah semakin bertambah ketika publik mengaitkan partai ini dengan pendukung Ahok yang dianggap penista agama, karena memang para pendiri PSI dulunya adalah komunitas Teman Ahok. Jika positioning PSI terus seperti itu, maka publik akan selalu mengingatnya sebagai partai anti-syariah.

Positioning yang salah tempat dan waktu itu akibatnya fatal. PSI mendapat penolakan oleh kaum mayoritas. Menariknya lagi, kaum minoritas pun tidak banyak yang memilih PSI, sebab mereka telah melabuhkan pilihannya kepada partai nasionalis lain seperti PDIP dan Nasdem. Maka, wajar saja raihan suara PSI pada Pemilu 2019 jebok. Hanya di kota-kota besar suaranya lumayan seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Di kota-kota ini PSI dipilih oleh kelompok terpelajar seperti mahasiswa. Di kota Bandung suara PSI cukup lumayan di daerah kos mahasiswa seperti di kecamatan Coblong (Dago).

Bagaimana dengan PKS? Menurut saya, PKS  mendapat “rezeki” peningkatan suara karena lima faktor. Faktor pertama adalah PKS tidak lagi mengangkat isu-isu keislaman dalam kampanyenya. Tetapi mereka “menjual” isu-isu populis seperti SIM seumur hidup dan penghapusan pajak motor. Isu-isu ini meskipun sangat sulit direalisasikan kelak, namun kalangan menengah ke bawah yang menempati porsi terbesar pemilih tertarik dengan isu ini. Motor identik dengan rakyat kecil. Kader-kader PKS yang terkenal militan berhasil mensosialisasikan isu-isu ini ke tengah masyarakt melalui baliho-balihonya yang hamoir semuanya bertuliskan SIM seumur hidup dan pajak motor dihapuskan.

Faktor kedua adalah dampak isu-isu besar nasional yang muncul selama dan pasca Pilkada DKI, yang dianggap tidak memberi keadilan bagi ummat Islam. Aksi-aksi massa spektakuler di Monas, yang dikenal sebagai aksi 212 dan demo berjilid-jilid sesudahnya mempengaruhi persepsi umat Islam terhadap pemerintah. Isu-isu pun berkembang di tengah masyarakat seperti Pemerintah  mengkriminalisasi ulama,  menangkap para tokoh dan aktivis Islam, dan lain-lain.

Sejak aksi 212 hingga sekarang bermunculan tokoh-tokoh medsos yang sering mengeluarkan postingan kontroversial dan melecehkan rasa keberagamaan umat Islam, antara lain Ade Armando, Abu Janda, Deny Siregar, dll.  Hal itu ditambah lagi dengan kasus-kasus seperti pembakaran bendera tauhid  serta kasus rmasn persekusi ustad oleh ormas tertentu. Muara dari kekecewaan itu adalah partai-partai pendukung Pemerintah pun dijauhi. Pemilih muslim yang kecewa dengan Pemerintahan Jokowi kemudian melihat PKS adalah partai yang paling dekat dengan sisi emosional mereka. Memang ada partai-partai Islam lain seperti PPP, PKB, dan PBB, namun pemilih muslim ini melihat ketiga partai tersebut bagian dari koalisi Jokowi sehingga mereka tidak mau memilihnya. PKS-lah yang mendapat berkah dari kekecewaan pemilih muslim ini.

Faktor ketiga yang meningkatkan suara PKS adalah kasus hukum yang menimpa Ketum PPP, Rommaharmuzzy alias Rommi. Rommy ditangkap oleh KPK karena diduga menerima suap pengaturan jabatan di Kemenag. Kasus Rommy ibarat tsunami politik bagi PPP karena terjadi sebulan sebelum Pemilu. Sebagian pemilih PPP yang kecewa dengan aib yang mencoreng nama partainya mengalihkan dukungannya kepada partai Islam lain seperti PKB, PAN, dan PKS. Jadi, PKS ikut mendapat limpahan suara dari pemilih PPP yang kecewa itu.

Faktor keempat adalah limpahan suara dari pemilih loyal PBB. Semula ada harapan PBB yang dinakhodai oleh Yusril sebagai harapan baru umat Islam. Namun, tindakan Yusril yang membawa PBB mendukung capres Jokowi berseberangan dengan suara akar rumput kader partainya yang sebagian besar mendukung Prabowo. Pertentangan antara elit PBB dengan kaum akar rumput menghasilkan penolakan terhadap PBB. Akar rumput PBB yang kecewa kemudian mengalihkan suaranya ke partai Islam pendukung Prabowo, yaitu PKS dan PAN.

Faktor kelima adalah video Ustad Abdul Somad (UAS) yang viral  yang  viral yang menyatakan hanya ada duapartai yang masih konsisten menolak legalisasi miras dan LGBT, yaitu PKS dan PAN. Seperti diketahui, Abdul Somad adalah ustad paling populer saat ini.  UAS mempunyai jutaan jamaah pengajian di seluruh tanah air. Kata-katanya selalu didengar orang. Peredaran video yang viral itu ikut andil menaikkan suara PKS dan PAN. Menurut hasil hitung cepat malah PKS adalah peraih suara terbanyak di propinsi Riau.

Begitulah analisis pengamat amatir tentang kejutan kedua partai ini, PKS dan PSI. Anda boleh setuju atau tidak. Namanya juga pengamat amatir. 🙂

Pos ini dipublikasikan di Indonesiaku. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kejutan PKS dan PSI pada Pemilu 2019

  1. Blog Geografi berkata:

    mgkn masyarakat sdh byk yg lupa sm korupsi daging sapi presiden pks 😁

    • Masyarakat juga lupa kalau partai terkorup dengan kader yang paling banyak ditangkap dari partai Golkar, di posisi runner up ada PDIP yang bahkan Februari 2019 lalu salah satu kadernya memecahkan rekor tertinggi nilai korupsi di Indonesia. 😀

  2. Mardani berkata:

    Jangan lupa pks kader banci mardance

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.